(Renungan) Iman yang Bernafas dalam Doa

Iman yang Bernafas dalam Doa
(K.I.A. Anggi) 

Tidakkah Allah akan memberi keadilan kepada orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Apakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka?
(Luk. 18:7)

Kalender Liturgi Sabtu, 15 November 2025
Bacaan Pertama: Keb. 18:14-16;19:6-9
Mazmur Tanggapan: Mzm. 105:2-3.36-37.42-43
Bacaan Injil: Luk. 18:1-8

Seorang hakim dalam arti hukum secara khusus menyiratkan bahwa seseorang memiliki kualifikasi dan wewenang untuk memberikan keputusan dalam perkara yang dipermasalahkan. Suatu jabatan yang luhur. Namun, dalam kisah Injil hari ini, sang hakim diperkenalkan sebagai seseorang yang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati manusia. Sang Hakim dihadapkan dengan seorang janda, yang dalam hukum dan hikmat Israel adalah lambang manusia lemah yang harus diberi perlindungan hukum. Sang janda tidak jemu-jemunya meminta, tiap-tiap hari, membuat sang hakim yang tidak mau diganggu merasa disusahkan sampai akhirnya membela perkara dan membenarkan janda tersebut.

Ada sedikit kekhawatiran dalam hati saat papi meninggal pada Desember 2024 lalu. Walaupun beliau rajin berdoa, rajin ke gereja ikut Misa, bahkan aktif ikut kegiatan lingkungan, papi tidak pernah mau ikut Sakramen Tobat. Padahal yang mengajak saya sendiri, yang notabene seorang katekis di paroki. Saya tiap-tiap hari hanya dapat berdoa Koronka Kerahiman Ilahi, mendoakan anggota keluarga yang sudah meninggal, khususnya papi agar diampuni dosa-dosanya dan jiwa papi tenang di surga.

Yesus mengajarkan ketekunan dalam doa agar Allah sudi membela umat pilihan-Nya dalam pengadilan terakhir, di saat kedatangan Anak Manusia. Murid-murid Yesus hendaknya menarik hikmat dari ketekunan si janda. Sebagaimana janda yang lemah itu tak jemu-jemu meminta dan akhirnya mendapat, demikian juga para murid hendaknya bertekun dan bersungguh-sungguh dalam memohon pembelaan dari Allah. Doa itu penting, bukan untuk mengubah sikap Yesus Sang Hakim, yang sudah pasti benar; tetapi untuk memupuk dan memelihara iman, yang bernafas dalam doa dan membuka tangan untuk menerima keselamatan akhir.

You are my first star at night
I'd be lost in space without you
And I'll never lose my faith in you
How will I ever get to heaven if I do?


Maukah kita memulai untuk bertekun memelihara iman yang bernafas dalam doa, hingga kita sampai pada 'heaven', tujuan akhir peziarahan kita?

Doa:
Ya Bapa, hari ini kami diingatkan agar selalu tekun dalam doa-doa kami. Kami percaya Engkau akan mengabulkannya bagi siapa pun yang berdoa dengan kerendahan hati dan memohon kepada-Mu siang dan malam. Biarlah kami memelihara iman yang bernafas dalam doa hingga pada saat akhir nanti. Amin.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Peziarah Pengharapan

(Renungan) Warisan Berharga bagi Manusia