(Renungan) Bertekun dalam Iman
Bertekun dalam Iman
(Johanna Kemal)
(Johanna Kemal)
Sebab itu kamu harus bertekun dalam iman, tetap teguh dan tidak berguncang, dan jangan mau digeser dari pengharapan Injil, yang telah kamu dengar dan yang telah dikabarkan di seluruh alam di bawah langit, dan yang aku ini, Paulus, telah menjadi pelayannya.
(1 Kol. 1 : 23)
Kalender Liturgi Sabtu 9 September 2023
Bacaan Pertama : 1 Kol. 1 : 21-23
Mazmur Tanggapan : Mzm. 54 : 3-4, 6, 8
Bacaan Injil : Luk. 6 : 1-5
Bacaan Pertama : 1 Kol. 1 : 21-23
Mazmur Tanggapan : Mzm. 54 : 3-4, 6, 8
Bacaan Injil : Luk. 6 : 1-5
Kisah tentang Paulus yang menulis surat kepada jemaat di Kolose ini menarik. Paulus ingin agar mereka tetap bertekun dalam iman, tetap teguh dan tidak goncang dari pengharapan Injil Yesus Kristus. Mengapa? Saat itu jemaat Kristen di Kolose terancam bahaya filsafat kafir, tahayul dan aliran berhala. Paulus memperoleh informasi ini dari Epafras, seorang penginjil yang lebih dahulu mewartakan Kristus di Kolose. Epafras menunjukkan kerendahan hatinya. Meskipun dia lebih dahulu, namun ia tidak menjadi jumawa. Ia merasa perlu datang meminta nasehat kepada Paulus. Mengapa demikian? Karena ia prihatin dan mengasihi jemaat Kolose. Epafras bukan hanya meminta nasehat Paulus, namun juga berdoa bagi jemaat (bdk. Kol 4:12). Karya dan doa. Sering itu kita dengar, namun mungkin belum kita lakukan dengan seimbang.
Ada seorang teman yang telah delapan tahun menjadi penopang keluarganya, karena suaminya sakit dan harus menjalani cuci darah dua kali seminggu. Hidup mereka penuh perjuangan setiap hari, karena ekonomi dan suami yang sakit. Minggu lalu saya menerima kabar bahwa suaminya dirawat di rumah sakit karena lemas dan tensinya rendah. Bahkan pihak rumah sakit menyarankan untuk dirawat di ICU. Ketika mengunjungi mereka, kami berdoa bersama. Selesai berdoa sang suami malah minta ijin untuk mendoakan kami. Saya melihat sang suami begitu teguh dalam iman dan pengharapan. Istrinya mengatakan bahwa dia percaya kesusahan sehari cukuplah untuk sehari. Dia tidak berani memikirkan hari esok. Dia hanya menghadapi hari ini dengan iman dan pengharapan kepada Tuhan.
Mukjizat terjadi berkat iman suami istri ini, serta kemurahan dan kebaikan Tuhan. Doa-doa mereka dikabulkan. Dua hari kemudian, sang suami boleh pulang setelah menjalani cuci darah. Tekanan darahnya yang semula 55/36 menjadi normal 130/80. Mukjizat Tuhan nyata bagi orang percaya.
Bagaimana dengan anda dan saya? Dalam menghadapi hal-hal yang menakutkan, membuat kuatir, maukah kita dengan rendah hati datang kepada Tuhan, tetap bertekun dan percaya kepada-Nya?
Doa :
Tuhan Yang Mahabaik. Berilah kami rahmat kerendahan hati untuk selalu bertekun dalam iman, percaya kepada-Mu dan berharap hanya kepada-Mu. Amin.
Komentar
Posting Komentar