(Renungan) Keajaiban-Nya di Balik Kesetiaanku
Keajaiban-Nya di Balik Kesetiaanku
(Klara Yanti)
Kalender Liturgi Sabtu, 20 Desember 2025
Bacaan Pertama: Yes. 7:10-14
Mazmur Tanggapan: Mzm. 24:1-2.3-4ab.5-6
Bacaan Injil: Luk. 1:26-38
Perikop hari ini memperlihatkan bagaimana Allah bekerja melalui hati yang sederhana dan terbuka. Sosok Maria yang sederhana, menerima panggilan yang tidak ia mengerti sepenuhnya. Ia bertanya dan bergumul, namun pada akhirnya berkata, “Jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Sikap Maria ini menunjukkan bahwa iman sejati bukanlah mengerti semua rencana Tuhan, tetapi mempercayakan diri sepenuhnya pada-Nya. Allah berkarya melalui ketaatan yang lahir dari cinta.
Perjalanan hidupku juga memiliki gema kisah Maria. Saya menikah dengan seseorang yang berbeda iman. Setelah menikah, keluarga suami menekan dan memaksa agar mengikuti keyakinan mereka. Padahal sebelum menikah kami berdua telah sepakat menjalankan keyakinan masing-masing. Sebab bagi saya, cinta Tuhan tetap yang paling utama. Karena Tuhan yang telah memelihara saya sejak janin di kandungan ibu.
Imanku tetap berakar pada Yesus sebagai Mesias dan memelihara relasi dengan Tuhan dalam diam serta kesetiaan. Di saat bulan puasa, saya menyiapkan santapan sahur dan membantu suami menjalankan puasanya, bahkan mendorongnya sholat ketika ia mulai lelah.
Setelah lima tahun menikah, tanpa paksaan dan pertengkaran, suamiku justru menemukan damai dalam imanku. Ia akhirnya memilih bergabung dalam Gereja Katolik. Bukan karena kalah perdebatan, tetapi karena ia melihat cinta yang bertahan. Di sanalah aku mengerti, kadang Tuhan bekerja lewat kesetiaan kecil yang kita lakukan setiap hari.
Marilah kita melakukan refleksi dan introspeksi diri, apakah kita berani tetap setia pada kasih-Nya meski berada di tengah tekanan dan perbedaan? Apakah kita melihat tangan Tuhan bekerja dalam proses panjang yang kadang melelahkan? Apakah kita percaya bahwa kebaikan yang konsisten dapat mengubah hati? Semoga kita dapat mengikuti teladan kesetiaan dan ketaatan Bunda Maria.
Doa:
Tuhan, ajari kami memiliki hati yang terbuka seperti Bunda Maria. Hati yang berani mendengarkan, bertanya, dan tetap percaya pada penyertaan-Mu. Bimbinglah setiap keluarga yang hidup dalam perbedaan, agar mereka menemukan cara untuk saling menghormati dan mengasihi. Kuatkan kami untuk tetap setia melakukan kebaikan kecil setiap hari. Semoga hidup kami menjadi tanda damai-Mu bagi dunia. Amin.
(Klara Yanti)
Kata Maria, "Aku ini hamba Tuhan. Jadilah padaku menurut perkataanmu itu."
Lalu malaikat itu meninggalkan dia.
(Luk. 1:38)
Bacaan Pertama: Yes. 7:10-14
Mazmur Tanggapan: Mzm. 24:1-2.3-4ab.5-6
Bacaan Injil: Luk. 1:26-38
Perikop hari ini memperlihatkan bagaimana Allah bekerja melalui hati yang sederhana dan terbuka. Sosok Maria yang sederhana, menerima panggilan yang tidak ia mengerti sepenuhnya. Ia bertanya dan bergumul, namun pada akhirnya berkata, “Jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Sikap Maria ini menunjukkan bahwa iman sejati bukanlah mengerti semua rencana Tuhan, tetapi mempercayakan diri sepenuhnya pada-Nya. Allah berkarya melalui ketaatan yang lahir dari cinta.
Perjalanan hidupku juga memiliki gema kisah Maria. Saya menikah dengan seseorang yang berbeda iman. Setelah menikah, keluarga suami menekan dan memaksa agar mengikuti keyakinan mereka. Padahal sebelum menikah kami berdua telah sepakat menjalankan keyakinan masing-masing. Sebab bagi saya, cinta Tuhan tetap yang paling utama. Karena Tuhan yang telah memelihara saya sejak janin di kandungan ibu.
Imanku tetap berakar pada Yesus sebagai Mesias dan memelihara relasi dengan Tuhan dalam diam serta kesetiaan. Di saat bulan puasa, saya menyiapkan santapan sahur dan membantu suami menjalankan puasanya, bahkan mendorongnya sholat ketika ia mulai lelah.
Setelah lima tahun menikah, tanpa paksaan dan pertengkaran, suamiku justru menemukan damai dalam imanku. Ia akhirnya memilih bergabung dalam Gereja Katolik. Bukan karena kalah perdebatan, tetapi karena ia melihat cinta yang bertahan. Di sanalah aku mengerti, kadang Tuhan bekerja lewat kesetiaan kecil yang kita lakukan setiap hari.
Marilah kita melakukan refleksi dan introspeksi diri, apakah kita berani tetap setia pada kasih-Nya meski berada di tengah tekanan dan perbedaan? Apakah kita melihat tangan Tuhan bekerja dalam proses panjang yang kadang melelahkan? Apakah kita percaya bahwa kebaikan yang konsisten dapat mengubah hati? Semoga kita dapat mengikuti teladan kesetiaan dan ketaatan Bunda Maria.
Doa:
Tuhan, ajari kami memiliki hati yang terbuka seperti Bunda Maria. Hati yang berani mendengarkan, bertanya, dan tetap percaya pada penyertaan-Mu. Bimbinglah setiap keluarga yang hidup dalam perbedaan, agar mereka menemukan cara untuk saling menghormati dan mengasihi. Kuatkan kami untuk tetap setia melakukan kebaikan kecil setiap hari. Semoga hidup kami menjadi tanda damai-Mu bagi dunia. Amin.

Komentar
Posting Komentar