(Renungan) Mengapa Doa Kita Belum Dikabulkan?

Mengapa Doa Kita Belum Dikabulkan Tuhan?
(Hendri Candra)



“Mengapa TUHAN membuat kita terpukul kalah oleh orang Filistin pada hari ini?  
Marilah kita mengambil dari Silo tabut perjanjian TUHAN, 
supaya Ia datang ke tengah-tengah kita dan melepaskan kita dari tangan musuh kita”  
(1 Sam. 4 : 3b)



Kalender Liturgi Kamis, 13 Jan 2022
Bacaan Pertama       : 1 Sam 4:1-11
Mazmur Tanggapan  : Mzm 44:10-11.14-15.24-25
Bacaan Injil               : Mrk 1:40-45


Bacaan pertama hari ini mengisahkan, orang Israel  berperang dengan orang Filistin dan kalah dengan korban tewas kira-kira empat ribu orang. Para tua-tua Israel menganjurkan supaya mereka mengambil tabut TUHAN di Silo dan dibawa ke medan pertempuran. Hasilnya mereka tetap kalah dan bahkan tabut TUHAN direbut oleh orang Filistin. Doa dan seruan orang Israel belum dikabulkan TUHAN walaupun sudah membawa tabut TUHAN dalam peperangan.

Salah satu penyebab kekalahan, mereka lebih ‘percaya’ kepada tabut Tuhan yang merupakan ‘benda’ simbol kehadiran TUHAN. 1 Sam. 4: 3 jelas mengatakan bahwa mereka mengharapkan TUHAN datang melalui kehadiran tabut TUHAN. Padahal sebenarnya TUHAN selalu menyertai mereka dengan setia sejak  membebaskan mereka dari  perbudakan di Mesir.

Yang paling jelas adalah orang Israel masih menduakan TUHAN sehingga Samuel yang dipilih TUHAN  sebagai nabi menyerukan pertobatan dengan segenap hati dan berbalik kepada TUHAN dengan meninggalkan  allah-allah yang lain dan para Asytoret ( 1Sam 7: 3). Samuel memberi teladan dengan menjaga kekudusan dan  tidak seperti Eli yang tidak menegur dosa-dosa dan pelanggaran yang dilakukan oleh kedua anaknya, Hofni dan Pinehas dalam melayani TUHAN. 

Mengikuti seruan Samuel, orang Israel bertobat. Mereka meninggalkan para Baal dan para Asytoret, dan hanya beribadah kepada TUHAN. Akhirnya TUHAN menunjukkan belas kasih-Nya dan orang Israel berhasil mengalahkan orang Filistin di dekat Mizpa (bdk. 1Sam 7: 10) walau pun pada saat itu tabut TUHAN masih tinggal di Kiryat-Yearim (bdk. 1Sam 7: 1).

Belajar dari kisah di atas, saat doa kita belum terkabul, kita perlu introspeksi diri. Tuhan menghendaki kita bertobat dan menjaga kekudusan  dengan meninggalkan semua dosa-dosa kita. Sudahkah kita melakukannya? Ia ingin melihat kesungguhan hati kita untuk menyerahkan semua doa dan permohonan kita hanya kepada kuasa-Nya dan sesuai dengan kehendak-Nya. Ketika kita berserah dan menyakini bahwa kehendak-Nya adalah yang terbaik, maka ketika doa kita belum atau bahkan tidak pernah terkabulkan, kita tetap bersyukur kepada-Nya.


Doa:

Tuhan yang Maha Baik, Engkau tahu semua kelemahan kami. Kuatkan dan teguhkanlah niat kami untuk dengan segenap hati bertobat dari dosa-dosa kami sehingga kami pantas berdoa dan memohon kepada-Mu. Amin.

 Samuel 4 - Wikiwand


Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Peziarah Pengharapan

(Renungan) Hidup Terlalu Singkat untuk Tidak Berbuah