(Renungan) Menjadi Murid dan Saksi-Nya

Menjadi Murid dan Saksi-Nya
(Antonius Tjahiono)

Kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku. 
Namun, orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan diselamatkan.
(Mat. 10:22)

Kalender Liturgi Jumat, 26 Desember 2025
Pesta S. Stefanus, Martir Pertama
Bacaan Pertama: Kis. 6:8-10, 7:54-59
Mazmur Tanggapan: Mzm. 31:3cd-4.6.8ab.16bc.17
Bacaan Injil: Mat. 10:17-22

Yesus memanggil dan mengutus kedua belas murid-Nya, memberi mereka kuasa untuk mewartakan bahwa Kerajaan Surga sudah dekat. Mereka diutus kepada banyak bangsa yang tidak mengenal Allah, bangsa-bangsa yang mungkin akan menolak bahkan menyiksa mereka. Namun Yesus tidak membiarkan mereka berjalan sendirian; Ia mengaruniakan Roh Kudus untuk menolong mereka dalam setiap kesaksian. Kedua belas murid itu akhirnya menjadi para rasul yang tetap bersaksi dengan setia, meskipun dihina dan dianiaya. Mereka sungguh menjadi murid-Nya sekaligus saksi-Nya.

Ketika jumlah murid bertambah, para rasul memerlukan bantuan. Maka dipilihlah tujuh diakon, orang-orang yang baik dan penuh hikmat. Di antara mereka, Stefanus menonjol karena dipenuhi rahmat dan kuasa untuk mengadakan mukjizat. Perkataannya penuh hikmat dan dikuatkan Roh Kudus, sehingga ia tidak gentar menghadapi lawannya. Namun kesaksiannya menimbulkan kemarahan banyak orang. Ia akhirnya diseret keluar kota dan dirajam sampai mati.

Hari ini Gereja memperingati Pesta Santo Stefanus, martir pertama. Sehari setelah Natal, ketika kita merayakan kelahiran Sang Juru Selamat, Gereja mengarahkan kita pada kesaksian seorang martir. Yesus yang lahir sebagai inkarnasi Allah, datang untuk membawa manusia kepada keselamatan dan hidup kekal. Untuk itu Ia mengundang setiap orang menjadi murid dan saksi-Nya. Stefanus menjadi teladan murid yang setia sampai akhir, dibenci karena nama Yesus, namun bertahan dan memperoleh keselamatan.

Aku yang telah dibaptis pun dipanggil menjadi murid dan saksi-Nya, meskipun tidak dalam bentuk penderitaan dan penganiayaan seperti Stefanus. Kesaksianku terutama berupa pengalaman penyertaan Tuhan. Ketika pulang kerja dari Pulogadung ke Kosambi Baru saat peristiwa Mei 1998, ketika dihadang preman di Terminal Cililitan, atau ketika pernah tertipu. Dalam semuanya itu, aku selamat karena pertolongan-Nya.

Menjadi murid-Nya dan menjadi saksi-Nya adalah dua hal yang tak terpisahkan. Ketika dibaptis, kita menerima Yesus sebagai guru dan penuntun hidup. Kini kita perlu bertanya pada diri sendiri: "Sudahkah kita siap menjadi murid yang taat dan saksi yang setia bagi-Nya?"

Doa: 
Tuhan Yesus Yang Maha Baik, Engkaulah guru dan panutan kami. Atas kebaikan-Mu, kami bersyukur boleh menjadi murid-Mu dan menjadi saksi-Mu. Semoga kami selalu bekerja sama dengan Roh Kudus-Mu untuk bersaksi, bahwa Engkaulah yang membawa kami ke hidup kekal, sebab Engkaulah Tuhan, Juru Selamat kami kini dan sepanjang segala masa. Amin. 








Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Peziarah Pengharapan

(Renungan) Warisan Berharga bagi Manusia