(Renungan) Hal Pertumbuhan adalah Hak Prerogatif Allah
Hal Pertumbuhan adalah Hak Prerogatif Allah
(Is Susetyaningtyas)
Kalender Liturgi Jumat, 30 Januari 2026
Bacaan Pertama: 2Sam. 11:1-4a.5-10a.13-17
Mazmur Tanggapan: Mzm. 51:3-4.5-6a.6bc-7.10-11
Bacaan Injil: Mrk. 4:26-34
Yesus memberikan pengajaran Kerajaan Allah melalui perumpamaan. Perumpamaan itu berkaitan dengan keseharian mereka sebagai petani, peternak, dan nelayan. Dia menggunakan perumpamaan orang menabur benih, biji sesawi, ragi, harta yang terpendam, mutiara, dan jala besar (Mat. 13:24-52). Namun, perumpamaan biji sesawi yang popular, karena ada di ketiga Injil Sinoptik (Matius, Markus, Lukas)
Berbeda dengan penginjil lainnya, Markus menulis tentang benih yang tumbuh sendiri (Mrk. 4:27). Petani boleh bangga berhasil panen, namun mereka hanya menanam, menyiram, menyiangi, memupuk. Hal tumbuh dan berkembang tidaknya biji yang ditanam, sepenuhnya rahasia alam. Alam berarti Sang Pencipta dan Penguasanya, yakni Allah. Allah yang memberikan pertumbuhan. Pertumbuhan bukan hanya pada tanaman, banyak hal lain tidak berada dalam kuasa manusia. Ternak, misalnya. Manusia bisa memberi makan, merawat, menjaga kebersihan kandang; tapi itu tidak menjamin pertumbuhannya.
Begitu juga dengan anak. Kita dengan berbagai upaya membesarkan, mengajar, mendidik, menanamkan konsep kebaikan kepada anak-anak. Tetapi ketika tumbuh dewasa, mereka bebas menentukan sendiri arah hidup, yang terkadang berlawanan dengan harapan kita. Untuk kehidupan di dunia bisnis pun, hal pertumbuhan sering berada di luar kendali kita. Contohnya investasi. Berbagai hitungan matematis dilakukan, dengan harapan keuntungan. Tapi banyak orang di sekitar kita yang terpuruk karena investasi mereka ‘jeblok’, bukan melulu karena kurang cermat berhitung, tapi juga pengaruh ekonomi dan sosial dunia.
Aku lalu merenungkan peranku sebagai katekis. Aku berusaha keras membuat bahan presentasi dan menyampaikannya semenarik mungkin, tetapi apakah yang kuajarkan tinggal di hati para katekumen dan menumbuhkan iman mereka, walahualam. Perikop hari ini mengingatkanku betapa semuanya di tangan Tuhan, aku harus bergantung kepada-Nya. Tuhanlah yang menumbuhkan iman mereka, aku sama sekali tidak layak menepuk dada atas semua yang kulakukan. Seperti kata Paulus, “Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan.” Aku hanya bisa berdoa, semoga biji sesawi yang aku tanam bisa menjadi sayuran yang besar dan boleh menjadi naungan bagi makhluk lain.
Doa:
Ya Allah, betapa hidup kami sangat bergantung kepada-Mu. Kami bisa melakukan banyak hal, tapi hanya Engkaulah yang punya kuasa untuk menumbuhkembangkannya. Kiranya kami Kau berkati dengan segala niat baik dan kemampuan untuk bekerja sebagai rekan sekerja-Mu. Khususnya untuk membantu orang-orang di sekitar kami lebih mengenal Engkau dan Yesus, Putra-Mu, Tuhan dan Juru Selamat kami, sekarang dan selama-lamanya. Amin.
(Is Susetyaningtyas)
Hal Kerajaan Allah itu seumpama orang yang menaburkan benih di tanah, lalu pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu bertunas dan tumbuh, bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu.
(Mrk. 4:26-27)
Bacaan Pertama: 2Sam. 11:1-4a.5-10a.13-17
Mazmur Tanggapan: Mzm. 51:3-4.5-6a.6bc-7.10-11
Bacaan Injil: Mrk. 4:26-34
Yesus memberikan pengajaran Kerajaan Allah melalui perumpamaan. Perumpamaan itu berkaitan dengan keseharian mereka sebagai petani, peternak, dan nelayan. Dia menggunakan perumpamaan orang menabur benih, biji sesawi, ragi, harta yang terpendam, mutiara, dan jala besar (Mat. 13:24-52). Namun, perumpamaan biji sesawi yang popular, karena ada di ketiga Injil Sinoptik (Matius, Markus, Lukas)
Berbeda dengan penginjil lainnya, Markus menulis tentang benih yang tumbuh sendiri (Mrk. 4:27). Petani boleh bangga berhasil panen, namun mereka hanya menanam, menyiram, menyiangi, memupuk. Hal tumbuh dan berkembang tidaknya biji yang ditanam, sepenuhnya rahasia alam. Alam berarti Sang Pencipta dan Penguasanya, yakni Allah. Allah yang memberikan pertumbuhan. Pertumbuhan bukan hanya pada tanaman, banyak hal lain tidak berada dalam kuasa manusia. Ternak, misalnya. Manusia bisa memberi makan, merawat, menjaga kebersihan kandang; tapi itu tidak menjamin pertumbuhannya.
Begitu juga dengan anak. Kita dengan berbagai upaya membesarkan, mengajar, mendidik, menanamkan konsep kebaikan kepada anak-anak. Tetapi ketika tumbuh dewasa, mereka bebas menentukan sendiri arah hidup, yang terkadang berlawanan dengan harapan kita. Untuk kehidupan di dunia bisnis pun, hal pertumbuhan sering berada di luar kendali kita. Contohnya investasi. Berbagai hitungan matematis dilakukan, dengan harapan keuntungan. Tapi banyak orang di sekitar kita yang terpuruk karena investasi mereka ‘jeblok’, bukan melulu karena kurang cermat berhitung, tapi juga pengaruh ekonomi dan sosial dunia.
Aku lalu merenungkan peranku sebagai katekis. Aku berusaha keras membuat bahan presentasi dan menyampaikannya semenarik mungkin, tetapi apakah yang kuajarkan tinggal di hati para katekumen dan menumbuhkan iman mereka, walahualam. Perikop hari ini mengingatkanku betapa semuanya di tangan Tuhan, aku harus bergantung kepada-Nya. Tuhanlah yang menumbuhkan iman mereka, aku sama sekali tidak layak menepuk dada atas semua yang kulakukan. Seperti kata Paulus, “Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan.” Aku hanya bisa berdoa, semoga biji sesawi yang aku tanam bisa menjadi sayuran yang besar dan boleh menjadi naungan bagi makhluk lain.
Doa:
Ya Allah, betapa hidup kami sangat bergantung kepada-Mu. Kami bisa melakukan banyak hal, tapi hanya Engkaulah yang punya kuasa untuk menumbuhkembangkannya. Kiranya kami Kau berkati dengan segala niat baik dan kemampuan untuk bekerja sebagai rekan sekerja-Mu. Khususnya untuk membantu orang-orang di sekitar kami lebih mengenal Engkau dan Yesus, Putra-Mu, Tuhan dan Juru Selamat kami, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Komentar
Posting Komentar