(Renungan) Demi Cinta dan Kasih, Kunafikan Egoku

Demi Cinta dan Kasih, Kunafikan Egoku
(Dewi Mulyati S.)

Karena Yusuf suaminya, seorang yang benar dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di depan umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam.
(Mat. 1:19)

Kalender Liturgi Kamis 18 Desember 2025
Bacaan Pertama: Yer. 23:5-8
Mazmur Tanggapan: Mzm. 72:1-2.12-13.18-19
Bacaan Injil: Mat. 1:18-24

“Harta, tahta, dan wanita” adalah salah satu ukuran kesuksesan pria. Dua aspek pertama jelas ukurannya, yaitu semakin banyak harta, semakin tinggi jabatan, semakin terangkat reputasi pria. Lantas untuk aspek wanita, kriteria seperti apakah yang memenuhi ego seorang pria? 

Pada tahun 2000-an ketika semakin banyak wanita memasuki dunia kerja, pria dipaksa keadaan untuk mengambil peran domestik. Generasi pria sebelumnya seolah tabu mengurusi pekerjaan rumah tangga. Dalam sebuah interview acara TV, seorang suami yang istrinya bekerja, mengatakan bahwa dialah yang mencuci baju seluruh keluarga. Tetapi dia tidak mau menjemur cucian di luar karena tidak nyaman dilihat tetangga, jadi bahan omongan yang merendahkan dia. Ternyata ego pria bisa diturunkan ketika perasaan tanggung jawab dan cinta istri memanggilnya untuk bertindak. Tetapi tantangan terberat adalah mengelola ego ketika masyarakat menilai negatif tentang tindakannya. 

Zaman sekarang kita dapat melihat pria yang mengambil porsi urusan rumah tangga lebih besar, karena istri mereka mempunyai kesempatan karir lebih baik. Pria-pria ini berkomitmen dengan besar hati. Berani mengekspresikan cinta keluarga dengan pilihan yang bukan tanpa resiko, tersentil ego dan reputasinya, terutama di masyarakat patriarkat seperti Indonesia.  

Sebagai seorang pria, bisa dimengerti pergulatan ego yang dilalui Santo Yusuf sampai dia ingin menceraikan Maria yang diketahuinya hamil. Mungkin egonya terluka. Namun menariknya, saat Ia ingin menceraikan Maria secara diam-diam, muncul sisi lembutnya, rasa tanggung jawab, cinta kasih yang besar kepada Maria dengan melindunginya dari skandal. 
Ketika akhirnya Santo Yusuf mengiyakan kehendak Tuhan untuk menerima Maria dan membesarkan anak yang dikandungnya, apakah hidupnya dimudahkan? Kita tahu perjalanan Santo Yusuf dalam mendampingi Maria melahirkan dan membesarkan Yesus penuh tantangan. Santo Yusuf dengan berani mengesampingkan ego, memberikan kominten berupa tanggung jawab dan cintanya. 

Beranikah kita berkomitmen dalam pilihan hidup di jalan Tuhan? Mampukah kita mengesampingkan ego dan reputasi kita, ketika mengambil keputusan benar namun tidak popular, berpihak kepada kaum marjinal, terpinggirkan yang tidak dipandang masyarakat?  

Doa:
Syukur kepada-Mu Tuhan, karena telah mengirimkan Santo Yusuf sebagai teladan. Menjelang perayaan Natal yang berfokus kepada perayaan kelahiran Putra-Mu Yesus dan keagungan bunda-Nya Maria, Santo Yusuf seakan bersinar dalam diam. Namun, kekuatan dan cintanya yang menaungi Keluarga Kudus sangat menginspirasi. Berikanlah rahmat-Mu untuk memampukan kami meneladani Santo Yusuf, yang berani membuang ego-nya demi cinta kasih dan tanggung jawab kepada kehendak-Mu. Kuatkanlah kami ketika dalam persimpangan antara kehendak-Mu dan kehendak daging kami. Amin.



 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Peziarah Pengharapan

(Renungan) Warisan Berharga bagi Manusia