(Renungan) Gulma dalam Kehidupan

Gulma dalam Kehidupan
(Hiyanto Mulia)

"Benih yang baik itu anak-anak Kerajaan sedangkan lalang anak-anak si jahat."
(Mat.13:38)

Kalender Liturgi Kamis, 28 Juli 2026
Bacaan Pertama: Yer.14:17-22
Mazmur Tanggapan: Mzm.79: 8.9.11.13
Bacaan Injil: Mat.13:36-43

'Gulma' dalam dunia pertanian didefinisikan sebagai tanaman pengganggu. Tanaman yang tidak dikehendaki tumbuh dalam lahan budi daya. Zaman Yesus, belum ada teknologi yang baik. Tanaman dan/atau benih tidak ditanam dengan jarak tanam tertentu. Benih hanya ditaburkan. 

Akibatnya, gulma tidak dapat dikendalikan karena bercampur dengan tanaman pokok.
Hari ini dijabarkan, Yesus menggunakan perumpamaan penabur yang menabur benih gandum yang baik di ladang. Namun, kemudian datanglah musuhnya yang menabur benih lalang di tempat yang sama. Keduanya sama-sama tumbuh di ladang itu. Namun, sang penabur melarang para hambanya untuk mencabuti lalang itu. Lalang itu dibiarkan tumbuh bersama dengan gandum. Saat menuai tiba, keduanya dipisahkan; gandum disimpan, sedangkan lalangnya dibakar.

Gulma yang ditaburkan oleh si jahat diduga bukan gulma biasa, yaitu jenis zizanium, sejenis gandum liar, juga dikenal sebagai cockle, tare atau darnel. Jenis gulma ini sangat sulit dibedakan dengan gandum biasa. Kalau seseorang mencoba memisahkan gulma dengan gandum, maka dapat salah cabut. Gulma ini hanya dapat dibedakan ketika memasuki fase generatif.

Yesus kemudian mengarahkan perhatian kita pada saat panen. Di sanalah terjadi pemisahan: lalang dikumpulkan untuk dibakar, sedangkan gandum disimpan. Gambaran yang sederhana, tetapi sangat tegas. Yesus mengajak kita menatap sebuah kenyataan yang tidak selalu nyaman, hidup ini bukan ladang yang rapi dan bersih. Dunia ini bukan tempat yang isinya cuma orang baik. Orang baik dan orang jahat tumbuh bersama, bahkan susah dibedakan. Tuhan membiarkan keduanya tumbuh.

Sekarang ini, cukup dengan scroll media sosial sedikit saja, kita langsung dibanjiri informasi. Ada yang benar, ada yang hoaks, dan makin susah dibedakan, apalagi bila menggunakan teknologi AI.

Panggilan kita jelas: menjadi gandum. Bertumbuh, berbulir, dan bernas. Kita tidak mampu mengubah pengaruh semua gulma di sekitar kita, tetapi kita selalu bisa memilih sikap dan arah hidup kita. Sederhana, Tuhan masih memberi kesempatan buat berubah. Jangan kita masuk zona nyaman dan menjadi 'lalang' tanpa kita sadari. Mampukah kita?

Doa: 
Tuhan, bantu aku untuk jujur melihat diriku sendiri dan berani berubah, supaya aku bisa bertumbuh menjadi 'gandum' yang berkenan di hadapan-Mu. Amin.


Komentar