(Renungan) Membaca Tanda-Tanda
Membaca Tanda-Tanda
(Thomas Hari Hartanto)
Kalender Liturgi Kamis, 25 Desember 2025
Hari Raya Natal, Misa Fajar
Bacaan Pertama: Yes. 62:11-12
Mazmur Tanggapan: Mzm. 97:1.6.11-12
Bacaan Kedua: Tit. 3:4-7
Bacaan Injil: Luk. 2:15-20
Betapa tercengangnya para gembala melihat sesosok bayi baru lahir yang terbaring di atas palungan. Keadaan itu persis seperti yang dikatakan oleh para malaikat, yang menandakan bahwa bayi itu adalah Mesias. Hal yang sama kemudian dialami oleh para Majus yang dituntun oleh sebuah bintang kepada Yesus. Ironisnya, para imam dan ahli Taurat gagal untuk melihat kelahiran itu, meskipun mereka telah menyelidiki dan menunggunya selama berabad-abad. Kita pun sekarang menantikan kedatangan Kristus untuk yang kedua kali. Selama masa penantian itu, Ia telah berjanji untuk selalu menyertai kita sampai akhir zaman (Mat. 28:20b). Selama itu pula Ia berjanji akan menyatakan diri-Nya kepada orang yang percaya kepada-Nya (Yoh.14:21).
Pernahkah terlintas dalam pikiran kita, pada suatu saat, di suatu tempat, kita pun pernah diberi tanda kehadiran-Nya? Namun, seperti para ahli Taurat itu, kita pun gagal untuk memahami tanda-tanda itu? Selama masa pandemi, saya secara rutin pergi ke pasar untuk membeli rempah-rempah sebagai suplemen penjaga imunitas tubuh. Ada tukang parkir setengah baya di sana. Masker kain yang dipakainya tampak lusuh. Kadang-kadang saya menjumpai dia lagi tidur nyenyak di emper toko dengan alas karton seadanya. Yang menakjubkan adalah dia tidak pernah sakit karena tertular virus dan tetap sehat sampai saat ini.
Aku merenungkan hal itu dan menyadari betapa Tuhan melindungi dirinya dan anak istrinya yang berada di desa. Keluarganya hanya dapat berharap kiriman uang hasil menjaga parkir untuk penghidupan mereka. Tiba-tiba aku tersadar makna kutipan kata-kata Bunda Teresa: “Jika kamu ingin melihat Yesus, lihatlah orang miskin, dan jika ingin melayani Yesus, layanilah mereka.” (Mat. 25:40). Ya, aku merasakan Tuhan hadir dalam kehidupan tukang parkir itu.
Marilah kita merenungkan ajakan Bapa Kardinal untuk berdoa, mohon kegelisahan hati agar dapat perduli pada mereka yang lemah dan terpinggirkan! Semoga kita semakin peka mengenali tanda-tanda kehadiran Tuhan dalam diri mereka dan cepat-cepat bergerak membantu mereka.
Doa:
Tuhan Yesus, kuduskan hati dan pikiranku agar terbuka terhadap penderitaan sesama, terutama bagi mereka yang membutuhkan. Amin.
(Thomas Hari Hartanto)
Lalu mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf,
serta bayi yang berbaring di dalam palungan.
(Luk. 2:16)
Hari Raya Natal, Misa Fajar
Bacaan Pertama: Yes. 62:11-12
Mazmur Tanggapan: Mzm. 97:1.6.11-12
Bacaan Kedua: Tit. 3:4-7
Bacaan Injil: Luk. 2:15-20
Betapa tercengangnya para gembala melihat sesosok bayi baru lahir yang terbaring di atas palungan. Keadaan itu persis seperti yang dikatakan oleh para malaikat, yang menandakan bahwa bayi itu adalah Mesias. Hal yang sama kemudian dialami oleh para Majus yang dituntun oleh sebuah bintang kepada Yesus. Ironisnya, para imam dan ahli Taurat gagal untuk melihat kelahiran itu, meskipun mereka telah menyelidiki dan menunggunya selama berabad-abad. Kita pun sekarang menantikan kedatangan Kristus untuk yang kedua kali. Selama masa penantian itu, Ia telah berjanji untuk selalu menyertai kita sampai akhir zaman (Mat. 28:20b). Selama itu pula Ia berjanji akan menyatakan diri-Nya kepada orang yang percaya kepada-Nya (Yoh.14:21).
Pernahkah terlintas dalam pikiran kita, pada suatu saat, di suatu tempat, kita pun pernah diberi tanda kehadiran-Nya? Namun, seperti para ahli Taurat itu, kita pun gagal untuk memahami tanda-tanda itu? Selama masa pandemi, saya secara rutin pergi ke pasar untuk membeli rempah-rempah sebagai suplemen penjaga imunitas tubuh. Ada tukang parkir setengah baya di sana. Masker kain yang dipakainya tampak lusuh. Kadang-kadang saya menjumpai dia lagi tidur nyenyak di emper toko dengan alas karton seadanya. Yang menakjubkan adalah dia tidak pernah sakit karena tertular virus dan tetap sehat sampai saat ini.
Aku merenungkan hal itu dan menyadari betapa Tuhan melindungi dirinya dan anak istrinya yang berada di desa. Keluarganya hanya dapat berharap kiriman uang hasil menjaga parkir untuk penghidupan mereka. Tiba-tiba aku tersadar makna kutipan kata-kata Bunda Teresa: “Jika kamu ingin melihat Yesus, lihatlah orang miskin, dan jika ingin melayani Yesus, layanilah mereka.” (Mat. 25:40). Ya, aku merasakan Tuhan hadir dalam kehidupan tukang parkir itu.
Marilah kita merenungkan ajakan Bapa Kardinal untuk berdoa, mohon kegelisahan hati agar dapat perduli pada mereka yang lemah dan terpinggirkan! Semoga kita semakin peka mengenali tanda-tanda kehadiran Tuhan dalam diri mereka dan cepat-cepat bergerak membantu mereka.
Doa:
Tuhan Yesus, kuduskan hati dan pikiranku agar terbuka terhadap penderitaan sesama, terutama bagi mereka yang membutuhkan. Amin.

Komentar
Posting Komentar