(Renungan) Napas Allah dalam Sebutir Debu

Napas Allah dalam Sebutir Debu
(Yoseph Deddy Kurniawan)

"Selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu huruf terkecil atau satu titik pun tidak akan lenyap dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi."
(Mat. 5:18)

Kalender Liturgi Rabu, 10 Juni 2026
Bacaan Pertama: 1Raj. 18:20-39
Mazmur Tanggapan: Mzm. 16:1-2a.4.5.8.11
Bacaan Injil: Mat. 5:17-19

Di tengah rimba beton yang angkuh, kita sering lupa bahwa aspal yang kita injak menindih tanah yang rindu untuk bernapas. Gaya hidup urban yang serba praktis telah melahirkan budaya 'sekali pakai', di mana kita membuang plastik sembarangan dan mengonsumsi energi tanpa nalar. Kita merasa bahwa kerusakan kecil pada ekosistem hanyalah efek samping sepele dari kemajuan. Namun, dalam Injil hari ini, Yesus menghadirkan standar yang berbeda. Ia menegaskan bahwa tidak ada satu titik pun, artinya hal yang sekecil apa pun dari tatanan Allah yang boleh diabaikan.

Yesus datang untuk menggenapi hukum, dan hukum Allah yang paling dasar adalah kasih; tidak hanya kepada sesama, tetapi juga kepada seluruh ciptaan yang dikasihi-Nya. Jika Yesus begitu teliti menjaga keutuhan firman-Nya hingga hal terkecil, bukankah kita juga dipanggil untuk teliti menjaga keutuhan ciptaan-Nya? Mengabaikan kelestarian alam demi kenyamanan sesaat adalah bentuk pelanggaran terhadap 'perintah terkecil' yang Yesus bicarakan. Kita tidak bisa mengaku menyembah Sang Pencipta, sambil merusak karya tangan-Nya.

Seringkali, saya sendiri merasa bersalah. Saya berbicara tentang ketaatan di dalam Gereja, namun di luar sana, saya masih sering membiarkan keran air mengalir percuma atau memilih kemasan plastik hanya karena malas membawa tas belanja sendiri. Saya menyadari bahwa ketaatan yang Yesus tuntut bukanlah ketaatan di atas kertas, melainkan integritas yang menyentuh bumi yang saya injak. Jika saya meremehkan 'titik' dalam ekosistem ini, bukankah saya sedang meremehkan ketetapan Sang Arsitek Agung?

Marilah kita merubah pola pikir, untuk tidak lagi melihat lingkungan sebagai obyek yang terpisah dari iman kita. Kita mulai dari 'titik' yang paling kecil: bawalah botol minum sendiri, kurangi penggunaan pendingin ruangan jika tidak perlu, atau tanamlah setitik hijau di sudut rumah Anda. Mari kita 'menggenapi' hukum kasih ini dengan tindakan nyata. Sebab bagi Tuhan, setiap helai daun, setiap tetes air bahkan sebutir debu adalah detail yang sangat berharga dalam kitab kehidupan-Nya, dan menjaga mereka adalah jalan kita menuju kemuliaan di Kerajaan Surga.

Doa:
Ya Tuhan, ajarlah kami melihat jejak tangan-Mu dalam setiap ciptaan, agar kami mampu menjaga keutuhan alam ini sebagai bentuk ketaatan kami yang paling tulus kepada-Mu. Mampukan kami menjadi hamba yang setia dalam perkara-perkara kecil demi kelestarian bumi yang Engkau titipkan ini. Amin.




Komentar