(Renungan) Berkata dan Bertindak
Berkata dan Bertindak
(Ari Susanto)
Kalender Liturgi Selasa, 16 Desember 2025
Bacaan Pertama: Zef. 3:1-2.9-13
Mazmur Tanggapan: Mzm. 34:2-3.6-7.17-18.19.23
Bacaan Injil: Mat. 21:28-32
Kisah Injil hari ini tentang dua orang anak yang mendengar perintah ayahnya. ‘Anak yang satu’ menjawab, "tidak", namun melaksanakan perintah ayahnya. Sedangkan ‘anak yang lain’ menjawab, "ya", namun tidak melaksanakan. Inilah dua sikap hidup umat manusia di hadapan Allah.
Para pendengar khotbah Yesus menjawab, bahwa yang melakukan kehendak ayahnya adalah ‘anak yang pertama’. Karena ia pertama kali disebut dalam perumpamaan ini; tidak mengacu pada bangsa Israel atau pemuka agama Yahudi. Mereka ini dianggap pendosa, yakni para pemungut cukai dan pelacur. Tetapi setelah mendengar warta keselamatan Yohanes Pembaptis, mereka segera bertobat karena percaya. ‘Anak yang lain’ adalah orang yang mengeklaim dirinya umat beriman, tetapi tidak merasa perlu bertobat dan tidak percaya. Sebutan ‘anak’ adalah bagi mereka yang beriman kepada Allah Bapa, baik yang dianggap berdosa maupun yang terlihat saleh. Sebagai anak Allah Bapa, Yesus menegaskan pentingnya apa yang dilakukan (tindakan), bukan hanya apa yang dikatakan.
Sebagai pewarta, saat saya memberikan renungan dalam suatu komunitas doa, tanpa saya sadari, saya berbicara lancar tentang makna dari suatu perikop Kitab Suci. Para pendengar diam tertegun. Setelah selesai, saya merenung; apa yang tadi saya katakan belum saya lakukan. Ada seseorang yang mengucapkan terima kasih atas renungan yang menginspirasinya, sehingga ada kemauan untuk segera melakukan. Saya terdiam dan dalam hati saya juga bertekad untuk melaksanakan apa yang tadi saya ucapkan. Puji Tuhan, berkat renungan itu saya pun sanggup mendoakan orang yang telah menyakiti hati saya. Pada awalnya sungguh sangat berat, namun begitu doa diucapkan, hidup terasa ringan tanpa beban. Jadi, dengan mengucapkan doa bagi orang yang menyakiti hati saya itulah tindakan yang diminta Yesus.
Marilah kita menjaga martabat kita sebagai anak Allah, dengan senantiasa konsekuen dengan apa yang kita katakan, harus ditepati dan dilaksanakan dalam tindakan!
Dengan demikian orang-orang di sekitar kita mengenal bahwa kita adalah pengikut Kristus.
Doa:
Ya Allah Bapa yang bertahta di dalam surga, sumber kebijaksanaan yang sejati. Kami mohon, berikanlah kepada kami kerendahan hati agar kami mampu untuk bertindak dan menepati seturut apa yang telah kami ucapkan atau janjikan. Amin.
(Ari Susanto)
"Siapakah di antara keduanya yang melakukan kehendak ayahnya?”
(Mat. 21:31a)
Bacaan Pertama: Zef. 3:1-2.9-13
Mazmur Tanggapan: Mzm. 34:2-3.6-7.17-18.19.23
Bacaan Injil: Mat. 21:28-32
Kisah Injil hari ini tentang dua orang anak yang mendengar perintah ayahnya. ‘Anak yang satu’ menjawab, "tidak", namun melaksanakan perintah ayahnya. Sedangkan ‘anak yang lain’ menjawab, "ya", namun tidak melaksanakan. Inilah dua sikap hidup umat manusia di hadapan Allah.
Para pendengar khotbah Yesus menjawab, bahwa yang melakukan kehendak ayahnya adalah ‘anak yang pertama’. Karena ia pertama kali disebut dalam perumpamaan ini; tidak mengacu pada bangsa Israel atau pemuka agama Yahudi. Mereka ini dianggap pendosa, yakni para pemungut cukai dan pelacur. Tetapi setelah mendengar warta keselamatan Yohanes Pembaptis, mereka segera bertobat karena percaya. ‘Anak yang lain’ adalah orang yang mengeklaim dirinya umat beriman, tetapi tidak merasa perlu bertobat dan tidak percaya. Sebutan ‘anak’ adalah bagi mereka yang beriman kepada Allah Bapa, baik yang dianggap berdosa maupun yang terlihat saleh. Sebagai anak Allah Bapa, Yesus menegaskan pentingnya apa yang dilakukan (tindakan), bukan hanya apa yang dikatakan.
Sebagai pewarta, saat saya memberikan renungan dalam suatu komunitas doa, tanpa saya sadari, saya berbicara lancar tentang makna dari suatu perikop Kitab Suci. Para pendengar diam tertegun. Setelah selesai, saya merenung; apa yang tadi saya katakan belum saya lakukan. Ada seseorang yang mengucapkan terima kasih atas renungan yang menginspirasinya, sehingga ada kemauan untuk segera melakukan. Saya terdiam dan dalam hati saya juga bertekad untuk melaksanakan apa yang tadi saya ucapkan. Puji Tuhan, berkat renungan itu saya pun sanggup mendoakan orang yang telah menyakiti hati saya. Pada awalnya sungguh sangat berat, namun begitu doa diucapkan, hidup terasa ringan tanpa beban. Jadi, dengan mengucapkan doa bagi orang yang menyakiti hati saya itulah tindakan yang diminta Yesus.
Marilah kita menjaga martabat kita sebagai anak Allah, dengan senantiasa konsekuen dengan apa yang kita katakan, harus ditepati dan dilaksanakan dalam tindakan!
Dengan demikian orang-orang di sekitar kita mengenal bahwa kita adalah pengikut Kristus.
Doa:
Ya Allah Bapa yang bertahta di dalam surga, sumber kebijaksanaan yang sejati. Kami mohon, berikanlah kepada kami kerendahan hati agar kami mampu untuk bertindak dan menepati seturut apa yang telah kami ucapkan atau janjikan. Amin.

Komentar
Posting Komentar