(Renungan) Rendah Hati

Rendah Hati
(Nina Agustina)


“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga”  
(Mat. 18 : 3-4)


Kalender Liturgi Selasa, 15 Agustus 2023
Bacaan Pertama :Ul. 31 : 1-8
Mazmur Tanggapan : 32 : 3-4a, 7, 8, 9, 12 
Bacaan Injil : Mat.18 : 1-5, 10,  12-14


Natur manusia sebagai orang berdosa, salah satunya adalah ingin lebih dari yang lain. Nafsu untuk kemuliaan dan kebesaran diri tampaknya tertanam dalam diri manusia sebagai orang berdosa. Hal ini sudah diturunkan sejak Adam dan Hawa, yang jatuh dalam dosa karena ingin menyamai bahkan melebihi Tuhan.
  
Contoh perumpamaan yang Yesus pakai saat menegur dan mengajar murid-murid-Nya yaitu tentang kehidupan seorang anak kecil yang sangat tergantung dengan orang tuanya dalam berbagai hal. Seorang anak seolah tidak ada pilihan selain berserah kepada orang tuanya secara total.

Pengalaman saya ketika menceritakan tentang Tuhan Yesus kepada anak-anak Bina Iman. Dengan polos mereka langsung percaya akan kebaikan Tuhan Yesus. Berbeda dengan orang dewasa yang sering mempertanyakan dan ragu akan iman mereka.  Saat mereka menghadapi kesulitan, maka dengan mudah meninggalkan Tuhan. Mereka tidak yakin akan pertolongan Tuhan. Hal ini membuat mereka gagal paham, dalam memahami sabda Tuhan. Fokusnya  hanya pada segi kognitif tanpa melibatkan iman.

Sama halnya ketika murid-murid Yesus yang sudah mengikuti dan mendengarkan pengajaran-Nya, namun masih belum paham siapa Yesus sebenarnya dan untuk apa Yesus datang ke dunia. Mereka masih meributkan posisi, siapa yang terbesar di antara mereka. Sementara Yesus sedang memasuki saat-saat penderitaan-Nya hingga wafat di kayu salib guna menebus dosa manusia. Tanpa pergumulan yang terus menerus, tanpa memandang kepada salib Yesus, dan memahami bagaimana Yesus sangat dihina dan direndahkan, akan sulit bagi kita untuk menyadari bahwa kita adalah manusia berdosa yang ditebus oleh darah Kristus. Hanya karena anugerah-Nya kita  diselamatkan dari dosa, sehingga sudah selayaknya kita mengasihi Tuhan dan menuruti kehendak-Nya. Apa pun yang kita kerjakan, pelayanan, pekerjaan, semua untuk kemuliaan-Nya semata.  Bukan untuk kebanggaan diri sendiri. 

Kiranya kita semakin mengerti akan karya Yesus yang terbesar melalui peristiwa penyaliban. Kita bisa mengambil bagian dalam karya pelayanan dan menjadi utusan Kristus yang rendah hati dan penuh kasih terhadap sesama. 


Doa :

Tuhan Yesus, Engkau sendiri telah memberikan teladan, terutama dalam kerendahan hati kepada para murid. Kiranya sebagai murid Kristus, aku semakin memahami akan arti kerendahan hati. Sehingga  saat aku diberi kesempatan untuk menjalankan karya pelayanan, aku tidak pernah menyombongkan diri karena aku hanyalah alat-Mu semata. Kiranya salib-Mu yang terus menjadi kekuatanku dalam melayani. Amin.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Peziarah Pengharapan

(Renungan) Hidup Terlalu Singkat untuk Tidak Berbuah