(Renungan) Jadilah Pelita-Ku

Jadilah Pelita-Ku 
(Marlisa)

Lalu Yesus berkata kepada mereka,
"Mungkinkah orang membawa pelita supaya diletakkan di bawah tempayan atau di bawah tempat tidur? Bukankah supaya diletakkan di atas kaki pelita?”
(Mrk. 4:21)

Kalender Liturgi Kamis, 29 Januari 2026
Bacaan Pertama: 2Sam. 7:18-19.24-29
Mazmur Tanggapan: Mzm. 132:1-2.3-5.11.12.13-14
Bacaan Injil: Mrk. 4:21-25

Kaki pelita atau kaki dian adalah tempat meletakan pelita agar cahaya dapat dilihat semua orang dalam ruangan, melambangkan terang Kristus yang bercahaya. Tempat tidur atau gantang adalah melambangkan hal-hal yang menyembunyikan atau menutup terang, seperti kemalasan, kecemasan, ketakutan, keegoisan, kemarahan, kehilangan harapan; sehingga terang itu tak dapat bersinar, dan tak dapat dirasakan sesama.

Yesus memanggil pengikut-Nya untuk menjadi pelita yang diletakan di atas kaki dian, agar memancarkan terang Kristus. Karena iman bukan untuk disembunyikan dan disimpan, melainkan untuk menyinari kegelapan dunia. Pelita adalah terang Injil, kabar sukacita Kristus yang harus disebarkan ke seluruh dunia. 

Yesus menekankan kita para murid yang mendengarkan pengajaran-Nya untuk memancarkan terang-Nya. Mereka akan menerima lebih banyak berkat (kebenaran, pengetahuan, pemahaman, kasih karunia) dan keselamatan kekal. Menolak dan mengeraskan hati akan kehilangan rahmat, suara hati akan semakin tak terdengar, dan bukan tak mungkin akhirnya hilang dan lenyap.

Di akhir Misa, romo memberikan berkat penutup, sekaligus mengingatkan tugas perutusan setiap umat, “Pulanglah dalam damai Kristus, kabarkanlah sukacita Injil, jadilah saksi Kristus.” Gereja mengharapkan kita pun seperti para murid, menjadi pelita di atas kaki dian, berani menyebarkan kabar sukacita Injil, bukan menutupi dan menyembunyikannya. Tak ada kebenaran Ilahi yang selamanya tersembunyi dan tidak ada rahasia yang tidak akan dinyatakan. Hendaknya hal ini mendorong kita sungguh-sungguh mendengar dan memiliki hati terbuka, untuk menjadi pelaku firman, hidup dalam kebenaran dan Allah semakin dimuliakan.

Sesungguhnya adalah kehormatan bagi setiap kita untuk mengemban tugas mewartakan kabar sukacita Kristus. Tak ada misi yang Dia berikan di luar batas kita. Dalam setiap tugas perutusan yang diberikan-Nya, tangan-Nya selalu memampukan. Allah melihat dan memperhitungkan semua niat baik, kesetiaan, ketaatan anak-Nya yang sungguh mau melayani dan menjadi saksi Kristus. Mohonlah rahmat-Nya senantiasa, agar kita dimampukan mengemban tugas mulia ini. Maukah kita bersungguh hati menjadi pelita-Nya sebagai ujud kasih dan syukur kita kepada-Nya, yang Maha Baik?

Doa: 
Allah Bapa di dalam surga, puji syukur kasih setia-Mu kepada kami anak-anak-Mu. Ajarlah kami senantiasa setia memancarkan terang bagi sesama dan menyenangkan hati-Mu. Amin.



 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Peziarah Pengharapan

(Renungan) Warisan Berharga bagi Manusia