(Renungan) Kasih yang Melihat, Tergerak dan Bertindak

Kasih yang Melihat, Tergerak dan Bertindak
(Robertus Rudi Hariyanto)



Dan ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia berkata kepadanya: "Jangan menangis!" 
(Luk. 7 : 13)



Kalender Liturgi Selasa,13 September 2022  
PW. St. Yohanes Krisostomus, Uskup dan Pujangga Gereja
Bacaan Pertama : 1 Kor. 12 : 12-14, 27-31a
Mazmur Tanggapan : Mzm. 100 : 2, 3, 4, 5
Bacaan Injil : Luk. 7 : 11-17 


Suatu Minggu saya hadir bersama tim PSE (Pengembangan Sosial Ekonomi) untuk pelayanan kasih di aula gereja. Di depan gereja, seorang pastor senior paroki mendatangi saya. Pastor mengabarkan bahwa ada seorang balita di sudut depan aula sedang muntaber dan membutuhkan pertolongan secepatnya. Saya segera menuju ke sana. Saya menemukan dan menolong balita usia dua tahun yang muntaber tersebut. Biasanya kedua orang tua balita ini datang mengambil bantuan seminggu sekali. Bantuan tidak diberikan sekaligus sebulan. Tujuannya adalah agar bantuan tidak cepat dihabiskan dan si penerima bantuan dapat mengikuti perayaan Ekaristi setiap Minggu.

Saya sungguh heran, bagaimana pastor senior yang rajin berkeliling gereja setiap selesai misa mingguan itu mengetahui ada anak balita menderita muntaber. Padahal di sekelilingnya banyak orang yang berkepentingan dengan aktivitas di aula.

Akhirnya saya menyadari bahwa inilah “Wajah Yesus” yang sesungguhnya terlihat dalam diri pastor senior itu.  

Yesus yang berbelas kasih kepada janda yang sedang terpuruk dan bersedih mengantarkan anaknya yang tunggal laki-laki untuk dikubur. Yesus bukan hanya menghibur sang janda, tetapi juga bertindak dengan mukjizat yang menghidupkan kembali anak janda tersebut. Yesus melihat, timbul belas kasih dan tergerak hatinya, kemudian bertindak.

Yesus bertindak dengan mukjizat-Nya membangkitkan orang mati. Ia menyatakan relasi-Nya bersama Allah tentang anugerah keselamatan dan kehidupan kekal. Bahwa kemudian orang banyak itu memuliakan Allah dan melihat Allah sedang melawat umat-Nya dalam diri Yesus. Hal ini merupakan kesaksian iman tentang kuasa Allah yang melampaui seluruh akal dan pengertian manusia. 

Yesus mengajarkan kepada kita tentang belas kasih, kasih yang menyelamatkan, kasih yang berbela rasa kepada orang lain.

Kasih merupakan wajah Allah. Sudah layak dan benar kita saling berbagi kasih kepada sesama, berbelarasa dengan perbuatan amal kasih kepada orang sekitar kita yang sedang membutuhkan, tidak berdaya, menderita, terpuruk dan kehilangan pengharapan di saat kesulitan, sehingga merekapun dapat merasakan kehadiran Allah yang melawat umat-Nya.


Doa : 

Ya Yesus yang berbelas kasih, kami sungguh mensyukuri kerahiman-Mu dan mohon mampukan kami untuk berbagi kasih dan berbelarasa mendalam kepada sesama kami yang membutuhkan seperti apa yang telah Engkau ajarkan dan teladani. Amin.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Peziarah Pengharapan

(Renungan) Hidup Terlalu Singkat untuk Tidak Berbuah