(Renungan) Rencana di Balik Keraguan
Rencana di Balik Keraguan
(Yoseph Deddy Kurniawan)
(Yoseph Deddy Kurniawan)
"Sesungguhnya engkau akan menjadi bisu dan tidak dapat berkata-kata sampai hari ketika semuanya ini terjadi, karena engkau tidak percaya kepada perkataanku yang akan dipenuhi pada waktunya."
(Luk. 1:20)
Kalender Liturgi Jumat, 19 Desember 2025
Bacaan Pertama: Hak. 13:2-7.24-25a
Mazmur Tanggapan: Mzm. 71:3-4a.5-6ab.16-17
Bacaan Injil: Luk. 1:5-25
Sore itu, hujan deras mengguyur kota Jakarta. Dari balik kaca mobilnya yang terjebak macet, Mimin melihat seorang ibu tua tergopoh-gopoh memayungi dagangannya. Sebuah bisikan halus muncul di hatinya untuk menolong, namun seketika keraguan datang menyergap. "Apa gunanya? Bantuan kecil ini tidak akan mengubah hidupnya."
Keraguan Mimin mengingatkannya pada kisah Zakharia dalam Injil Lukas. Zakharia, seorang imam yang hidup tanpa cacat di hadapan Allah, justru meragukan kabar Ilahi ketika malaikat Gabriel menyatakan bahwa doanya telah dikabulkan. Ia bertanya, "Bagaimanakah aku tahu bahwa hal ini akan terjadi? Sebab aku sudah tua dan istriku sudah lanjut umurnya." Momen itu menunjukkan betapa mudahnya kita terpaku pada keterbatasan diri, bahkan ketika sedang berada dalam pelayanan kepada Tuhan.
Seperti Zakharia yang hanya melihat kemandulan Elisabet dan usia mereka yang telah lanjut, Mimin pun terpaku pada keterbatasan dirinya sendiri. Ia lupa bahwa inti kisah ini justru menyatakan bahwa rencana Allah tetap digenapi, meski iman manusia kerap goyah. Malaikat menegaskan bahwa Yohanes akan menjadi besar di hadapan Tuhan dan diutus untuk mempersiapkan jalan bagi-Nya. Sebuah rancangan Ilahi yang tidak dapat dihalangi oleh keraguan manusia.
Dengan iman yang perlahan tumbuh, Mimin akhirnya memutuskan untuk membantu ibu tua itu. Ia teringat bagaimana Zakharia menjadi bisu karena ketidakpercayaannya. Namun Elisabet justru bersukacita sambil berkata, "Inilah yang Tuhan telah perbuat bagiku." Tindakan sederhana Mimin dapat menjadi bagian dari karya Tuhan bagi ibu tersebut.
Mungkin tindakan itu tidak sebesar mukjizat kelahiran Yohanes Pembaptis, tetapi tetap mencerminkan satu kebenaran: 'bagi Allah, tidak ada yang mustahil'. Seperti Zakharia yang akhirnya menyaksikan penggenapan janji Allah, kita pun diajak untuk tidak membiarkan keraguan menahan langkah kita. Marilah kita menyambut setiap kesempatan untuk menjadi saluran berkat dengan hati yang percaya, siap dipakai dalam rencana-Nya yang indah! Lalu, di tengah berbagai keraguan yang sering muncul dalam hati kita, langkah kecil apa yang hari ini berani kita ambil untuk menanggapi panggilan Tuhan?
Doa:
Allah Bapa yang baik, kami bersyukur telah Kau pilih untuk menjadi bagian dalam setiap rencana-Mu. Kami mohon, terangilah kami selalu dengan Roh Kudus-Mu, agar kami berani menjadi bagian dari rencana-Mu sebagai saluran berkat bagi sesama. Amin.

Komentar
Posting Komentar