(Renungan) Perjuangan Yusuf adalah Perjuanganku
Perjuangan Yusuf adalah Perjuanganku
(Nina Agustina)
(Nina Agustina)
Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai istrinya.
(Mat. 1:24)
Kalender Liturgi Minggu, 21 Desember 2025
Bacaan Pertama: Yes. 7:10-14
Mzm Tanggapan: Mzm. 24:1-2, 3-4ab.5-6
Bacaan Injil: Mat.1:18-24
Kehamilan bagi pasangan muda merupakan momen yang ditunggu-tunggu dan membawa sukacita. Namun, kehamilan sebelum resmi menjadi suami istri akan dianggap aib.
Bacaan Injil hari ini berkaitan dengan lahirnya Yesus Kristus, di mana sang ibu, Maria, telah hamil sebelum menjadi suami istri dengan ayahnya, Yusuf. Yusuf tahu bahwa Maria seorang gadis yang suci, menjaga kemurniannya dan tidak mengkhianatinya dengan laki-laki lain. Ia tahu kehamilan Maria karena karya Roh Kudus. Hanya saja, ia berjuang untuk mengatasi rasa takutnya sendiri, akan seperti apakah kehidupan pernikahan mereka nanti. Yusuf dihadapkan pada dua pilihan: mengikuti rencana Allah atau tidak.
Karena takut, Yusuf bermaksud menceraikan Maria dengan diam-diam. Karena belas kasihnya pada tunangannya ini, biarlah ia saja yang dinilai jahat, meninggalkan Maria dalam keadaan hamil. Oleh karena jika ia terang-terangan menolak Maria dan diketahui oleh masyarakat pada masa itu, Maria akan mendapat hukuman rajam. Kedatangan malaikat Tuhan dalam mimpinya, memberi peneguhan agar ia tetap mengambil Maria sebagai istrinya dan memberi nama Yesus pada anak itu. Akhirnya Yusuf memilih untuk mengikuti rencana Allah.
Kehadiran dan penyertaan Allah memampukan Yusuf untuk taat dalam melakukan kehendak-Nya, serta memahami rancangan keselamatan Allah, meskipun perjalanan yang akan dilaluinya tidak mudah. Ketaatannya akan perintah Tuhan, menunjukkan kepribadian Yusuf yang tulus dan rela berkorban untuk melindungi Maria dan bayi Yesus.
Perjuangan saya pribadi masih terus berproses untuk benar-benar taat akan kehendak Bapa. Sering kali saya menolak tugas pelayanan menjadi guru bina iman, dengan dalih sibuk dengan pekerjaan. Karena saya menyadari bahwa pelayanan tersebut pasti akan menyita waktu dan tenaga. Namun, akhirnya saya menyadari keegoisan saya dan diingatlkan kembali akan kasih Tuhan yang begitu besar dalam hidup saya. Tuhan akan memampukan saya untuk dapat mengatur waktu dengan baik, antara pekerjaan dan pelayanan, asalkan saya taat dan bersedia memberikan diri saya untuk dipakai Tuhan.
Kiranya kita semua dimampukan untuk taat seperti Yusuf, dengan menyerahkan seluruh hidup kita kepada Allah yang selalu menyertai kita dalam menjalani kehidupan ini dengan hanya berpegang teguh pada kehendak-Nya.
Doa:
Tuhan berikan aku kekuatan iman untuk menerima rencana-Mu dalam hidupku, sekalipun itu tidak sesuai dengan rencanaku. Ajar aku untuk lebih peka terhadap panggilan-Mu dalam hidupku dan melakukannya seturut kehendak-Mu. Amin.
Tuhan berikan aku kekuatan iman untuk menerima rencana-Mu dalam hidupku, sekalipun itu tidak sesuai dengan rencanaku. Ajar aku untuk lebih peka terhadap panggilan-Mu dalam hidupku dan melakukannya seturut kehendak-Mu. Amin.

Komentar
Posting Komentar