(Renungan) Hati Seorang Hamba

Hati Seorang Hamba
(Marcellina F. Hasnah)

“Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami hamba-hamba yang tidak berguna. Kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan.”
(Luk. 17:10)

Kalender Liturgi Selasa, 11 November 2025
PW. S. Martinus dr Tours, Uskup
Bacaan Pertama: Keb. 2:23-3:9
Mazmur tanggapan : Mzm. 34:2-3.16-17.18-19
Bacaan Injil: Luk. 17:7-10

Aku sedikit berlari memasuki halaman gereja, karena sebentar lagi Misa akan dimulai. Beruntung aku tidak terlambat. Para petugas sedang berusaha mencarikan tempat duduk untuk mereka yang baru datang, sambil menyapa lewat senyuman, meskipun ada saja umat  yang tidak membalasnya. Walau demikian, para petugas tidak terpengaruh dan terus saja menyambut umat dengan senyuman. 

Ketika Misa tengah berlangsung, seorang ibu yang hamil cukup besar berjalan pelan sambil menggendong anaknya menuju pintu keluar. Petugas yang ada di sana dengan sigap membukakan pintu baginya, terlihat keduanya bercakap sebentar. Petugas tersebut yang adalah seorang wanita yang usianya sudah tidak muda lagi, menggandeng si ibu hamil untuk ditemani keluar. Beberapa saat kemudian, si ibu hamil telah kembali masuk diantar oleh sang petugas, untuk melanjutkan Misa yang memang belum selesai. Aku terharu dan kagum kepada petugas tersebut, karena ia melayani serta melakukan tugasnya dengan rendah hati dan penuh kasih.

Pada bacaan Injil Lukas hari ini, Yesus memberi perumpamaan kepada para murid mengenai hubungan antara tuan dan hamba. Ia menjelaskan tentang seorang hamba yang telah bekerja keras di ladang, namun ketika tuannya datang, ia harus segera melayani tuannya makan terlebih dahulu sebelum ia sendiri makan dan minum. 

Perumpamaan ini menggambarkan hubungan antara tuan dan hamba pada zaman itu, di mana seorang hamba memiliki kewajiban penuh untuk melayani tuannya. Seorang hamba tidak merasa berjasa atau layak setelah melakukan tugasnya, melainkan menyadari, bahwa ia hanya menjalankan kewajiban sebagai milik tuannya. Hal ini bukanlah tentang perbudakan, tetapi tentang sikap hati seorang hamba yang setia dan rendah hati dalam melayani tuannya. 
Yesus mengajarkan bahwa sebagai pengikut-Nya, kita juga harus memiliki sikap yang sama. Menjalankan tugas dan kewajiban kita dengan rendah hati, tanpa menuntut imbalan atau pujian. Semoga kita pun memiliki kesadaran, bahwa pelayanan yang dilakukan adalah anugerah Tuhan semata.

Sudahkan kita menjadi seorang hamba yang melayani dengan sepenuh hati?

Doa:
Tuhan, terima kasih untuk penyertaan-Mu sampai hari ini. Biarlah kami boleh melayani-Mu lewat keluarga dan sesama kami dengan rendah hati dan penuh rasa tanggung jawab, serta melakukannya dengan suka-cita. Apa pun tugas yang kami lakukan untuk Engkau, kami percaya tidak akan menjadi sia-sia. Terima kasih Tuhan untuk kekuatan dalam menjalankan tugas ini sebagai hamba-Mu, walau tidak layak, tetapi tetap Engkau percayakan. Amin.




Komentar