(Renungan) Dalam Keletihan Menjawab Ajakan Yesus

Dalam Keletihan Menjawab Ajakan Yesus
(Melani Sudhana)


Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.
(Mat. 11:28)


Kalender Liturgi Rabu, 11 Desember 2024
Bacaan Pertama: Yes. 40:25-31
Mazmur Tanggapan: Mzm. 103:1-2. 3-4. 8. 10
Bacaan Injil: Mat. 11:28-30


Pada minggu pertama saya tinggal di Bandung untuk kuliah, saya mengalami home sick yang cukup parah. Ini adalah kali pertama saya tinggal jauh dari keluarga. Di hari Minggu saya pergi ke gereja sepagi mungkin agar dapat dengan leluasa curhat kepada Tuhan. Sesampainya di Katedral, saya tertegun dan tak kuasa menahan air mata setelah membaca tulisan di atas altar “Marilah kepada-Ku kamu yang lelah dan menanggung beban.” Saya merasa langsung disambut Tuhan. Saya ungkapkan rasa kesepian dan rinduku akan keluarga di rumah. Di kos, meskipun ada banyak teman, saya masih merasa asing. Selesai Misa, saya terkejut karena teman-teman kos sudah menunggu saya di depan gereja. Mereka lalu mengajak saya untuk ke Misa bareng Minggu berikutnya. Hari itu saya merasa at home di kos karena mempunyai teman-teman seperti keluarga sendiri.

Yesus mengajak kita untuk selalu datang kepada-Nya dalam keadaan apa pun. Terutama saat kita merasa lelah, berbeban berat dan sebagainya. Yesus akan memberi kelegaan, penyertaan dan kekuatan untuk menanggung beban hidup. Namun, untuk bisa mendapatkan kelegaan, kita diminta untuk memakai “kuk” yang Tuhan pasang pada diri kita. Kuk adalah bilah kayu yang dipasangkan di leher sapi untuk mengendalikan sapi saat petani membajak sawah. Jika sapi memberontak, beban bajak yang dipikulnya tentu akan menjadi berat. Jika sapi mengikuti arahan petani beban bajak pun menjadi ringan. Maka seperti itulah hidup kita. Jika kita menjalaninya bersama dan sesuai dengan arahan Tuhan, tentu beban yang berat akan terasa ringan.

Saya percaya Tuhan selalu dekat dengan kita. Namun Dia tidak memaksakan kehendak-Nya begitu saja. Tuhan memberi kita kebebasan untuk memilih. Dia menginginkan hubungan dua arah dengan kita, layaknya seorang Bapa berbincang penuh kasih dengan anaknya.

Maukah kita menjawab ajakan Tuhan, apa pun keadaan kita? Apakah kita siap mengenakan kuk yang dipasang-Nya? Marilah kita mulai membangun hubungan dengan-Nya melalui doa dan terlibat dalam kegiatan menggereja.

Doa:
Terima kasih Tuhan atas ajakan-Mu untuk selalu datang pada-Mu terutama saat kami mengalami kelelahan dan berbeban berat untuk mendapatkan kelegaan. Kau memberi kami kekuatan untuk dapat menjalankan hidup kami dan membuat hidup yang berat terasa ringan. Terima kasih Tuhan. Amin.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Peziarah Pengharapan

(Renungan) Hidup Terlalu Singkat untuk Tidak Berbuah