(Renungan) Iman yang Menyelamatkan

Iman yang Menyelamatkan
(Celestinus Hudianto) 



Tetapi ibu Yesus berkata kepada pelayan - pelayan: "Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu
( Yoh. 2 : 5 )


Kalender liturgi Minggu, 16 Januari 2022
Bacaan pertama      : Yes. 62: 1 - 5
Mazmur tanggapan : Mzm. 96:1-2a, 3,7- 8a,9 -10a
Bacaan kedua         : 1 Kor. 12: 4 - 11
Bacaan Injil              : Yoh. 2: 1 - 11


Saya terinspirasi bacaan Injil tentang Perkawinan di Kana, terutama tentang inisiatif Bunda Maria sebagai orang pertama yang percaya akan keIlahian Putranya Yesus Sang  Firman Allah. Hal itu terungkap dari perkataan Maria kepada pelayan: "Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu” (ayat 5). Secara harafiah kisah perjamuan perkawinan di Kana menyatakan bahwa Bunda Maria peduli terhadap kekurangan anggur yang dizamannya akan menjadi masalah sangat besar. 

Para pelayan melaksanakan apa yang dikatakan Yesus dengan mengisi tempayan-tempayan penuh air dan mencedoknya untuk dikecap pemimpin pesta. Air telah menjadi anggur, sehingga dengan Yesus menyatakan sabdaNya maka mereka terselamatkan dari rasa malu dan cemohan para tamu. Dalam makna kiasan perjamuan perkawinan di Kana merupakan lambang terjadinya keselamatan pada akhir zaman yaitu apabila manusia percaya akan Firman Allah dan melakukannya, Perkataan Bunda Maria merupakan perwujudan Iman yang hidup  yaitu Iman yang bekerjasama dengan perbuatan (Yak. 2: 22), 

Kisah di Kana mengingatkan saya saat mempersiapkan pesta pernikahan anak perempuan pertama yang menurut adat jawa disebut "mantu", dimana semua biaya menjadi tanggung jawab pihak perempuan. Menjadi pengalaman iman saat sudah diputuskan hari "H" pernikahan, namun dana belum siap. Untuk memenuhi kebutuhan dana tersebut, maka saya akan menjual tanah walaupun saya tahu bahwa hal tersebut tidak bisa mendadak. Saya hanya punya waktu satu bulan dan hal itu adalah sesuatu yang mustahil. Saya juga cemas saat pihak hotel dan katering  mendesak meminta pembayaran dan juga undangan  sudah beredar. 

Namun dengan pasrah kepada Tuhan melalui doa yang tidak  kunjung putus dan atas dasar iman bahwa tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya (Mrk, 9: 23) maka terjadilah apa yang saya harapkan. Pada waktu itu bulan puasa,  satu minggu sebelum hari “H”, tiba-tiba jam tiga dini hari pada saat orang muslim saur, ada yang menelpon dan menawar tanah tersebut dengan harga sesuai yang saya harapkan. Puji Tuhan.  Permohonan saya dikabulkan Tuhan secara ajaib dan saya telah diselamatkan dari rasa malu bila pesta pernikahan harus ditunda


Doa : 

Ya Yesus, Tuhanku dan Allahku, topang dan mampukanlah kami untuk tetap setia pada Imanku dalam setiap menghadapi kesulitan hidup dengan bersandar dan  mengandalkan kasihMu untuk sebesar-besarnya demi kemuliaan Allah, dan sekaligus untuk bersaksi melalui sikap, perkataan dan perilaku kami. Amin.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Peziarah Pengharapan

(Renungan) Hidup Terlalu Singkat untuk Tidak Berbuah