(Renungan) Kasih yang Memerdekakan

Kasih yang Memerdekakan
(Christine Meilani Kesumaputri)

Lalu Yesus berkata kepada mereka,”Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat. Karena itu Anak Manusia adalah Tuan juga atas hari Sabat.”
(Mrk. 2:27-28)

Kalender Liturgi Selasa, 20 Januari 2026
Bacaan Pertama: 1 Sam. 16:1-3
Mazmur Tanggapan: Mzm. 89:20.21-22.27-28
Bacaan Kedua: Kej. 12:1-9-13:2-18
Bacaan Injil: Mrk. 2:23-28

Yesus berkata, “Hari Sabat diadakan untuk manusia, bukan manusia untuk hari Sabat.” Sabat bukan hanya aturan, melainkan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah dan sesama. Terkadang kita terlalu terikat pada rutinitas religius tanpa memahami maknanya. Tuhan ingin kita beristirahat, bersyukur, dan melayani dengan kasih. Bukan terbelenggu oleh aturan yang kaku. Ketika kita menolong orang di saat 'tidak semestinya', kasih lebih utama daripada peraturan.

Yesus mengajarkan ketaatan sejati bukan pada hukum yang membatasi, melainkan pada kasih yang memerdekakan hati.

Anton, seorang perawat muda di rumah sakit. Hari Minggu itu adalah hari istirahatnya setelah seminggu penuh bekerja. Ia berencana pulang ke rumah ibunya, makan bersama keluarga, dan beristirahat sejenak. Namun, pagi itu ambulans datang. Seorang pasien lansia dalam keadaan kritis. Rumah sakit sepi, sebagian besar perawat sedang libur. Anton menatap jam tangannya, waktu istirahat baru saja dimulai.

Dalam hatinya muncul pergulatan "Apakah aku harus tetap tinggal? Ini hari istirahatku." Namun, hatinya teringat sabda Yesus "Anak Manusia adalah Tuan atas hari Sabat juga."
Anton menarik napas dalam, mengenakan sarung tangan dan mulai bekerja. Ia membantu dokter jaga gawat darurat, menenangkan keluarga pasien yang menangis, memasang infus, dan memeriksa kondisi sang kakek dengan sabar.

Waktu terus berjalan. Dalam kelelahan Anton tetap berjaga. Malam tiba, pasien itu mulai stabil. Anton bernafas lega. Ia berjalan ke kapel kecil di rumah sakit, ruang sederhana dengan lilin kecil dan salib kayu. Ia berlutut. Dalam keheningan ia berdoa, "Tuhan, Engkau hadir dalam setiap kasih yang tulus."

Anton sadar, hari istirahatnya tidaklah hilang, justru menjadi lebih bermakna. Ia menemukan kedamaian lebih dalam daripada sekadar tidur atau liburan. Ia menemukan Sabat sejati: saat hati beristirahat dalam kasih Tuhan.

Seperti Yesus yang menolong pada hari Sabat, Anton menyadari bahwa melayani dengan cinta adalah bentuk persembahan yang paling indah.

Sabat menjadi suci, bukan karena kita berhenti bekerja, tetapi karena kita menghadirkan kasih di dalamnya.

Doa:
Tuhan Yesus yang penuh kasih, Engkau mengajarkan bahwa hari Sabat diadakan untuk manusia. Ajarilah kami untuk hidup dalam kasih-Mu setiap hari. Jauhkan kami dari kekakuan yang membuat kami lupa akan belas kasih.Tuntunlah kami  agar mampu menemukan Engkau dalam setiap pelayanan dan tindakan sederhana. Semoga kami dapat beristirahat dalam damai-Mu dan menjadikan setiap hari kesempatan untuk mengasihi Tuhan dan sesama. Amin.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Peziarah Pengharapan

(Renungan) Warisan Berharga bagi Manusia