(Renungan) Ora et Labora

Ora et Labora
(Hendri Candra)


Pada waktu itu pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah. 
(Luk. 6 : 12)


Kalender Liturgi Selasa, 12 September 2023
Bacaan Pertama : Kol. 2 : 6-15
Mazmur Tanggapan : Mzm. 145 : 1-2, 8-9, 10-11
Bacaan Injil : Luk. 6 : 12-19


Seorang romo dalam suatu seminar menganjurkan kami untuk memiliki saat teduh di pagi hari sebelum memulai kegiatan, termasuk memegang atau melirik kepada pesan dan berita di gadget kami. 
Di saat itu kami mempunyai kesempatan khusus berbicara dengan Tuhan, mendengarkan dan semakin mengenal Dia serta mensyukuri semua penyertaan-Nya dalam hidup kami.

Kesempatan khusus berbicara dengan Tuhan diteladankan secara luar biasa oleh Yesus dengan naik ke suatu bukit untuk berdoa semalam-malaman kepada Bapa-Nya. Usai berdoa Yesus memilih kedua belas murid-murid-Nya dan langsung turun melakukan pelayanan kepada orang banyak dengan mewartakan Injil dan juga menyembuhkan mereka.

Dalam keheningan doa, kita merendahkan diri bukan hanya memohon tapi juga mengerti kehendak Bapa dan membina suatu hubungan yang erat dengan-Nya, sehingga seperti Yesus, kita siap bertindak dan menjadi berkat bagi banyak orang.

Umat Katolik  mempunyai kekayaan yang luar biasa yaitu Ibadat Brevir (Doa Tujuh Waktu)  dimulai dengan Ibadat pagi yang dibuka dengan: 
Ya Tuhan, sudilah membuka hatiku.
Supaya mulutku mewartakan pujian-Mu.

Setelah mengucap syukur dan memuji Tuhan, kita akan lebih siap memasuki hari baru dan beraktivitas dalam pekerjaan dan pelayanan dengan penuh iman akan penyertaan Tuhan.

Di malam hari, kita tutup kegiatan  dengan penuh syukur melatunkan kompletorium  yang dibuka dengan:
Ya Allah, bersegerahlah menolong aku.
Tuhan, perhatikanlah hamba-Mu.

Tuhan Yesus telah mencontohkan siklus hidup yang seimbang antara berdoa (ora) dan bekerja (labora). Di tengah hiruk pikuk kota besar di mana kita dituntut untuk bergerak dengan sangat cepat, berangkat kerja di pagi buta untuk tiba tepat waktu di tempat kerja, pulang larut malam di tengah himpitan kemacetan lalu lintas membuat waktu dan energi kita terkuras. Kita perlu berusaha untuk menikmati saat teduh bersama Tuhan baik di pagi, tengah dan malam hari.

Tentu ini menjadi suatu tantangan yang berat sekaligus menarik, apakah kita sungguh bisa meluangkan waktu sesaat berbicara dengan-Nya dan mendengarkan Dia.
Semoga. 


Doa :

Allah Bapa Maharahim, terima kasih telah mengingatkan kami akan keseimbangan hidup antara berdoa dan bekerja. Curahkanlah rahmat kesetiaan untuk boleh selalu bersyukur dan memuji nama-Mu setiap saat dan keteguhan hati untuk bekerja dan melayani dengan tekun dimana pun kami ditempatkan. Demi Kristus, Tuhan kami. Amin.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Peziarah Pengharapan

(Renungan) Hidup Terlalu Singkat untuk Tidak Berbuah