(Renungan) Goyah? Tentu Tidak, karena Ia Bersamaku
Goyah? Tentu Tidak, karena Ia Bersamaku
(G.B. Fenty L.)
(G.B. Fenty L.)
Ia pun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu,"Diam! Tenanglah!" Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali. Lalu Ia berkata kepada mereka, "Mengapa kamu ketakutan? Belumkah kamu percaya?"
(Mrk. 4:39-40)
Kalender Liturgi Sabtu, 31 Januari 2026
PW. S. Yohanes Bosko, Imam
Bacaan Pertama: 2Sam. 12:1-7a.10-17
Mazmur Tanggapan: Mzm. 51:12-13.14-15.16-17
Bacaan Injil: Mrk. 4:35-41
Bacaan Pertama: 2Sam. 12:1-7a.10-17
Mazmur Tanggapan: Mzm. 51:12-13.14-15.16-17
Bacaan Injil: Mrk. 4:35-41
Suara yang keras, bernada tinggi, dan penuh emosi sering kali mengguncang iman serta membuat jantung seakan hendak copot. Namun, Yesus tidak membutuhkan teriakan atau kekerasan. Dengan satu-dua patah kata yang penuh kewibawaan, Ia mampu menenangkan angin dan danau yang mengamuk.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita kerap menjumpai pribadi-pribadi yang menggunakan kekerasan untuk memaksakan kehendak. Yesus bukanlah pribadi seperti itu. Injil justru menggambarkan Dia tertidur pulas di buritan perahu, ketika badai menerpa. Buritan adalah bagian belakang perahu yang berperan penting dalam menjaga kestabilannya.
Layaknya seorang guru, Yesus menerapkan prinsip tut wuri handayani kepada para murid-Nya. Dengan berada di belakang, Ia memberi ruang bagi murid-murid untuk bertindak dan belajar, namun tetap menjaga dan menopang mereka. Ketika kecemasan memenuhi hati para murid, mereka pun membangunkan-Nya. Yesus tidak pernah meninggalkan mereka sendirian, seperti janji-Nya “Aku menyertai kamu sampai akhir zaman.” Kehadiran-Nya memastikan bahwa saat iman mereka goyah, Ia selalu ada untuk memulihkan keadaan. Yesus mendidik para murid untuk memiliki iman yang teguh dan penuh kepercayaan.
Kisah ini mengingatkan saya pada pengalaman seorang teman. Suatu malam, ketika ia sedang berkendara pulang dan membalas pesan atasannya, mobilnya menyerempet kendaraan sekelompok pemalak. Memanfaatkan situasi, gerombolan itu memaksa masuk ke dalam mobilnya dengan alasan takut ia melarikan diri.
Di bawah ancaman, hardikan dan tekanan mental, ia berusaha tetap tenang dengan mendaraskan Doa Rosario, tanpa henti. Meski gemetar, ia tidak kehilangan akal. Ia sengaja membuka kaca mobil agar situasinya terlihat orang. Alih-alih menuruti arahan para pelaku, ia mengikuti panduan navigasi digital, dan tentu tuntunan Roh Kudus menuju kantor polisi terdekat. Berkat perlindungan Tuhan dan ketenangan, ia berhasil lolos dari jerat predator jalanan tersebut.
Apakah kita akan terus goyah dalam iman di tengah kehidupan ini? Ataukah kita memilih untuk tetap percaya dan berserah, meski merasa kecil dan rapuh? Sebab bersama Tuhan, pengharapan kita selalu melebihi ketakutan kita.
Doa:
Ya Yesus, Engkaulah ketenangan kami di tengah badai. Teguhkanlah iman kami, ajarilah kami percaya dan setia mendengarkan suara-Mu, hingga langkah hidup kami berlabuh pada hidup yang kekal. Amin.
Ya Yesus, Engkaulah ketenangan kami di tengah badai. Teguhkanlah iman kami, ajarilah kami percaya dan setia mendengarkan suara-Mu, hingga langkah hidup kami berlabuh pada hidup yang kekal. Amin.

Komentar
Posting Komentar