(Renungan) Yang Terbesar dalam Kerajaan Surga

Yang Terbesar dalam Kerajaan Surga
(Irene Sri Handayani)


Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga
(Mat. 18:4)


Kalender Liturgi Selasa,13 Agustus 2024
Bacaan Pertama : Yeh. 2:8-3:4
Mazmur Tanggapan : Mzm.119:14. 24. 72. 103. 111. 131
Bacaan Injil : Mat.18:1-5.10.12-14


Anak dipandang sebagai anugerah Allah, sebab mereka kelak akan merawat orang tua serta meneruskan nama keluarga setelah orang tua meninggal. Namun seorang anak ada kalanya dipandang sebagai beban. Mereka tidak dapat berbuat banyak, dan harus sepenuhnya taat pada orang tuanya.

Yesus sering menggunakan anak sebagai contoh. Bagi Yesus, anak-anak adalah “model kekudusan dan kerendahan hati” yang harus dihargai, dihormati, dan dilindungi. Kitab Suci menempatkan penghormatan bagi anak-anak kecil dalam Kerajaan Allah. Lalu mengaitkan anak-anak kecil dengan keharmonisan zaman yang akan datang. Misalnya, Yesaya menggambarkan Firdaus sebagai sebuah tempat di mana seorang anak kecil akan bermain-main dekat liang ular tedung, tanpa dilukai, melainkan memiliki kuasa atas hewan/binatang yang kejam seperti serigala dan macan tutul dan lain sebagainya (Yes. 11:6-9). 

Kita perlu belajar menjadi besar di dalam iman, kerendahan hati, sifat- sifat saleh, hikmat, penguasaan diri, kesabaran dan kasih (Gal.5:22-23). Kebesaran yang sejati menuntut agar kita menjadi besar dalam hal-hal yang benar. Kebesaran sejati menyangkut kasih dan penyerahan diri kepada Allah. Seperti halnya dengan anak-anak, menerima tanpa syarat, sering tersenyum, mengampuni dan melupakan dengan mudah, dan menaruh kepercayaan tanpa mencoba mengetesnya terlebih dahulu serta menerima apa yang dikatakan orang-orang dewasa dengan mudah.

Santa Theresia Lisieux telah menemukan jalan kesuciannya dengan " jalan kecil"nya. Ia sungguh mengerti sabda Yesus dalam Injil hari ini, "mengenai anak kecil". Kerinduan Santa Theresia Lisieux untuk semakin dekat dengan Tuhan, digambarkan dengan cara sederhana. Ia ingin menjadi mainan dan teman main bagi kanak-kanak Yesus.

Kebesaran Santa Theresia Lisieux bukan terletak pada apa yang dilakukannya, tetapi pada kedalaman dan intensitas cinta yang diberikan dalam setiap tindakan. Ya, ia menapaki jalan menuju kesempurnaan hidup dengan cara yang biasa dan sederhana.

Injil hari ini mengharapkan kita untuk mempertimbangkan “sifat anak-anak” diri kita sendiri (bukan sifat kekanak-kanakan) dalam hidup sebagai orang beriman. Maukah dan beranikah kita memenuhi harapan tersebut?


Doa :

Ya Tuhan Yesus Kristus, kami bersyukur atas penyertaan-Mu dari dulu, sekarang dan selamanya. Kuatkanlah semangat kami, bila kami rapuh. Luruskanlah jalan kami bila melenceng dari kehendakMu. Ajarilah kami menjadi seperti anak - anak yang mudah bahagia dengan hal-hal sederhana  sehingga kami boleh menikmati hidup yang lebih membawa damai. Amin.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Peziarah Pengharapan

(Renungan) Hidup Terlalu Singkat untuk Tidak Berbuah