(Renungan) Peka Mengenali Kehendak Allah

Peka Mengenali Kehendak Allah 
(Hendri Candra)


Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, 
kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak berkabung. 
(Mat. 11:17)


Kalender Liturgi Jumat, 13 Desember 2024
PW. St. Lusia, Perawan dan Martir
Bacaan Pertama : Yes. 48:17-19
Bacaan Injil : Mat. 11:16-19


Hampir setiap pagi, seorang ibu berdoa dengan khusyuk di Goa Maria. Setelah memperoleh kesempatan berbincang dengannya, dia menceritakan bahwa ia selalu mendoakan pertobatan suaminya yang dulunya rajin ke gereja, namun belakangan karena kesibukan pekerjaan menjadi lupa ke gereja.

Dia mengakui walau kadang gamang, namun dia sungguh percaya bahwa suatu hari suaminya akan membuka hati atas jamahan Tuhan dan mau bertobat. Setiap kali mengalami kegamangan, anak-anaknya selalu mengingatkan untuk selalu bertekun dalam doa. Ibu ini bersyukur atas hal ini. Dia dikuatkan kembali bahwa Tuhan pasti akan mengabulkan doa-doanya. Kepada Ibu tersebut saya berjanji ikut mendoakan di dalam doa pribadi saya.

Bertolak belakang dengan iman ibu tersebut, bacaan Injil hari ini memperlihatkan kesedihan Yesus atas kedegilan sikap bangsa Yahudi yang sombong dan kurang percaya melihat cara Allah bekerja dan bahkan mencari kesalahan-kesalahan untuk membenarkan sikap mereka.

Yohanes Pembaptis yang diutus Allah untuk mendahului kedatangan Yesus Kristus, Sang Mesias, yang selalu menyerukan pertobatan; dianggap sebagai kerasukan setan karena dia tidak minum dan makan.

Yesus yang selalu bersikap penuh kasih dan solider dan telah melakukan beberapa mukjizat, tidak mereka anggap sebagai Mesias yang telah dijanjikan Allah. Mereka menuduh Yesus seorang pelahap, peminum dan sahabat pemungut cukai dan orang-orang berdosa.

Mata hati yang tertutup karena kesombongan dan hanya merumuskan kriteria Mesias yang sesuai dengan gambaran dan harapan mereka membuat bangsa Yahudi tidak mengimani Yesus sebagai Mesias yang telah dijanjikan Allah. Padahal melalui Nabi Yesaya, bangsa Israel telah diingatkan berkali-kali agar selalu setia dan taat kepada Allah karena Allah telah menjanjikan damai sejahtera seperti sungai yang tidak pernah kering dan kebahagiaan akan terus berlimpah. 

Mengenal Allah dengan dekat dan menaati perintah-perintah-Nya membuat iman kita bertumbuh dan berakar kuat, bisa berpengharapan dan merasakan kasih Tuhan yang selalu tercurah dalam hidup kita. Iman yang kuat membuat Santa Lusia, perawan dan martir yang kita peringati hari ini, mendedikasikan hidupnya hanya menjadi ‘milik’ Yesus. Iman seperti yang dimiliki Santa Lusia, senantiasa boleh menjadi teladan bagi kita. Santa Lusia, doakanlah kami.

Doa:
Allah Bapa Maha Kasih, bimbinglah dan teguhkanlah kami untuk senantiasa peka mendengarkan bisikan-Mu dan taat melaksanakan  ajaran-Mu, sehingga kami bisa berkata kami di dalam Kristus dan hidup seperti Kristus. Demi Kristus, Tuhan  dan pengantara kami. Amin.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Peziarah Pengharapan

(Renungan) Hidup Terlalu Singkat untuk Tidak Berbuah