(Renungan) Kasih di Atas Segala Peraturan

Kasih di Atas Segala Peraturan 
(Leo Hans Adrianus Tirtawirya)

Jadi, firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat istiadat yang kamu teruskan itu. Banyak lagi hal lain seperti itu yang kamu lakukan.”
(Mrk. 7:13)  

Kalender Liturgi Rabu, 10 Februari 2026
Pw. S. Skolastika, Perawan
Bacaan Pertama: 1Raj. 8:22-23.27-30
Mazmur Tanggapan: Mzm. 84:3.4.5.10.11
Bacaan Injil: Mrk. 7:1-13

Sekali lagi, Yesus mengangkat perkara kemunafikan orang Yahudi, terutama orang Farisi dan ahli Taurat. Dari luar nampaknya mereka takwa kepada Allah, namun Yesus melihat kedalaman hati mereka yang  tidak sesuai dengan keimanan mereka. Iman sejati bukan sekadar mengikuti aturan lahiriah, tetapi kerendahan hati dan ketaatan kepada Allah. Hati yang penuh kasih lebih utama bagi-Nya dari pada ritual. 

Mereka sungguh paham peraturan Taurat, tetapi tidak digunakan untuk memberikan keadilan demi kasih kepada sesama. Mereka menonjolkan diri di hadapan orang banyak, bahwasanya mereka sangat rohaniwan, taat kepada adat istiadat nenek moyang. 

“Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah, supaya kamu dapat memelihara adat istiadatmu sendiri.” Lalu Yesus memberi contoh hukum 'Hormatilah ayahmu dan ibumu'. Yesus menjelaskan bahwa tidak benar mereka mengabaikan merawat orang tua karena sudah memberikan kurban (persembahan) ke Bait Allah. Mereka mengabaikan esensi terpenting dari hukum tersebut, yaitu mengasihi sesama (ayah dan ibu). Jadi perintah Allah itu tidak boleh digantikan oleh alasan ritual.

Santa Skolastika yang kita peringati hari ini, telah mengamalkan perbuatan kasih dalam hidupnya. Santa Skolastika terkenal karena kekuatan doa dan kasihnya yang penuh. Paus Gregorius Agung mencatat bahwa setelah seharian berbincang dengan Skolastika -saudara kembarnya Santo Benediktus- harus pulang ke biaranya sesuai peraturan biara. Namun, Skolastika yang sedang sakit masih ingin terus bercengkerama dengannya. Maka Skolastika berdoa agar hujan badai turun sehingga Benediktus bisa tinggal lebih lama. Doanya langsung dikabulkan oleh Tuhan. Iman yang sederhana itu penuh kuasa, kasihnya kepada Benediktus dihargai oleh Tuhan. Benediktus tidak melanggar peraturan biara karena terlambat pulang.

Apakah kita lebih memandang peraturan manusia di atas perintah kasih yang Yesus ajarkan? Dalam permenunganku, kasih adalah dasar dari segalanya. Peraturan pun harus dibuat berdasarkan kasih. Untuk itu, mari kita lebih jauh mendalami arti kasih Allah yang sudah kita terima! Apakah kita sudah mewujudnyatakan kasih-Nya dalam kehidupan bersama atau kita masih terikat dengan peraturan dan adat istiadat?

Doa: 
Allah Bapa Yang Maha Kasih, ajarilah kami kasih sejati-Mu yang mengatasi segala peraturan, adat istiadat yang dibuat manusia. Semoga kasih-Mu nyata dalam kehidupan kami. Amin.    




Komentar