(Renungan) Masih Ada Waktu
Masih Ada Waktu
(Hendri Candra)
Kalender Liturgi Jumat, 28 November 2025
Bacaan Pertama: Dan. 7:2-14
Mazmur Tanggapan: T.Dan 3:75.76.77.78.79.80.81
Bacaan Injil: Luk. 21:29-33
Memandang foto-foto lawas anak saya yang sekarang sedang kuliah di luar negeri, perasaan saya berkecamuk antara rindu, bangga, bahagia dan sesal. Rasa sesal karena saya tidak hadir secara utuh sebagai seorang ayah, karena kesibukan pekerjaan dan urusan pribadi, dalam fragmen-fragmen tertentu dalam hidupnya. Bangga dan bahagia karena melihat dia yang semakin dewasa dan mandiri. Saya rindu karena waktu bersamanya terasa begitu cepat berlalu.
Mengenai konsep waktu, fisikawan bergelut dengan pemikiran dan teka teki apakah waktu akan berakhir. Albert Einstein mengatakan waktu akan berakhir, namun fisikawan mengatakan tidak ada akhir. Menghadapi dilema ini, beberapa ahli menyerah dan masih mempertanyakan apakah waktu akan berakhir atau tidak.
Bagaimana konsep waktu menurut iman kita? Melalui Injil Lukas hari ini, Yesus mengingatkan bahwa langit dan bumi akan berlalu, tetapi Sabda Tuhan tidak akan berlalu. Langit dan bumi adalah dunia fisik yang sifatnya sementara waktu dan akan berakhir. Tetapi sabda Tuhan sifatnya kekal, tidak ada batas waktu.
Sebagai seorang Kristen, saya sungguh mengimani bahwa hanya karena penyelenggaraan Ilahi saya boleh melewati setiap waktu dalam hidup ini. Dalam peristiwa suka dan bahagia terutama waktu bersama anak saya; saya lupa mengucap syukur dan menganggap semua itu berkat kemampuan saya sendiri. Namun, waktu menderita sakit dan berduka, saya bertanya mengapa Tuhan tidak hadir?
Menyitir Ebiet G Ade dalam lagunya “Masih Ada Waktu”:
Sampai kapankah gerangan
Waktu yang masih tersisa
Semuanya menggeleng
Semuanya terdiam
Semuanya menjawab tak mengerti
Yang terbaik hanyalah
Segeralah bersujud
Mumpung kita masih diberi waktu
Mari kita menata hidup, untuk semakin memancarkan kasih Tuhan, karena Tuhan telah terlebih dahulu mengasihi kita dengan kasih yang tak berkesudahan. Janganlah menimbun harta di bumi tetapi kumpulkanlah harta di surga dengan hidup benar dan melakukan firman-Nya. Sehingga di waktu pagi kita boleh berkata, ”Tuhan bukalah bibirku, supaya mulutku mewartakan pujian-Mu.” Di waktu malam kita kembali berdoa, “Semoga saya boleh beristirahat dengan tenang dalam keabadian bersama Bapa di surga.”
Doa:
Ya Tuhan, musim boleh berlalu, tetapi sabda-Mu akan hidup selama-lamanya. Semoga sabda-Mu yang telah ditaburkan boleh tumbuh subur bagi panenan-Mu yang abadi. Demi Kristus, Tuhan kami. Amin.
(Hendri Candra)
“Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu.”
(Luk. 21:33)
Bacaan Pertama: Dan. 7:2-14
Mazmur Tanggapan: T.Dan 3:75.76.77.78.79.80.81
Bacaan Injil: Luk. 21:29-33
Memandang foto-foto lawas anak saya yang sekarang sedang kuliah di luar negeri, perasaan saya berkecamuk antara rindu, bangga, bahagia dan sesal. Rasa sesal karena saya tidak hadir secara utuh sebagai seorang ayah, karena kesibukan pekerjaan dan urusan pribadi, dalam fragmen-fragmen tertentu dalam hidupnya. Bangga dan bahagia karena melihat dia yang semakin dewasa dan mandiri. Saya rindu karena waktu bersamanya terasa begitu cepat berlalu.
Mengenai konsep waktu, fisikawan bergelut dengan pemikiran dan teka teki apakah waktu akan berakhir. Albert Einstein mengatakan waktu akan berakhir, namun fisikawan mengatakan tidak ada akhir. Menghadapi dilema ini, beberapa ahli menyerah dan masih mempertanyakan apakah waktu akan berakhir atau tidak.
Bagaimana konsep waktu menurut iman kita? Melalui Injil Lukas hari ini, Yesus mengingatkan bahwa langit dan bumi akan berlalu, tetapi Sabda Tuhan tidak akan berlalu. Langit dan bumi adalah dunia fisik yang sifatnya sementara waktu dan akan berakhir. Tetapi sabda Tuhan sifatnya kekal, tidak ada batas waktu.
Sebagai seorang Kristen, saya sungguh mengimani bahwa hanya karena penyelenggaraan Ilahi saya boleh melewati setiap waktu dalam hidup ini. Dalam peristiwa suka dan bahagia terutama waktu bersama anak saya; saya lupa mengucap syukur dan menganggap semua itu berkat kemampuan saya sendiri. Namun, waktu menderita sakit dan berduka, saya bertanya mengapa Tuhan tidak hadir?
Menyitir Ebiet G Ade dalam lagunya “Masih Ada Waktu”:
Sampai kapankah gerangan
Waktu yang masih tersisa
Semuanya menggeleng
Semuanya terdiam
Semuanya menjawab tak mengerti
Yang terbaik hanyalah
Segeralah bersujud
Mumpung kita masih diberi waktu
Mari kita menata hidup, untuk semakin memancarkan kasih Tuhan, karena Tuhan telah terlebih dahulu mengasihi kita dengan kasih yang tak berkesudahan. Janganlah menimbun harta di bumi tetapi kumpulkanlah harta di surga dengan hidup benar dan melakukan firman-Nya. Sehingga di waktu pagi kita boleh berkata, ”Tuhan bukalah bibirku, supaya mulutku mewartakan pujian-Mu.” Di waktu malam kita kembali berdoa, “Semoga saya boleh beristirahat dengan tenang dalam keabadian bersama Bapa di surga.”
Doa:
Ya Tuhan, musim boleh berlalu, tetapi sabda-Mu akan hidup selama-lamanya. Semoga sabda-Mu yang telah ditaburkan boleh tumbuh subur bagi panenan-Mu yang abadi. Demi Kristus, Tuhan kami. Amin.

Komentar
Posting Komentar