(Renungan) Kerendahan Hati

Kerendahan Hati 
(Johanna Kemal) 


Sebab aku tidak akan berani berkata-kata tentang sesuatu yang lain, kecuali tentang apa yang telah dikerjakan Kristus olehku, yaitu untuk memimpin bangsa-bangsa lain kepada ketaatan, oleh perkataan dan perbuatan 
(Rom. 15 : 18)


Kalender Liturgi Jumat, 10 November 2023
PW. Santo Leo Agung, Paus dan Pujangga Gereja
Bacaan Pertama : Rom. 15 : 14-21
Mazmur Tanggapan : Mzm. 98 : 1, 2-3ab, 3cd-4
Bacaan Injil : Luk. 16 : 1-8


Paulus mengetahui bahwa jemaat di Roma adalah kaum intelektual, orang-orang berpendidikan. Maka, Paulus harus hati-hati dalam menasehati mereka. Meski Paulus sangat menguasai hukum Taurat dan adat istiadat Yahudi, juga telah banyak melakukan mukjizat seperti menyembuhkan orang lumpuh di Listra, membangkitkan seorang pemuda bernama Euthikus di Troas, maupun menyembuhkan orang sakit di Efesus. Namun dia tidak ingin memperlihatkan kepada mereka tentang kelebihannya sedikit pun. Dia merendahkan diri, menyebut dirinya sebagai pelayan Kristus Yesus. Bahwa Kristuslah yang telah mengerjakan semuanya itu melalui dia. 

Hal serupa juga dilakukan oleh Santo Leo Agung, semasa hidupnya. Meskipun dia memiliki otoritas sebagai Paus, dia menyebut dirinya sebagai “hamba Allah”. Ia melayani umat dengan penuh kerendahan hati. Dia hidup dalam kesederhanaan dan sering membantu orang-orang miskin. 

Tokoh lain yang juga menunjukkan kerendahan hati adalah Paus Fransiskus. Dia menyebut dirinya servus servorum Dei, hamba dari hamba Tuhan. Sebagai Paus sebenarnya ia berhak untuk tinggal di istana Apostolik, namun dia memilih untuk tinggal di rumah biasa yaitu Casa Santa Marta. 

Paus juga tidak tertarik terhadap kemewahan dan simbol kemegahan gereja. Dia lebih mementingkan kesederhanaan dan melayani orang-orang miskin. Salah satu ucapan Paus Fransiskus yang mencerminkan kerendahan hatinya: “Siapa pun yang merasa berkuasa atau berharga, harus menjadi hamba semua orang.”

Jika ada jabatan di Gereja yang kita pangku, maupun banyak orang yang merasakan pelayanan kita, maukah kita semakin rendah hati seperti Paulus dan tokoh di atas?

Paulus dapat mewartakan Kristus kepada orang-orang bukan Yahudi dan tempat-tempat yang belum pernah mendengar tentang Kristus, bahkan hingga ke seluruh dunia. Hal ini adalah buah dari kerendahan hatinya sebagaimana teladan Yesus, Sang Guru sejati, yang rela mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.

Bagaimana dengan kita? Maukah kita mewartakan Yesus dengan kerendahan hati seorang hamba ?


Doa :

Ya Tuhan, syukur kepada-Mu untuk komunitas Renungan Harian Titik Titik Titik ini. Biarlah kami dapat meneladani Santo Paulus, mewartakan-Mu dengan segala kerendahan hati. Karena Tuhan Yesus adalah Guru Sejati kami. Amin.


https://leoagung.or.id/web/uploads/images/image_380x240_5bf658cf92ed6.jpg


Komentar