(Renungan) Ubahlah Hati Kami

Ubahlah Hati Kami
(Wily Wibianto )


“Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang.” 
(Mrk. 7 :23)


Kalender Liturgi Rabu, 7 Februari 2024
Bacaan Pertama : 1 Raj.10 : 1-10
Mazmur : Mzm: 37:5-6. 30-31. 39-40
Bacaan Injil : Mrk. 7:14-23


Banyak peraturan seremonial dalam Perjanjian Lama, termasuk larangan makanan, yang harus ditaati oleh bangsa Yahudi. Dalam perikop Mrk. 7:1-23; Yesus menegur sikap orang Yahudi, yang menyamakan ajaran tradisi manusia dengan ajaran Tuhan dan membelokkan ajaran tersebut melalui interpretasi mereka yang keliru. Perikop ini juga menceritakan adanya kontroversi dalam tradisi rabinis, di mana orang Farisi dan Saduki merasa tidak nyaman dengan ajaran Yesus.

Perihal makanan yang haram atau najis telah ditinggalkan Yesus. Hal itu terlihat jelas ketika Ia mengatakan: “…. dari luar yang masuk ke dalam seseorang, tidak dapat menajiskannya, karena bukan masuk ke dalam hati tetapi ke dalam perutnya, …?” (ayat: 18-19) Yang menyebabkan manusia menjadi najis, ialah pikiran dan tindakan jahat yang keluar dari hati manusia. 

Dalam Injil hari ini, kita melihat bagaimana Yesus memberikan pengajaran yang mencengangkan, bahkan bertentangan dengan ajaran Taurat. Yesus mengajak kita untuk tidak berhenti pada sebuah prinsip yang dangkal, yaitu tentang najis tidaknya suatu makanan yang masuk ke dalam mulut. Prinsip ini hanya berhenti pada hal-hal duniawi. Prinsip ini sama sekali tidak menunjukkan sebuah kedalaman. Yesus mengajak kita untuk masuk ke dalam lubuk hati kita yang terdalam karena apa yang keluar dari hatilah yang dapat menajiskan. Ia mengajak kita untuk mampu mengelola/mengolah hati kita, sehingga menjadi jernih dan murni. Hati kita bebas dari iri, dendam, cemburu dan hal-hal negatif lainnya. 

Mari sebagai seorang Kristiani, kita melihat ke dalam hati kita, sudahkah kita menyucikannya ataukah masih terbelenggu oleh hal-hal yang membuat kita terus berada dalam kegelapan?

Ajaran ini juga kembali ditegaskan oleh Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma, “Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus” (Rom. 14:17). Demikian juga, Rasul Petrus mengalami penglihatan bagaimana Allah tidak menyatakan makanan apa pun sebagai haram, “Apa yang dinyatakan halal oleh Allah, tidak boleh engkau nyatakan haram (lih. Kis. 10:15).


Doa :

Tuhan Yesus, ubahlah hati kami yang senantiasa keras menjadi hati-Mu yang putih dan murni seperti hati-Mu. Jadikan pula hati kami sebagai sarana untuk mengalirkan kasih kepada semua orang, sehingga mereka dapat melihat Engkau melalui hati kami. Amin.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Peziarah Pengharapan

(Renungan) Hidup Terlalu Singkat untuk Tidak Berbuah