(Renungan) Waktu untuk Diam, Mendengar dan Berbicara

Waktu untuk Diam, Mendengar dan Berbicara
(Kayus Mulia)



“Berbicaralah, sebab hamba-Mu ini mendengar.” Dan Samuel makin besar dan Tuhan menyertai dia dan tidak ada satu pun dari firman-Nya itu yang dibiarkan-Nya gugur. 
(1 Sam 3 :1 8,19)



Kalender Liturgi Rabu, 12 Januari 2022.
Bacaan pertama        : 1 Sam 3: 1-10, 19-20
Mazmur tanggapan    : Mzm 40: 2, 5, 7-8a, 9-10
Bacaan Injil                : Mrk 1: 29- 39
 

Samuel adalah anak nazar yang diserahkan ibunya kepada Eli, seorang imam di bait Allah. Pekerjaan Samuel adalah melayani Eli sehari-hari didalam bait Allah. Tempat tidurnya pun dekat dengan perkakas-perkakas di dalam bait Allah. Sejak kecil Samuel sudah dipakaikan baju Efod (semacam baju misdinar sekarang) yang diberikan ibunya setiap tahun orang tuanya mengunjungi bait Allah. Seolah-olah ibunya mengetahui atau mengharapkan Samuel kecil akan menjadi imam dikemudian hari. Pada masa itu firman Tuhan jarang dan penglihatan-penglihatan pun tidak sering. Ketika Samuel mendapat panggilan untuk yang pertama kali dari Tuhan, ia tidak mengetahui suara siapakah yang memanggilnya. Panggilan tersebut diulangi sampai tiga kali. Pada panggilan ketiga, berkat petunjuk dan  bimbingan Eli akhirnya Samuel mengetahui bahwa itu adalah suara Allah. Karena ia masih muda dan belum berpengalaman, Eli menyuruhnya diam dan hanya mendengarkan saja. Ketika Samuel beranjak dewasa, maka semua nubuat dan perkataan  yang disampaikan Allah kepadanya terbukti dan Samuelpun akhirnya diakui sebagai nabi oleh seluruh umat Israel.

Saat Allah berbicara kepada kita, kitapun harus diam dan mendengarkan saja apa yang dikatakan Allah. Kita sebaiknya telah bertumbuh dalam iman dan bijaksana untuk dapat mewartakan kabar sukacita.

Yesus memberi contoh selalu berkomunikasi dengan Bapa-Nya dalam doa. Kitapun harus 
selalu berkomunikasi dengan Allah, memohon petunjuk mengenai segala rencana kita untuk hari itu. Kita belajar mendengar suara Allah dalam doa. Yesus berdoa jauh dari keramaian, karena di dalam kesunyian suara Allah akan terdengar. "In silence I hear your voice" (Kisah nyata seorang Imam Jesuit Rodrigues dari Portugis dalam film  "Silence" yang menceritakan pergulatan dengan dirinya sendiri dalam menjalankan misi di Jepang pada abad ke tujuh belas.)

Jika kita sudah yakin mendengar suara Tuhan maka tidak ada lagi yang dapat menghalangi kita untuk mengatakannya. Seperti pemazmur yang tidak tahan untuk tidak mengatakan kebenaran Tuhan. Marilah kita selalu berkomunikasi dengan Allah dalam kesunyian memohon petunjuk dari Roh Kudus apa yang menjadi perutusan kita.


Doaku: 

Ya Bapa, ini aku, utuslah aku. (Yes 6:8). Amin.

Berbicaralah sebab hambaMu ini mendengar | Abbalove Ministries


Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Peziarah Pengharapan

(Renungan) Hidup Terlalu Singkat untuk Tidak Berbuah