(Renungan) Mengampuni
Mengampuni
(Angelika Endang)
Kalender Liturgi Senin, 10 November 2025
(Angelika Endang)
Bahkan jika dia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata: Aku menyesal, engkau harus mengampuni dia.
(Luk.17:4)
PW. S. Leo Agung, Paus Pujangga Gereja
Bacaan Pertama: Keb. 1:1-7
Mazmur Tanggapan: Mzm. 139:1-3.4-6.7-8.9-10
Bacaan Injil: Luk. 17:1-6
Mengampuni, kata yang sederhana, namun sulit untuk sungguh dilakukan. Memberi maaf kepada orang yang bersalah kepada kita sering kali terasa berat, karena menyangkut harga diri dan ego. Namun dalam Injil hari ini, Yesus dengan tegas mengingatkan bahwa kita dipanggil untuk menjadi pribadi yang penuh belas kasih dan rendah hati. Ia ingin kita mau memaafkan, bukan hanya saudara atau teman, tetapi juga musuh kita.
Berapa kalikah kita harus mengampuni? Yesus mengatakan: “Bahkan jika dia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata: Aku menyesal, engkau harus mengampuni dia.“ (Luk.17:4). Artinya, kita harus mengampuni berkali-kali, pengampunan tanpa batas.
Saya sendiri pernah mengalami hal itu. Hati saya begitu keras ketika berselisih dengan seorang sahabat yang sudah seperti saudara sendiri. Saya merasa berada di pihak yang benar dan merasa disakiti. Saya tidak mau merenung, tidak mau memahami apa yang melatarbelakangi perubahan sikapnya. Akibatnya, saya sangat tersiksa oleh pikiran negatif setiap hari.
Hingga suatu hari, saat mengikuti rekoleksi, kami menyanyikan lagu “Indahnya Kasih Tuhan”. Saya menyanyikannya berulang kali sambil mencoba membuka hati. Saat itulah saya merasakan pelukan kasih Tuhan yang lembut, seolah Ia berbisik: “Mengapa hatimu begitu keras, anak-Ku? Mengapa engkau marah kepada saudaramu? Bukankah jika engkau marah kepadanya, engkau juga marah kepada-Ku? Bukankah dia juga putri-Ku?” Saya pun menangis tersedu. “Tuhan, saya bersalah. Ampuni saya.”
Pengalaman itu menjadi titik balik hidup saya. Saya belajar bahwa mengampuni adalah jalan menuju kebebasan batin. Ketika saya belajar memberi pengampunan, termasuk kepada diri sendiri, hidup terasa lebih ringan, lebih damai, dan penuh syukur. Saya dapat menikmati hidup sebagai anugerah yang indah dari Tuhan.
Seperti sabda Tuhan: “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.” (Yoh. 14:15). Maka marilah kita mengasihi Tuhan yang hadir dalam diri setiap manusia, agar kita pun dimampukan untuk memberi pengampunan yang sejati!
Doa:
Terima kasih Tuhan, atas hadir-Mu setiap saat dalam proses hidupku, sehingga anak-Mu ini dapat belajar bagaimana sebuah hati yang mengampuni. Amin.
Bacaan Pertama: Keb. 1:1-7
Mazmur Tanggapan: Mzm. 139:1-3.4-6.7-8.9-10
Bacaan Injil: Luk. 17:1-6
Mengampuni, kata yang sederhana, namun sulit untuk sungguh dilakukan. Memberi maaf kepada orang yang bersalah kepada kita sering kali terasa berat, karena menyangkut harga diri dan ego. Namun dalam Injil hari ini, Yesus dengan tegas mengingatkan bahwa kita dipanggil untuk menjadi pribadi yang penuh belas kasih dan rendah hati. Ia ingin kita mau memaafkan, bukan hanya saudara atau teman, tetapi juga musuh kita.
Berapa kalikah kita harus mengampuni? Yesus mengatakan: “Bahkan jika dia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata: Aku menyesal, engkau harus mengampuni dia.“ (Luk.17:4). Artinya, kita harus mengampuni berkali-kali, pengampunan tanpa batas.
Saya sendiri pernah mengalami hal itu. Hati saya begitu keras ketika berselisih dengan seorang sahabat yang sudah seperti saudara sendiri. Saya merasa berada di pihak yang benar dan merasa disakiti. Saya tidak mau merenung, tidak mau memahami apa yang melatarbelakangi perubahan sikapnya. Akibatnya, saya sangat tersiksa oleh pikiran negatif setiap hari.
Hingga suatu hari, saat mengikuti rekoleksi, kami menyanyikan lagu “Indahnya Kasih Tuhan”. Saya menyanyikannya berulang kali sambil mencoba membuka hati. Saat itulah saya merasakan pelukan kasih Tuhan yang lembut, seolah Ia berbisik: “Mengapa hatimu begitu keras, anak-Ku? Mengapa engkau marah kepada saudaramu? Bukankah jika engkau marah kepadanya, engkau juga marah kepada-Ku? Bukankah dia juga putri-Ku?” Saya pun menangis tersedu. “Tuhan, saya bersalah. Ampuni saya.”
Pengalaman itu menjadi titik balik hidup saya. Saya belajar bahwa mengampuni adalah jalan menuju kebebasan batin. Ketika saya belajar memberi pengampunan, termasuk kepada diri sendiri, hidup terasa lebih ringan, lebih damai, dan penuh syukur. Saya dapat menikmati hidup sebagai anugerah yang indah dari Tuhan.
Seperti sabda Tuhan: “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.” (Yoh. 14:15). Maka marilah kita mengasihi Tuhan yang hadir dalam diri setiap manusia, agar kita pun dimampukan untuk memberi pengampunan yang sejati!
Doa:
Terima kasih Tuhan, atas hadir-Mu setiap saat dalam proses hidupku, sehingga anak-Mu ini dapat belajar bagaimana sebuah hati yang mengampuni. Amin.

Komentar
Posting Komentar