(Renungan) Kerendahan Hati dan Iman Kita Menggerakkan Hati Tuhan

Kerendahan Hati dan Iman Kita Menggerakkan Hati Tuhan 
(Ery Setyo)


 
"Tuan, janganlah bersusah-susah, sebab aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku; sebab itu aku juga menganggap diriku tidak layak untuk datang kepada-Mu."  
(Luk. 7 : 6b-7a)

 
 
Kalender Liturgi Senin, 12 September 2022
Bacaan Pertama : 1 Kor. 11 : 17-26; 
Mazmur Tanggapan : Mzm. 40 : 7-8a, 8b-9, 10.17 
Bacaan Injil : Luk. 7 : 1-10


Setelah Yesus mendengar perkataan itu, Ia heran akan dia, dan sambil berpaling kepada orang banyak yang mengikuti Dia, Ia berkata: "Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai, sekalipun di antara orang Israel!" (Luk. 7:9).

Pada perikop di atas kita melihat kisah yang terjadi di Kapernaum setelah Yesus mengajar orang banyak. Injil Lukas menceritakan bagaimana seorang perwira Romawi yang mempunyai sifat sangat mulia, mengajarkan kepada kita gambaran iman yang besar. Yesus sendiri memberikan pujian “Iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai, sekalipun di antara orang Israel”.

Kita tahu bahwa dia adalah bangsa Romawi yang tidak mengenal Allah. Namun kita dapat melihat beberapa karakternya yang patut diteladani, seperti dia sangat menghargai hambanya yang sedang sakit keras dan hampir mati, dia membawanya berobat kemana-mana sampai dia mendengar tentang Yesus. Dia juga dikisahkan mengasihi bangsa Yahudi bahkan ikut membangun rumah ibadah umat Allah.

Sekalipun dia bukan dari bangsa Yahudi, namun dia mempunyai iman yang besar kepada Yesus. Dia percaya bahwa Yesus memegang atau mempunyai otoritas mutlak atas penyakit. Atas malaikat yang pergi menolong orang sakit. Seperti halnya yang dia pahami dalam militer yang mempunyai rantai komando. Perintah seorang komandan pasti  akan diikuti bawahannya. Dengan iman dia melihat adanya otoritas Anak Allah. Sekalipun dia bukan orang Israel, dia sudah belajar tentang Allah Yang Maha Kuasa. Dia sangat yakin Yesus mempunyai otoritas dan kuasa yang besar.

Apakah iman kita sungguh seperti iman perwira tersebut, apakah kita juga mengakui otoritas Yesus?


Doa :

Ya Tuhan, saya tidak pantas Tuhan datang pada saya, tapi bersabdalah saja maka saya akan sembuh. Amin.

 
ukas 7:1-10 ~Yesus Menyembuhkan Hamba Perwira di Kapernaum~ | Katarina  Hali

Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Peziarah Pengharapan

(Renungan) Hidup Terlalu Singkat untuk Tidak Berbuah