(Renungan) Kebahagiaan Sejati
Kebahagiaan Sejati
Semua orang pastilah ingin hidup berbahagia. Namun banyak orang salah mengartikan kebahagiaan, sehingga mereka berjuang dengan segala upaya untuk mencapai berbagai hal sesuai standar dunia: harta kekayaan, kedudukan, popularitas, kekuasaan dan lain sebagainya. Mereka mengira bahwa mereka akan berbahagia jika telah memperoleh hal-hal tersebut. Sayangnya, kebahagiaan yang mereka peroleh hanya bersifat semu dan sementara karena semuanya itu bukanlah kebahagiaan sejati.
(K. Cecilia Yanti)
“Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah,
karena merekalah yang punya Kerajaan Surga.”
(Mat. 5:3)
Kalender Liturgi Sabtu, 1 November 2025
Hari Raya Semua Orang Kudus
Bacaan Pertama: Why. 7:2-4.9-14
Mazmur Tanggapan: Mzm. 24:1-2.3-4ab.5-6
Bacaan Kedua: 1Yoh. 3:1-3
Bacaan Injil: Mat. 5:1-12a
Bacaan Pertama: Why. 7:2-4.9-14
Mazmur Tanggapan: Mzm. 24:1-2.3-4ab.5-6
Bacaan Kedua: 1Yoh. 3:1-3
Bacaan Injil: Mat. 5:1-12a
Semua orang pastilah ingin hidup berbahagia. Namun banyak orang salah mengartikan kebahagiaan, sehingga mereka berjuang dengan segala upaya untuk mencapai berbagai hal sesuai standar dunia: harta kekayaan, kedudukan, popularitas, kekuasaan dan lain sebagainya. Mereka mengira bahwa mereka akan berbahagia jika telah memperoleh hal-hal tersebut. Sayangnya, kebahagiaan yang mereka peroleh hanya bersifat semu dan sementara karena semuanya itu bukanlah kebahagiaan sejati.
Melalui Sabda Bahagia, Tuhan Yesus mengajarkan para murid-Nya mengenai arti kebahagiaan sejati, yaitu persekutuan kekal dengan Allah dalam Kerajaan Surga. Dalam Sabda Bahagia, Tuhan Yesus memberikan panduan bagi para murid-Nya dalam menghadapi berbagai kesulitan maupun penganiayaan. Mereka hendaknya selalu bersukacita dalam menjalani hidup sesuai kehendak Allah, tetap bersikap baik, berbelarasa pada sesama, tetap setia kepada Allah hingga akhir hayat, dan selalu mengandalkan-Nya dalam segala situasi.
Dengan berbuat demikian, mereka sudah menjadi bagian dari Kerajaan Allah dan akan hidup bersama Allah serta menikmati damai dan sukacita sejati.
Pada tanggal 22 November Gereja memperingati St. Cecilia, salah satu orang kudus yang telah berbahagia bersama Allah di Surga. St. Cecilia adalah seorang gadis dari keluarga bangsawan Romawi. Sejak ia menjadi pengikut Kristus, ia tekun berdoa dan mengikuti Perayaan Ekaristi. Ia mempergunakan harta kekayaannya untuk membantu sesama umat Allah yang mengalami penganiayaan serta membantu memakamkan para martir yang telah dibunuh. Iman dan perbuatan ini membuatnya ditangkap. Pemerintah Romawi menawarkan untuk membebaskannya, jika ia menyangkal Kristus dan kembali menyembah para dewa. Namun ia memilih untuk tetap setia kepada Kristus sehingga ia mengalami berbagai penyiksaan. Cecilia tetap mengandalkan Allah dan tetap setia pada Kristus sampai akhirnya ia menerima mahkota kemartirannya di surga.
Tuhan Yesus mengajarkan agar para murid-Nya tetap setia kepada-Nya dan melakukan berbagai perbuatan kasih kepada Allah dan sesama. St. Cecilia telah memberi teladan iman untuk tetap setia di tengah situasi sulit hingga akhir hidupnya. Maukah kita meneladani St. Cecilia untuk tetap setia kepada Allah hingga tiba waktunya kita kembali kepada-Nya?
Doa:
Tuhan Yesus yang penuh kasih, terima kasih Engkau telah menyadarkan kami akan makna kebahagiaan sejati. Bimbinglah kami agar selalu hidup sesuai kehendak-Mu dan mengandalkan Engkau dalam segala situasi yang kami hadapi. Tuntunlah kami agar tetap setia kepada-Mu hingga akhir kehidupan kami dan dapat menjadi saksi-Mu melalui perkataan dan perbuatan kami. Demi Kristus, Tuhan dan Juru Selamat kami. Amin.
Tuhan Yesus yang penuh kasih, terima kasih Engkau telah menyadarkan kami akan makna kebahagiaan sejati. Bimbinglah kami agar selalu hidup sesuai kehendak-Mu dan mengandalkan Engkau dalam segala situasi yang kami hadapi. Tuntunlah kami agar tetap setia kepada-Mu hingga akhir kehidupan kami dan dapat menjadi saksi-Mu melalui perkataan dan perbuatan kami. Demi Kristus, Tuhan dan Juru Selamat kami. Amin.

Komentar
Posting Komentar