(Renungan) Beranikah Kita Percaya 100% pada Tuhan?

Beranikah Kita Percaya 100% pada Tuhan?
(Ruth Solaiman)   

kepada Allah aku percaya, aku tidak takut. 
Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?
(Mzm. 56:12)

Kalender Liturgi Kamis, 22 Januari 2026  
Bacaan Pertama: 1Sam. 18:6-9;19:1-7  
Mazmur Tanggapan: Mzm. 56:2-3.9-10a.10b-11.12-13
Bacaan Injil: Mrk. 3:7-12  

Sungguh ironis dan terkadang tidak masuk akal, seorang raja yang diurapi oleh Allah dan merupakan raja Israel pertama, iri hati kepada anak buahnya. 
Ya, Saul iri hati terhadap Daud yang merupakan anak buahnya, yang dielu-elukan melebihi dirinya. Dampak iri hati ini membuat Saul ingin membunuh Daud. Daud begitu takut. Hal yang luar biasa, Daud   tidak  mencari perlindungan dari manusia, tapi menyerahkan dirinya kepada Tuhan.  

Pada Mazmur 56:3 dituliskan “Seteru-seteruku mengejar aku sepanjang hari.” Ayat ini tetap kontekstual sampai saat ini. Siapakah seteru-seteru yang kita hadapi tiap hari? Seteru kita adalah setan yang ingin kita jatuh dalam dosa. Setan menggoda begitu besar, setiap harinya. Bagaimana cara setan menggoda? Situasi ekonomi dan politik yang tidak menentu. Ketakutan akan masa depan, keinginan hidup nikmat sehingga mengorbankan orang lain, bahkan tidak jarang menggadaikan iman kita. 

Beranikah kita seperti Daud, yang tertulis pada Mazmur 56:12 "Kepada Allah aku percaya, aku tidak takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadapku?"

Sharing pengalaman teman berikut ini, mungkin bisa menjadi bahan renungan kita. Menjelang pensiun, bersyukur beliau dapat pekerjaan lagi di sebuah perusahaan kelas menengah, setelah perusahaan sebelumnya diakusisi. Posisi yang diberikan cukup baik, sebagai kepala akunting (keuangan). Pada awalnya, pemilik perusahaan terlihat sangat baik. Perlahan tapi pasti, pemilik perusahaan, secara taktis mengharuskan karyawannya mengikuti agamanya. Sangat jelas konsekuensi yang dihadapi, bila tidak mau mengikuti keingingan pemilik perusahaan ini. 

Tibalah juga giliran sahabat saya yang diminta mengubah keyakinannya. Tepat seperti ayat kunci ini, teman saya menolak karena beliau lebih takut pada Tuhan. Karena ketegaran dan tentunya performa kerja yang terampil dan jujur, pemilik tidak berani memaksa. Saat ini beliau, satu-satunya karyawan yang tidak mengubah keyakinannya. 
Tepat seperti Daud, sahabatku hanya berharap pada Tuhan dan percaya 100% pada  Tuhan. 

Beranikah kita mengatakan, percaya 100% pada Tuhan pada situasi tidak menentu saat ini? Mari kita refleksikan dan renungkan!

Doa: 
Tuhan Yesus Yang Maha Rahim, mampukan kami menjalani hari-hari ke depan di tahun 2026 ini dengan percaya penuh pada-Mu. Situasi dunia sungguh tidak menentu, kemajuan teknologi, situasi ekonomi dan politik, membuat kami beku untuk melangkah. Seturut ayat emas hari ini, kami mau belajar dari Daud, mengandalkan Engkau sepenuh hati. Berilah kami rahmat untuk itu. Amin.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Peziarah Pengharapan

(Renungan) Warisan Berharga bagi Manusia