(Renungan) Puasa Membawa Pertobatan

Puasa Membawa Pertobatan
(Twiggy)



”Tetapi anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula.”
(Mrk 2: 22)



Kalender Liturgi Senin, 17 Januari  2022
Bacaan pertama      : 1 Sam 15:16-23  
Mazmur tanggapan  : Mzm 50: 8-9.16bc-17.23
Bacaan Injil              : Mrk 2: 18-22


Bacaan Injil hari ini mengisahkan orang banyak membandingkan para murid Yesus dengan murid Yohanes dan orang Farisi tentang hidup puasa. Murid-murid Yesus tidak berpuasa sementara murid Yohanes dan orang Farisi rajin berpuasa. Mereka  mengkritik para murid Yesus dan serangan pertanyaan ditujukan kepada Yesus. Kewajiban berpuasa menurut  Taurat  sebenarnya hanya puasa pada  Hari Raya Pendamaian (Im. 16:29). Tapi setiap orang dapat melakukan puasa-puasa lain demi kesalehan pribadi atau kesepakatan internal kelompok  tertentu. Saat itu para murid sedang  bersukacita, sebab sang mempelai laki-laki, yakni Yesus sendiri, ada bersama mereka. Jadi tidak layak  berpuasa dalam suasana seperti itu. Pada saatnya, para murid akan berpuasa, yakni ketika sang mempelai diambil paksa dari mereka dan mati di atas salib.  Puasa memiliki makna, bukan sekadar mengikuti jadwal, bukan pula sekadar ritual yang sifatnya lahiriah. 

Saya pernah menjalani puasa. Tujuan awal saya berpuasa, adalah  mendoakan anak saya. Waktu itu dia sedang menjalani studi di tempat yang cukup jauh dari rumah. Doa puasa berlanjut sampai  anak saya pulang, bahkan diteruskan  sampai dia mendapatkan pekerjaannya. Tanpa saya sadari, proses doa puasa ini sedikit demi sedikit mengubah karakter saya yang sebelumnya mudah kecewa, marah, sering merasa gelisah, dan khawatir, menjadi jauh lebih tenang, lebih mengalah  dalam banyak hal, merendahkan diri di hadapan Tuhan, lebih banyak menyediakan waktu bersama Tuhan, dan menerima hidup dalam kesederhanaan. Dengan menjalani puasa yang benar secara rutin, saya seperti berubah 
menjadi kantong kulit baru seperti perumpamaan Yesus.

Dari kiasan tentang baju dan kantong kulit, Yesus membawa kita untuk menyadari, melakukan pertobatan, merombak,  membangun diri menjadi manusia baru. Menjadi kantong anggur baru, membuat kita dapat memahami arti menjalani hidup dalam kekuatan sabda Allah. Tidak lagi menjalani  cara hidup lama namun  hidup pertobatan  yang penuh  kesabaran, kemurahan hati, sukacita, dan kejujuran.


Doa:

Bapa yang Maha Rahim, jadikanlah kami kantong anggur baru sehingga kami dapat menampung lebih banyak kebaikan kasih dan rahmat Allah yang tercurah dalam hidup kami. Jadikanlah kami saluran berkat menjadi anggur baru bagi mereka yang tersisih, miskin, tersingkir dan difabel. Doa ini kami panjatkan melalui perantaraan Putra-Mu Tuhan kami Yesus Kristus. Amin.

enungan Harian, Senin Biasa II - Keuskupan Tanjungkarang

Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Peziarah Pengharapan

(Renungan) Hidup Terlalu Singkat untuk Tidak Berbuah