(Renungan) Mengampuni tanpa Syarat

Mengampuni tanpa Syarat
(Made Shinta)

Demikian juga yang akan diperbuat oleh Bapa-Ku yang di surga terhadap kamu,
 apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.
(Mat. 18:35)

Kalender Liturgi Kamis, 14 Agustus 2025
PW. S. Maksimilianus Maria Kolbe, ImMrt
Bacaan Pertama : Yos. 3:7-10a. 11. 13-17
Mazmur Tanggapan : Mzm. 114:1-2. 3-4. 5-6
Bacaan Injil : Mat. 18:21-19:1

Petrus bertanya kepada Yesus, berapa kali ia harus mengampuni saudara yang berbuat dosa, apakah sampai tujuh kali. Menurut hukum Yahudi dalam Talmud, secara khusus pada Gemara (Yoma 87a), terdapat konsep bahwa seseorang yang meminta pengampunan tidak boleh  lebih dari tiga kali. Berarti Petrus sudah berpikir di atas aturan. Namun jawaban Yesus lebih luar biasa: "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh.” Lalu Ia pun memberikan perumpamaan tentang seorang raja yang mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya. Ada hamba yang tidak mampu melunasi utang sebesar sepuluh ribu talenta yang setara dengan dua ratus tahun bekerja. Ia sujud menyembah kepada tuannya. Hati tuannya tergerak oleh belas kasihan dan menghapus utangnya. Sebaliknya, ada yang berutang hanya sebesar sepuluh dinar atau setara seratus hari kerja kepada orang yang telah dibebaskan tadi, tapi ia menolak memberikan pengampunan serta menyerahkannya ke penjara. 

Pada malam 17 Juni 2015, saat pendalaman Kitab Suci di sebuah gereja umat African American di Charleston, South Carolina, datang anak muda  bernama Dylann Roof. Ia memperkenalkan diri lalu duduk. Satu jam kemudian saat berdoa, ia menembakkan senapan otomatis dengan motivasi rasial/hate crime. Sembilan orang meninggal di tempat. Pada akhir sidang di pengadilan, ia mendapat hukuman mati. Saat itu keluarga para korban diperkenankan menyampaikan isi hati. Satu per satu mereka yang kehilangan orang yang dikasihi maju dan memberikan pengampunan. 

Pengampunan unconditionally atau tanpa syarat telah ditunjukkan oleh Tuhan Yesus di kayu salib. Hal ini sangat tidak mudah dan butuh kemurahan hati yang luar biasa. Ia memberikan pengampunan dengan segenap hati. 

Kita adalah orang yang berutang sepuluh ribu talenta dan utang itu telah dihapus. Pengampunan sama seperti membebaskan utang. Tidak hanya sebatas memaafkan, tetapi tidak menyimpan dendam atau amarah. Marilah kita mohon rahmat Allah agar selalu diberikan kemurahan hati untuk dapat mengampuni, seperti yang telah kita terima dari-Nya sepanjang hidup!

Doa:
Tuhan Yesus Yang Maha Kasih, kami sungguh bersyukur atas kemurahan hati-Mu yang selalu membuka pintu pengampunan atas dosa-dosa kami. Mohon bantuan rahmat-Mu agar kami pun mau dan mampu mengampuni dengan segenap hati. Amin.
 





Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Peziarah Pengharapan

(Renungan) Hidup Terlalu Singkat untuk Tidak Berbuah