(Renungan) Warisan Kasih yang Dahsyat
Warisan Kasih yang Dahsyat
(Dika Alberto)
(Dika Alberto)
Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya, "Ibu, inilah anakmu!’"Kemudian kata-Nya kepada murid-Nya, "Inilah ibumu!" Sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.
(Yoh. 19:26-27)
Kalender Liturgi Senin, 25 Mei 2026
Bacaan Pertama: Kej. 3:9-15.20
Mazmur Tanggapan: Mzm. 87:1-2.3.5.6-7
Bacaan Injil: Yoh. 19:25-34
Mazmur Tanggapan: Mzm. 87:1-2.3.5.6-7
Bacaan Injil: Yoh. 19:25-34
Pesan terakhir dari seseorang sebelum meninggal, biasanya sangat personal, karena itu menjadi kenangan yang tak lekang oleh waktu, selalu diingat, sangat dijunjung tinggi.
Saya mempunyai sahabat sejati dari luar negeri. Saat dia mengalami kecelakaan pun, saya yang merawat lukanya hingga sembuh. Bahkan saya tidak keberatan dia membuka dan membaca jurnal harian saya.
Suatu hari dia menceritakan mimpinya. Dia menjemput saya di sebuah stasiun kereta api di negaranya. Saya tampak lebih tua dan kurus. Entah mengapa seperti ada sesuatu saat dia menceritakan mimpinya itu.
Sesampai di rumah setelah mengantarnya ke bandara, saya terharu mendapati tulisan tangannya di lembar buku jurnal : “You are my angel. Love forever, everywhere, anywhere.”
Beberapa waktu kemudian, sahabat saya meninggal. Saya tidak pernah melihatnya lagi, bahkan dalam mimpi. Mungkin kalau sudah waktunya nanti, lebih tua dan kurus, saya akan melihat dia menjemput di stasiun.
Beberapa waktu kemudian, sahabat saya meninggal. Saya tidak pernah melihatnya lagi, bahkan dalam mimpi. Mungkin kalau sudah waktunya nanti, lebih tua dan kurus, saya akan melihat dia menjemput di stasiun.
Bagaimana dengan Yesus yang sedari awal tahu, bahwa Dia harus menderita sengsara, wafat di kayu salib dan bangkit untuk menyelamatkan manusia? Hidup-Nya benar-benar seturut kehendak Bapa, menggenapi karya keselamatan Allah. Namun, selama masa hidup bersama Yesus sebelum wafat dan bangkit, murid-murid tidak sepenuhnya memahami apa yang disampaikan-Nya.
Pesan terakhir-Nya sebelum wafat pun sangat personal dan begitu dahsyat, menggambarkan betapa besar kasih-Nya kepada orang-orang terdekat-Nya, dan kepada seluruh manusia.
“Ibu, inilah anakmu!”; “Inilah ibumu!”
Kasih Maria kepada Yesus begitu luar biasa, diwariskan-Nya kepada murid yang dikasihi-Nya, sekaligus memastikan bahwa murid-Nya pun menerima Maria sebagai ibunya. Suatu ikatan kasih yang tidak terputus dan tetap ada. Tanpa ragu, tanpa menunggu, murid-Nya pun segera melaksanakannya.
“Sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.” Betapa beruntungnya sebagai pengikut Kristus, kita menerima warisan kasih sedahsyat itu. Sudahkah kita menerima warisan itu untuk tinggal dalam diri kita? Rumah kita? Sudahkah kita membalas dan memberikan ikatan kasih seperti itu kepada sesama?
Doa:
Ya Yesus, Engkau mewariskan ikatan kasih dengan bunda-Mu kepada kami semua. Sayangnya tidak semua dari kami sadar menyambut, memahami dan membalas dengan kasih yang sama. Malahan seringkali kami sibuk mencari, mengemis dari orang-orang yang tidak memahami arti kasih itu, bahkan bagi diri mereka sendiri. Pertobatkanlah kami, agar kami benar- benar sadar menerima dan meneruskan warisan kasih-Mu yang dahsyat. Amin.
Ya Yesus, Engkau mewariskan ikatan kasih dengan bunda-Mu kepada kami semua. Sayangnya tidak semua dari kami sadar menyambut, memahami dan membalas dengan kasih yang sama. Malahan seringkali kami sibuk mencari, mengemis dari orang-orang yang tidak memahami arti kasih itu, bahkan bagi diri mereka sendiri. Pertobatkanlah kami, agar kami benar- benar sadar menerima dan meneruskan warisan kasih-Mu yang dahsyat. Amin.

Komentar
Posting Komentar