(Renungan) Keluar dari "Cangkang Diri" dan Siap Menjadi Berkat bagi Orang Lain

Keluar dari "Cangkang Diri" dan Siap Menjadi Berkat bagi Orang Lain
(Klara Yanti Suryat)


"Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia dan mereka akan membunuh Dia dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan."
(Mat.17 : 22b-23a)


Kalender Liturgi Senin, 14 Agustus 2023
Bacaan Pertama : Ul. 10 : 12-22;
Mazmur Tanggapan: Mzm. 147 : 12-13,14-15,19-20
Bacaan Injil : Mat. 17 : 22-27


Dari Perjanjian Lama kita sering membaca tentang nubuat para nabi. Hal yang sama dalam bacaan Injil hari ini Yesus untuk kedua kalinya bernubuat tentang diri-Nya yang akan diserahkan ke dalam tangan manusia dan mereka akan membunuh-Nya. 

Kematian Yesus ini merupakan bentuk kasih nyata Dia kepada kita para sahabat-Nya, karena tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawa bagi sahabat-sahabatnya. Yesus telah menunjukkan bentuk kasih tertinggi kepada manusia dengan pengorbanan diri-Nya. Yesus berani meninggalkan kenyamanan dan rasa aman atas diri-Nya demi para sahabat-Nya bahkan juga dia yang mengkhianati-Nya. Seperti halnya hujan turun dan membasahi semua orang atau sinar matahari menyinari semua orang yang baik dan yang jahat, demikian juga kasih Yesus tidak pernah membatasi diri pada orang yang dikenal saja, atau orang yang baik kepada kita saja, tetapi kasih itu universal untuk siapa pun dia.

Sebagai murid Kristus, apakah aku sudah mengasihi orang lain seperti Yesus, kasih yang total tanpa batas, kasih yang tidak pilih-pilih, kasih yang universal? Kadang aku sering membatasi dalam mengasihi hanya pada mereka yang baik kepadaku saja: keluarga saya, orang yang kukenal, atau bahkan mungkin tidak jarang aku berharap dalam mengasihi orang lain yaitu supaya aku mendapat sesuatu dari orang yang kukasihi itu.

Hari ini kita diajak oleh Sabda Tuhan untuk memurnikan kasih pada orang lain. Mengasihi tidak cukup hanya dengan kata-kata manis, tetapi kasih yang nyata harus berani keluar dari "cangkang" kenyamanan diri. Mengasihi berarti siap berkorban untuk orang lain siapa pun mereka terutama yang kurang kita perhatikan dalam keluarga, orang-orang yang terpinggirkan di lingkungan, mereka tidak dikenal, atau bahkan mereka yang telah menyakiti dan memusuhi kita.


Doa:

Tuhan Yesus ajarilah aku untuk berani merasakan ketidaknyamanan, penderitaan dan berkorban untuk orang lain sehingga aku mampu menjadi pelaku-pelaku kasih yang nyata dalam kehidupanku sehari-hari. Amin.



https://sangsabda.files.wordpress.com/2021/08/matthew-17-22-27-aa.jpg

Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Peziarah Pengharapan

(Renungan) Hidup Terlalu Singkat untuk Tidak Berbuah