(Renungan) Jangan Takut Kekurangan
Jangan Takut Kekurangan
(Emilia Sulistyo)
Kalender Liturgi Minggu, 10 November 2024
Bacaan Pertama : 1Raj. 17:10-16
Mazmur Tanggapan : Mzm. 146:7. 8. 9a. 9bc-10
Bacaan Kedua : Ibr. 9:24-28
Bacaan Injil : Mrk. 12:38-44
Saat itu sedang kemarau panjang, Tuhan memerintahkan nabi Elia untuk pergi ke Sarfat dan bertemu seorang janda yang sedang mengumpulkan kayu bakar. Janda tersebut memiliki sedikit tepung dan minyak, hanya cukup untuk membuat satu roti baginya dan anaknya; sebelum mereka mati kelaparan. Nabi Elia meminta agar janda itu membuat roti untuknya terlebih dahulu, dengan janji tepung dan minyak tidak akan habis hingga Tuhan mendatangkan hujan.
Saya membayangkan diri saya menjadi janda itu. Pasti saya takut kehabisan tepung dan minyak; apalagi harus mendahulukan membuat roti untuk nabi Elia. Jika tepung dan minyak habis, kami tidak akan bisa makan lagi. Di tengah situasi kesulitan dan kekurangan tersebut apakah saya akan menuruti permintaan nabi Elia?
Dalam psikologi ada istilah scarcity mindset (pola pikir kelangkaan) yaitu keyakinan bahwa segala sesuatu, termasuk keuangan, emosional, dan sosial, sangat terbatas (Kalil et al., 2023). Pola pikir ini seringkali membuat orang lebih fokus pada diri sendiri, kurang peduli terhadap kebutuhan orang lain, dan berpikir bahwa berbagi berarti akan semakin mengalami kekurangan. Namun perikop hari ini menunjukkan keberanian iman yang luar biasa. Walau hanya memiliki sedikit tepung dan minyak, si janda membuat roti untuk nabi Elia terlebih dahulu. Janda itu mengalahkan rasa takut akan kekurangan. Tuhan berkata kepada nabi Elia, singkatnya kira-kira seperti ini, “Jangan takut! Kamu tidak akan kekurangan dengan memberi!” Janda itu memberikan dari kekurangannya, dan Tuhan setia pada janji-Nya dengan mencukupi kebutuhan mereka.
Sesuai bacaan hari ini, kita diajak untuk percaya pada Tuhan seperti janda itu percaya kepada nabi Elia; yaitu dengan mengalahkan rasa takut akan kekurangan. 'Berani memberi' menunjukkan ketaatan kepada Tuhan, mesti sulit dan tampak tidak masuk akal. Dalam kondisi sulit sekalipun, memberi dengan tulus adalah persembahan terbaik. Tuhan akan mencukupkan kebutuhan kita, jika kita tetap percaya dan taat kepada-Nya.
Doa :
(Emilia Sulistyo)
Sebab beginilah firman Tuhan, Allah Israel:
Tepung dalam tempayan itu tidak akan habis dan minyak dalam buli-buli itu pun tidak akan berkurang sampai pada waktu Tuhan memberi hujan ke atas muka bumi."
(1Raj. 17:14)
Kalender Liturgi Minggu, 10 November 2024
Bacaan Pertama : 1Raj. 17:10-16
Mazmur Tanggapan : Mzm. 146:7. 8. 9a. 9bc-10
Bacaan Kedua : Ibr. 9:24-28
Bacaan Injil : Mrk. 12:38-44
Saat itu sedang kemarau panjang, Tuhan memerintahkan nabi Elia untuk pergi ke Sarfat dan bertemu seorang janda yang sedang mengumpulkan kayu bakar. Janda tersebut memiliki sedikit tepung dan minyak, hanya cukup untuk membuat satu roti baginya dan anaknya; sebelum mereka mati kelaparan. Nabi Elia meminta agar janda itu membuat roti untuknya terlebih dahulu, dengan janji tepung dan minyak tidak akan habis hingga Tuhan mendatangkan hujan.
Saya membayangkan diri saya menjadi janda itu. Pasti saya takut kehabisan tepung dan minyak; apalagi harus mendahulukan membuat roti untuk nabi Elia. Jika tepung dan minyak habis, kami tidak akan bisa makan lagi. Di tengah situasi kesulitan dan kekurangan tersebut apakah saya akan menuruti permintaan nabi Elia?
Dalam psikologi ada istilah scarcity mindset (pola pikir kelangkaan) yaitu keyakinan bahwa segala sesuatu, termasuk keuangan, emosional, dan sosial, sangat terbatas (Kalil et al., 2023). Pola pikir ini seringkali membuat orang lebih fokus pada diri sendiri, kurang peduli terhadap kebutuhan orang lain, dan berpikir bahwa berbagi berarti akan semakin mengalami kekurangan. Namun perikop hari ini menunjukkan keberanian iman yang luar biasa. Walau hanya memiliki sedikit tepung dan minyak, si janda membuat roti untuk nabi Elia terlebih dahulu. Janda itu mengalahkan rasa takut akan kekurangan. Tuhan berkata kepada nabi Elia, singkatnya kira-kira seperti ini, “Jangan takut! Kamu tidak akan kekurangan dengan memberi!” Janda itu memberikan dari kekurangannya, dan Tuhan setia pada janji-Nya dengan mencukupi kebutuhan mereka.
Sesuai bacaan hari ini, kita diajak untuk percaya pada Tuhan seperti janda itu percaya kepada nabi Elia; yaitu dengan mengalahkan rasa takut akan kekurangan. 'Berani memberi' menunjukkan ketaatan kepada Tuhan, mesti sulit dan tampak tidak masuk akal. Dalam kondisi sulit sekalipun, memberi dengan tulus adalah persembahan terbaik. Tuhan akan mencukupkan kebutuhan kita, jika kita tetap percaya dan taat kepada-Nya.
Doa :
Tuhan Yesus, ampuni kami yang seringkali takut kekurangan, padahal Engkau selalu setia dan mencukupkan segala yang kami butuhkan. Tuntun kami agar semakin percaya dan taat kepada-Mu, terutama di dalam kesulitan yang akan kami lalui. Amin.

Komentar
Posting Komentar