(Renungan) Retreat for Healing
Retreat for Healing
(AM. Regina T.)
Kalender Liturgi Sabtu, 22 November 2025
PW. S. Sesilia, Perawan dan Martir
(AM. Regina T.)
Kini aku teringat akan kejahatan-kejahatan yang kulakukan di Yerusalem.
Aku sadar, itulah sebabnya semua bencana ini menimpaku.
(1Mak. 6:12a.13a)
PW. S. Sesilia, Perawan dan Martir
Bacaan Pertama: 1Mak. 6:1-13
Mazmur Tanggapan: Mzm. 9:2-3.4.6.16b.19
Bacaan Injil: Luk. 20:27-40
Bacaan pertama hari ini mengambil kutipan dari Kitab Pertama Makabe, salah satu Kitab Deuterokanonika. Meskipun sebagian orang menganggap Kitab Makabe tidak diilhami secara IIahi, karena tampakya tidak melibatkan peranan Tuhan secara eksplisit, namun kitab ini tetap dapat dijadikan bahan perenungan. Bacaan ini mengangkat kisah seorang tokoh yang digambarkan sebagai 'tunas yang berdosa' (1Mak. 1:10) yaitu Antiokhus Epifanes, seorang penguasa yang naik takhta pada tahun 175 sebelum Masehi, pada masa Kerajaan Yunani.
Selama masa pemerintahaannya, Antiokhus dikenal sangat kejam dan jahat. Ia menyerang dan menjarah Bait Suci, merampas harta benda serta perlengkapan yang berharga dan melakukan pembunuhan keji yang menewaskan banyak orang Israel. Namun, di balik semua keberhasilannya, ia juga mengalami kegagalan. Salah satunya ketika mencoba menaklukkan kota Elimais di Persia. Kegagalan ini ditambah dengan kegagalan pasukannya dalam merebut kota milik orang Israel membuat Antiokhus sangat bersedih, hingga jatuh sakit. Yang menarik, justru dalam kondisi inilah ia memiliki banyak waktu untuk merenungkan hidupnya.
Ia melakukan kilas balik atas perjalanan hidupnya. Segala keberhasilan dan pujian yang diterimanya tidak mendatangkan kebahagiaan atau kepuasan sejati. Ia mulai menyelami perasaannya dan menyadari bahwa kesesakan batin yang ia alami merupakan akibat dari perbuatan-perbuatan jahatnya. Ia pun menyesali segala kejahatan yang dibuatnya sebelum meninggal dunia.
Banyak dari kita, termasuk saya sendiri, sering kali tidak menyediakan waktu untuk melakukan 'retreat', yang berarti menarik diri dari rutinitas dan merefleksikan hidup. Setiap hari dalam kesibukan pada waktu siang dan kelelahan ketika malam tiba, membuat saya lupa untuk memeriksa 'jurnal harian' kehidupan saya. Pikiran-pikiran yang menyusahkan, tanpa disadari, kerap menjadi pemicu berbagai penyakit yang merupakan manifestasi dari penumpukan 'sampah jiwa'.
Seharusnya, kita tidak perlu menunggu hingga menjelang ajal seperti yang dialami oleh Raja Antiokhus Epifanes, barulah mulai memeriksa batin. Marilah kita senantiasa menyediakan waktu untuk membersihkan sampah jiwa, agar kita tidak hidup dalam penyesalan!
Doa:
Ya Bapa Yang Maha Rahim, kami bersyukur atas waktu yang Engkau berikan. Biarlah setiap hari menjadi hari baru, yang akan kami isi dengan hal-hal yang baik. Buatlah hati kami senantiasa bersyukur dan berterima kasih, karena kerahiman-Mu yang membebaskan kesesakan hidup kami. Amin.
Mazmur Tanggapan: Mzm. 9:2-3.4.6.16b.19
Bacaan Injil: Luk. 20:27-40
Bacaan pertama hari ini mengambil kutipan dari Kitab Pertama Makabe, salah satu Kitab Deuterokanonika. Meskipun sebagian orang menganggap Kitab Makabe tidak diilhami secara IIahi, karena tampakya tidak melibatkan peranan Tuhan secara eksplisit, namun kitab ini tetap dapat dijadikan bahan perenungan. Bacaan ini mengangkat kisah seorang tokoh yang digambarkan sebagai 'tunas yang berdosa' (1Mak. 1:10) yaitu Antiokhus Epifanes, seorang penguasa yang naik takhta pada tahun 175 sebelum Masehi, pada masa Kerajaan Yunani.
Selama masa pemerintahaannya, Antiokhus dikenal sangat kejam dan jahat. Ia menyerang dan menjarah Bait Suci, merampas harta benda serta perlengkapan yang berharga dan melakukan pembunuhan keji yang menewaskan banyak orang Israel. Namun, di balik semua keberhasilannya, ia juga mengalami kegagalan. Salah satunya ketika mencoba menaklukkan kota Elimais di Persia. Kegagalan ini ditambah dengan kegagalan pasukannya dalam merebut kota milik orang Israel membuat Antiokhus sangat bersedih, hingga jatuh sakit. Yang menarik, justru dalam kondisi inilah ia memiliki banyak waktu untuk merenungkan hidupnya.
Ia melakukan kilas balik atas perjalanan hidupnya. Segala keberhasilan dan pujian yang diterimanya tidak mendatangkan kebahagiaan atau kepuasan sejati. Ia mulai menyelami perasaannya dan menyadari bahwa kesesakan batin yang ia alami merupakan akibat dari perbuatan-perbuatan jahatnya. Ia pun menyesali segala kejahatan yang dibuatnya sebelum meninggal dunia.
Banyak dari kita, termasuk saya sendiri, sering kali tidak menyediakan waktu untuk melakukan 'retreat', yang berarti menarik diri dari rutinitas dan merefleksikan hidup. Setiap hari dalam kesibukan pada waktu siang dan kelelahan ketika malam tiba, membuat saya lupa untuk memeriksa 'jurnal harian' kehidupan saya. Pikiran-pikiran yang menyusahkan, tanpa disadari, kerap menjadi pemicu berbagai penyakit yang merupakan manifestasi dari penumpukan 'sampah jiwa'.
Seharusnya, kita tidak perlu menunggu hingga menjelang ajal seperti yang dialami oleh Raja Antiokhus Epifanes, barulah mulai memeriksa batin. Marilah kita senantiasa menyediakan waktu untuk membersihkan sampah jiwa, agar kita tidak hidup dalam penyesalan!
Doa:
Ya Bapa Yang Maha Rahim, kami bersyukur atas waktu yang Engkau berikan. Biarlah setiap hari menjadi hari baru, yang akan kami isi dengan hal-hal yang baik. Buatlah hati kami senantiasa bersyukur dan berterima kasih, karena kerahiman-Mu yang membebaskan kesesakan hidup kami. Amin.

Komentar
Posting Komentar