(Renungan) Harga Menjadi Murid Tuhan Yesus

Harga Menjadi Murid Tuhan Yesus
(Made Shinta)


Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu?
(Luk. 14 : 28)


Kalender Liturgi Rabu, 8 November 2023
Bacaan Pertama : Rm. 13 : 8-10
Mazmur Tanggapan : Mzm. 112 : 1-2.4-5.9
Bacaan Injil : Luk. 14 : 25-33


Saya pernah berangan-angan bila ketiga anak lulus kuliah dan mulai bekerja, maka saya akan pindah ke Bali. Hal ini saya utarakan kepada suami dan anak-anak yang waktu itu masih kecil. Setelah anak ketiga kami lulus kuliah dan bekerja, mulailah saya ditagih oleh anak-anak, kapan pindah ke Bali supaya saat mereka cuti kerja, pulang ke Indonesia bisa menikmati suasana liburan. Saya dan suami survey mencari lokasi, sekalian mencoba bagaimana rasanya hidup di Bali. Lalu kami menghitung dengan cermat keperluan dana untuk membeli tanah beserta pajaknya, pembangunan rumah berikut biaya IMB, dan untuk isi rumahnya. Puji Tuhan saat sudah selesai, pengeluaran biaya aktual tidak berbeda jauh dengan anggaran yang kami buat dan kami pun menetap di Bali.

Dalam bacaan hari ini, Tuhan Yesus mengatakan kepada banyak orang yang mengikuti-Nya ; barang siapa tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri dan yang tidak memikul salibnya dan mengikut Dia, maka orang tersebut tidak dapat menjadi murid-Nya. Setelah itu dilanjutkan dengan ajaran mengenai orang yang hendak mendirikan menara, perlu duduk dahulu membuat anggaran biayanya agar dapat tuntas menyelesaikannya. Juga tentang raja yang akan berperang melawan raja lain, maka perlu duduk dulu mempertimbangkannya agar sanggup melawannya. Sekali lagi Tuhan Yesus mengingatkan: “Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.”

Bila ingin menjadi murid-Nya yang setia sampai akhir hidup, diperlukan pertimbangan dan persiapan yang matang karena ada ‘harga’ yang harus dibayar. Saya perlu memeriksa hati, apakah masih ada keterikatan yang tidak normal pada hal-hal tertentu, seperti keluarga atau materi yang perlu dilepaskan. Apakah saya mau membantu memikul salib orang lain, sambil memikul salib sendiri. Semoga saya dapat setia sampai akhir, dengan selalu bergantung dan memiliki relasi yang kuat dengan Tuhan Yesus melalui doa, mendengar Firman-Nya dan berbuah dalam perbuatan kasih.  


Doa :
 
Tuhan Yesus yang baik, menjadikan-Mu sebagai prioritas utama dalam hidupku dan menjadi murid-Mu yang taat dan setia sungguh bukan hal yang mudah. Aku tidak dapat melakukannya hanya dengan kekuatanku sendiri. Namun aku percaya, Kau akan selalu memberi kekuatan dan pertolongan di kala 'ku jatuh. Terpujilah nama-Mu yang kudus selama-lamanya. Amin. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Peziarah Pengharapan

(Renungan) Hidup Terlalu Singkat untuk Tidak Berbuah