(Renungan) Dominus Flevit

Dominus Flevit
(Gregorius Junus)

Ketika telah mendekati dan melihat kota itu, Yesus menangisinya.
(Luk. 19:41)

Kalender Liturgi Kamis, 20 November 2025
Bacaan Pertama: 1Mak. 2:15-29
Mazmur Tanggapan: Mzm. 50:1-2.5-6.14-15
Bacaan injil: Luk. 19:41-44

Sebuah Gereja Katolik sarat simbol dibangun dengan indah di lokasi yang diyakini tempat Yesus melihat dan menangisi kota Yerusalem. Gereja ini diberi nama Dominus Flevit (Latin) yang artinya Tuhan menangis. Seorang arsitek Italia, Antonio Barluzzi, merancangnya dengan konsep bentuk kubah menyerupai tetesan air mata, melambangkan Yesus yang menangis.

Injil mengisahkan beberapa peristiwa yang membuat Tuhan Yesus menangis. Yesus menangis saat kematian sahabatnya, Lazarus (Yoh. 11:35). Yesus pun menangis ketika telah dekat dan melihat kota Yerusalem (Luk. 19:41). Peristiwa ini penting karena membuat Tuhan bersedih hati, bahkan menangis. Yesus menangis karena Yerusalem menolak-Nya (Luk. 19:42). Ini berarti menolak damai sejahtera dan keselamatan yang ditawarkan oleh Allah. Yesus menangis juga karena penderitaan yang akan menimpa kota dan penduduk Yerusalem (Luk. 19:43-44). Nubuat Yesus ini tergenapi sekitar 40 tahun setelah Yesus menyatakannya. Pada tahun 70 M pasukan Romawi mengepung dan menghancurkan seluruh kota dan Bait Allah. Yesus pun menangis karena cinta dan belas kasih-Nya kepada kota dan penduduk Yerusalem. Kita adalah kota dan penduduk Yerusalem masa kini. Menolak Tuhan berarti menerima kehancuran hidup, bahkan kehilangan keselamatan kekal.

Saya mengalami lawatan Tuhan pertama kali dengan cara unik pada usia 15 tahun. Saat itu, saya jatuh cinta pada pandangan pertama, ingin menjadi seorang misdinar meskipun belum mengenal agama Katolik. Panggilan itu saya sambut dengan mengikuti katekumen, baptisan, dan belajar seluk-beluk iman Katolik. Saya berjuang untuk terus menyambut dan melakukan kehendak Tuhan, agar dapat memperoleh damai sejahtera sejati, yaitu keselamatan kekal. Suatu perjuangan yang masih berlangsung hingga kini.

Apakah kita peka saat Tuhan berkali-kali melawat kita? Apakah mata kita tertutup untuk tahu apa yang diperlukan untuk memperoleh damai sejahtera? Marilah kita mengenali dan tak henti menyambut saat Tuhan melawat kita! Tuhan bisa mengunjungi kita melalui pelbagai peristiwa. Jangan abaikan kesempatan yang diberikan Tuhan untuk damai sejahtera dan keselamatan kekal!

Doa:
Allah Bapa sumber keselamatan sejati, kami bersyukur dan berterima kasih karena Engkau telah terlebih dulu melawat dan menawarkan keselamatan sejati bagi kami. Kami ingin terus menyambut-Mu ketika Engkau datang mengunjungi kami. Tuhan, kami pun ingin datang dan semakin dekat pada-Mu, Sang Penyelamat Sejati. Doa ini kami panjatkan kepada-Mu ya Bapa, dengan pengantaraan Yesus Kristus, Tuhan kami yang terkasih. Amin.



 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Peziarah Pengharapan

(Renungan) Warisan Berharga bagi Manusia