(Renungan) Tak Terceraikan

Tak Terceraikan
(Angelika Endang)

“Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” 
(Mat.19:6)

Kalender Liturgi Jumat, 15 Agustus 2025
Bacaan Pertama : Yos.24:1-13
Mazmur Tanggapan : Mzm.136:1-3. 16-18. 21-22. 24
Bacaan Injil : Mat.19:3-12

Perkawinan adalah karunia cinta kasih dari Allah yang amat sakral. Demikianlah yang hendak ditekankan oleh Yesus dalam bacaan Injil hari ini. Allah sendiri hadir dan memberkati sepasang sejoli yang berjanji setia berumah tangga melalui Sakramen Perkawinan. Secara singkat, janji perkawinan Katolik adalah berjanji setia dalam untung dan malang, sehat dan sakit, mencintai dan menghormati seumur hidup. Sebagaimana Kristus selalu setia dan tidak pernah meninggalkan Gereja-Nya, demikian juga suami istri yang telah saling menerimakan Sakramen Perkawinan tidak dapat dipisahkan, kecuali oleh maut.

Ada kisah tentang kesetiaan suami yang luar biasa. Istri tercinta mengalami kelumpuhan setelah melahirkan anak yang terakhir. Ia tidak bisa bergerak maupun berbicara lagi. Suami tetap merawatnya dengan setia, sekaligus merawat anak-anak. Setelah anak-anak beranjak dewasa dan mengerti pengorbanan yang dilakukan papa, anak-anak menyatakan bahwa mereka rela bila papa ingin menikah lagi. Apa jawab dari sang papa?  “Tidak, mama masih ada. Papa tidak mau mengingkari janji perkawinan yang pernah papa ucapkan di hadapan Tuhan, saat papa menikahi mama kalian. Kalian harus tahu bahwa bila seseorang mencintai dan mengasihi suami atau istrinya, selamanya mereka akan bersatu dan tak akan terceraikan. Kekurangan fisik tidak boleh menjadi alasan untuk mengkhianati janji perkawinan.”

Perkawinan adalah lambang dan perwujudan misteri perjanjian Allah dengan umat-Nya. Dalam perkawinan ada cinta bersifat romantis dan harmoni, sekaligus ada pula kasih yang mau memberi dan memaafkan. Perkawinan sebagai sebuah peziarahan, selalu berawal membawa pengharapan bagi pasangan untuk berbahagia. Namun drama kehidupan tak pernah tertebak alurnya. Ada sakit, jatuh bangun, godaan dan hal-hal lain yang merapuhkan ikatan perkawian. Dalam perkawinan Katolik, kata kuncinya adalah setia. Perkawinan Katolik tidak hitung menghitung untung rugi; wajib setia dalam suka dan duka, sakit dan sehat. 

Si papa sudah memberikan teladan kesetiaan kepada anak-anaknya. Kita yang sudah berumah tangga pun bisa belajar arti kata setia dari si papa.

Doa:
Tuhan, puji syukur Engkau selalu ada di tengah-tengah perkawinan kami, sehingga dalam masa yang pelik sekalipun kami tetap bisa mempertahankan perkawinan kami. Kau juga mampukan kami membesarkan anak-anak yang Kau titipkan kepada kami menjadi anak-anak yang berbahagia. Terima kasih, Tuhan. Amin.    




Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Peziarah Pengharapan

(Renungan) Hidup Terlalu Singkat untuk Tidak Berbuah