(Renungan) Akar yang Menopang Iman

Akar yang Menopang Iman
(Hijanto Mulia)

“Yakub mempunyai anak, Yusuf suami Maria. Dari Maria lahir Yesus yang disebut Kristus.” (Mat. 1:16)

Kalender Liturgi Rabu, 17 Desember 2025
Bacaan Pertama:Kej. 49:2.8-10
Mazmur Tanggapan: Mzm. 72:1-2-3-4ab.7-8.17
Bacaan Injil : Mat 1:1-17

Dalam kehidupan masyarakat Jawa, terdapat banyak pepatah yang menyimpan filosofi mendalam tentang cara manusia menata kehidupannya. Salah satu yang paling sering dibicarakan sebagai pedoman dalam menilai seseorang adalah istilah “bibit, bebet, bobot.”  'Bibit' berarti asal-usul atau garis keturunan. 'Bobot' mengacu pada kualitas pribadi dan budi pekerti, sedangkan 'bebet' menunjukkan kemampuan hidup atau kedudukan sosial.

Tradisi ini menekankan bahwa seseorang tidak hidup terpisah dari akar keluarganya. Ia dibentuk oleh warisan nilai, iman, dan teladan dari para pendahulunya. Demikian pula, silsilah Yesus menunjukkan bahwa Allah berkarya melalui garis keturunan manusia yang nyata, penuh kelemahan dan dosa, tetapi juga penuh harapan dan anugerah.

Dalam daftar panjang nama-nama yang ditulis oleh Matius, kita menemukan tokoh besar seperti Abraham dan Daud, tetapi juga orang-orang berdosa seperti Rahab dan Daud yang jatuh dalam dosa besar. Ada pula Zadok, Eliud, Eleazar, dan Matan, para leluhur Yusuf, suami Maria, yang berasal dari keturunan Lewi dan imam (Mat. 1:14-15). Ini menegaskan bahwa Allah tidak memilih yang sempurna, melainkan menebus dan menguduskan sejarah manusia yang rapuh.

Bagi banyak orang, silsilah dengan berderet-deret nama mungkin membosankan. Namun bagi orang Yahudi, silsilah bukan sekadar daftar nama, melainkan identitas dan kesinambungan iman. Silsilah menjadi akar yang menghubungkan seseorang dengan sejarah keselamatan.
Begitu pula dalam silsilah atau 'pohon keluarga' kita masing-masing. Ada cabang yang kuat, ada ranting yang patah, ada kisah indah, ada pula luka dan kegagalan. Namun semuanya membentuk siapa kita hari ini. Tuhan tidak memutuskan ranting yang rusak, melainkan menumbuhkan tunas baru di atasnya.

Dalam Kristus, setiap akar dan cabang hidup kita disatukan kembali dalam kasih Allah. Marilah kita menghargai 'pohon keluarga' kita: merenungi masa lalu, melanjutkan kebaikan leluhur, dan menanam iman bagi generasi yang akan datang! Sebab dari akar yang penuh kasih dan pengampunan, akan tumbuh buah kehidupan yang berlimpah dalam Kristus.

Doa:
Ya Tuhan, terima kasih karena Engkau hadir dan bekerja dalam setiap kisah keluarga kami. Meskipun penuh kelemahan, Engkau menumbuhkan harapan baru. Jadikan kami ranting yang berbuah dalam kasih-Mu dan pewaris iman yang setia. Amin.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Peziarah Pengharapan

(Renungan) Warisan Berharga bagi Manusia