(Renungan) Iman
Iman
(Alexandra Suliana Nur)
(Alexandra Suliana Nur)
Mendengar hal itu, Yesus heran dan berkata kepada mereka yang mengikuti-Nya, "Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel.
(Mat. 8:10)
Kalender Liturgi Senin, 1 Desember 2025
PW. B. Dionisius dan Redemptus, Biarawan dan Martir Indonesia
Bacaan Pertama: Yes. 2:1-5
Mazmur Tanggapan: Mzm. 122:1-2, 3-4a, (4b-5,6-7), 8-9
Bacaan Injil: Mat. 8:5-11
Perjalanan hidup manusia, sejak lahir hingga menutup mata, selalu diwarnai berbagai persoalan. Setiap tahap kehidupan memiliki tantangannya sendiri. Masa anak-anak, remaja, dewasa, hingga lanjut usia. Ada yang bergumul dengan keterbatasan kemampuan fisik (disabilitas), persoalan ekonomi, kesehatan, pasangan hidup, atau kesepian di masa tua. Tidak jarang orang harus berjalan dengan tongkat, duduk di kursi roda, atau menghadapi kenyataan harus tinggal di rumah jompo.
Dalam menghadapi semua itu, banyak orang mencari pertolongan ke segala arah, bercerita kepada teman, keluarga, pemimpin rohani, berkonsultasi kepada psikolog atau bahkan mendatangi 'orang pintar' demi solusi cepat dan instan. Namun sering kali mereka lupa, hanya Tuhan Yesuslah yang bisa memberikan pertolongan. Meminta bantuan kepada kuasa gelap justru membawa penderitaan baru, sebab selalu ada harga mahal yang harus dibayar.
Kisah perwira dalam Injil hari ini mengajarkan makna iman sejati. Hambanya sedang terbaring lumpuh dan sangat menderita. Ia datang kepada Yesus memohon kesembuhan bagi hambanya. Ketika Yesus hendak datang ke rumahnya, perwira itu berkata, "Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku. Tetapi, katakan saja sepatah kata, dan hambaku itu akan sembuh.” Iman sebesar itu membuat Yesus heran dan memuji keyakinannya.
Saya pun pernah mengalami pergumulan iman. Setelah dibaptis menjadi Katolik, saya menyadari adanya kuasa gelap yang mengganggu hidup saya. Selama berbulan-bulan saya mencari pertolongan ke berbagai arah, tetapi tidak ada hasil. Akhirnya saya berserah penuh kepada Tuhan Yesus dan berkata, “Tuhan, aku hanya mau datang kepada-Mu. Jika aku harus mati karena ini, aku rela.” Tuhan menjawab doaku, menolong dan memulihkan hidupku perlahan-lahan.
Saya belajar bahwa iman sejati berarti percaya sepenuhnya kepada Yesus. Jika kita memiliki iman sebesar biji sesawi saja, kita dapat memindahkan gunung. Tuhan selalu menolong mereka yang beriman dan berharap penuh kepada-Nya.
Sudahkah kita berpasrah diri dan atau menyerahkan diri kita seutuhnya kepada Yesus? Sudahkah kita memohon agar iman kita terus tumbuh dan berkembang?
Doa:
Terima kasih, Tuhan Yesus, sebab hanya dengan beriman kepada-Mu kami sanggup menghadapi segala persoalan hidup. Tambahkanlah iman kami agar semakin teguh, bertumbuh dalam tanggung jawab, dan memberi kasih di tengah masyarakat. Dengan perantaraan Kristus, Tuhan kami, kini dan sepanjang masa. Amin.
Terima kasih, Tuhan Yesus, sebab hanya dengan beriman kepada-Mu kami sanggup menghadapi segala persoalan hidup. Tambahkanlah iman kami agar semakin teguh, bertumbuh dalam tanggung jawab, dan memberi kasih di tengah masyarakat. Dengan perantaraan Kristus, Tuhan kami, kini dan sepanjang masa. Amin.

Komentar
Posting Komentar