(Renungan) Hiduplah Seturut Perintah Tuhan

Hiduplah Seturut Perintah Tuhan
(Bernadette Esther)

“Mengapa engkau tidak mendengarkan suara Tuhan? Mengapa engkau menyambar jarahan dan melakukan apa yang jahat di mata Tuhan?”
(1Sam. 15:19)

Kalender Liturgi Senin, 19 Januari 2026
Bacaan Pertama: 1Sam. 15:16-23
Mazmur Tanggapan: Mzm. 50:8-9.16bc-17.21.23
Bacaan Injil: Mrk. 2:18-22

Seorang martir bernama Floribert Bwana Chui lahir pada 13 Juni 1981 di Goma Kongo. Kongo adalah negara di Afrika yang rawan konflik etnis, sarat korupsi, kebencian, dan balas dendam. 

Floribert bergabung dalam Komunitas Sant’Egidio saat studi di Universitas Goma. Dalam keluarga rohaninya itu, ia mendengarkan sapaan Tuhan melalui Injil. Ia menjalankan perintah-Nya: peduli dan mencintai kaum miskin, serta anak-anak jalanan. “Segala sesuatu yang telah kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku" (Mat. 25:40b).

Floribert hidup jujur. Ia menolak berbagai upaya suap yang terjadi berulang-ulang saat ia menjadi petugas Bea Cukai. Ia kehilangan nyawa, karena melindungi nyawa orang miskin.  Floribert dibunuh dengan brutal pada tahun 2007, karena menolak mengizinkan makanan busuk yang akan dibagikan kepada masyarakat miskin.  

Minggu, 15 Juni 2025, Kardinal Marcello Semeraro melakukan beatifikasi Floribert di Basilika Santo Paulus di Luar Tembok di Roma. “Floribert adalah guru harapan” kata Kardinal Semeraro, “Ia mengajari kita untuk mengatasi kejahatan dengan kebaikan.” Dalam Misa harian di Casa Santa Marta, Vatikan, Paus Fransiskus pernah mengatakan: "Menjadi orang Kristen yang baik, berarti patuh kepada firman Tuhan. Floribert patuh pada firman Tuhan, seperti yang Yesus kehendaki."

Saul yang tidak patuh pada perintah Tuhan, mendapat teguran Samuel, “Mengapa engkau tidak mendengarkan suara Tuhan? Mengapa engkau menyambar jarahan dan melakukan yang jahat di mata Tuhan?” (1Sam. 15:19). Saul keukeuh melakukan kehendaknya sendiri: membawa Agag raja Amalek, dan membolehkan rakyatnya mengambil hewan-hewan yang harusnya dimusnahkan, untuk dipersembahkan sebagai korban bakaran kepada Tuhan di Gilgal (1Sam. 15:20-21). Allah menolak Saul sebagai raja.    

Kita juga kerap bersikap seperti Saul. Tak mengindahkan apa yang Tuhan kehendaki untuk kita lakukan, karena tidak sesuai dengan keinginan diri sendiri. Pembangkangan sama seperti dosa bertenung; keras kepala sama seperti kejahatan menyembah berhala (1Sam. 15:23). Apa jadinya hidup kita, bila Tuhan menolak kita? 

Doa:
Allah Tritunggal Maha Kudus, berilah kami keberanian untuk melaksanakan perintah-Mu demi kemajuan iman dan kehidupan rohaniku. Mampukan kami meninggalkan segala kebiasaan yang bertentangan dengan ajaran-Mu yang menyeret kami ke lembah dosa. Amin. 
 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Peziarah Pengharapan

(Renungan) Warisan Berharga bagi Manusia