Postingan

(Renungan) Sekolah Cinta Kasih

Gambar
Sekolah Cinta Kasih (Wiwi Setiawati Dermawan) “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yoh. 3:16) Kalender Liturgi Senin, 14September 2026 Pesta Salib Suci Bacaan Pertama: Bil. 21:4-9 Mazmur Tanggapan: Mzm. 78:1-2.34-35.36-37.38 Bacaan Injil: Yoh. 3: 13-17 Nikodemus, seorang Farisi dan pemimpin agama Yahudi, pribadi yang memiliki pengetahuan luas. Ia telah mempelajari berbagai hal dan mencoba memahami misteri keselamatan yang dinyatakan melalui salib. Demikian juga Santo Maksimilianus Kolbe, yang menempuh pendidikan filsafat, teologi, matematika, fisika, hingga astrofisika. Pada akhirnya, Santo Kolbe memahami misteri itu dan menuliskan dengan singkat kata yang penuh makna, 'salib adalah sekolah cinta kasih'. Nikodemus merasa sulit memahami misteri salib, yang hanya dapat dipahami oleh mereka yang memiliki kasih yang begit...

(Video) Sekolah Cinta Kasih

Gambar
  Klik "BACA SELENGKAPNYA" untuk melihat video ini.

(Renungan) Mengampuni, Maukah?

Gambar
Mengampuni, Maukah? (Marcellina F. Hasnah) Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?" (Mat.18:21) Kalender Liturgi Minggu, 13 September 2026 Bacaan Pertama: Sir. 27:30-28:9 Mazmur Tanggapan: Mzm.103:1-2.3-4.9-10.11-12 Bacaan Injil: Mat.18:21-35 Petrus bertanya kepada Yesus apakah ia harus mengampuni saudaranya sampai tujuh kali. Yesus menjawab, "Sampai tujuh puluh kali tujuh kali." Jawaban ini tidak dimaksudkan sebagai hitungan, melainkan penegasan bahwa pengampunan tidak mengenal batas. Pada masa itu, para rabi Yahudi mengajarkan batas mengampuni kesalahan seseorang maksimal tiga kali. Petrus merasa bahwa mengampuni sampai tujuh kali adalah angka yang sangat dermawan, namun Yesus merombak total batasan manusiawi tersebut dengan konsep pengampunan tanpa batas dari Allah.  Manusia diumpamakan sebagai hamba dengan utang dosa yang tak terbayar kepad...

(Video) Mengampuni, Maukah?

Gambar
  Klik "BACA SELENGKAPNYA" untuk melihat video ini.

(Renungan) Kita Bisa Menjadi Pohon yang Baik

Gambar
Kita Bisa Menjadi Pohon yang Baik (Agung Tri Wahyunto) “Tidak ada pohon yang baik yang menghasilkan buah yang tidak baik, dan juga tidak ada pohon yang tidak baik yang menghasilkan buah yang baik.” (Luk. 6:43) Kalender Liturgi Sabtu, 12 September 2026 Bacaan Pertama: 1Kor. 10:14-22a Mazmur Tanggapan:  Mzm. 116:12-13.17-18 Bacaan Injil: Luk. 6:43-49 Melalui cerita perumpamaan pohon dan buahnya, Tuhan memberi kebebasan kepada kita untuk menjadi jenis pohon apa, yang akan ditunjukkan dari buahnya. Buah itu akan menunjukkan apakah pikiran, perkataan, dan perbuatan kita sungguh selaras dengan kehendak Tuhan. Dalam Injil Mat. 28:19-20 dan Kis. 1:8, dikatakan bahwa kita telah dibaptis dan diajak untuk menjadi murid dan saksi-Nya. Dengan menjadi murid-Nya kita diharapkan mengikuti hidup seperti yang diajarkan oleh Kristus, melalui kesaksian kita akan karya Tuhan dalam hidup dari buah-buah pohon kita. Pohon yang baik akan menghasilkan buah yang baik selaras dengan kehendak Tuhan, demikian p...

(Video) Kita Bisa Menjadi Pohon yang Baik

Gambar
  Klik "BACA SELENGKAPNYA" untuk melihat video ini.

(Renungan) Bercermin Sajalah

Gambar
Bercermin Sajalah (Dika Alberto) “Mengapa engkau melihat serpihan kayu di dalam mata saudaramu,  sedangkan balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui?” (Luk. 6:41) Kalender Liturgi Jumat, 11 September 2026 Bacaan Pertama: 1Kor. 9:16-19, 22b-27 Mazmur Tanggapan: Mzm. 84:3.4.5-6.12 Bacaan Injil: Luk. 6:39-42 Bacaan Injil hari ini, Lukas bab 6:39-42 mengungkap realita kehidupan manusia, yakni dalam hal menghakimi. Hal yang sering kali terjadi, sehingga nasihat agar jangan menghakimi selalu relevan untuk disampaikan. Saat mengikuti Misa Jumat pertama, seorang pria muda tampak terburu-buru memasuki gereja dengan membawa 'gerendelan' yang super ribet. Tas kerja terselempang di pundak, tangan kanan kiri menenteng beberapa tas belanjaan yang tampak penuh. Dia mengambil tempat duduk tepat di deretan sebelah kiri saya, berbeda lajur. Setelah duduk, wajahnya tampak lega. Sejenak saya tersenyum. Pria itu mengingatkan pada diri sendiri. Saya sering kali harus membawa 'gerendelan...