(Renungan) Kesibukan

Kesibukan
(Grace A.S)

Yesus pulang ke rumah. Orang banyak datang lagi berkerumun, sehingga makan pun mereka tidak dapat.
(Mrk. 3:20)

Kalender Liturgi Sabtu, 24 Januari 2026
Bacaan Pertama: 2Sam. 1:1-4.11-12.19.23-27
Mazmur Tanggapan: Mzm. 80:2-3,5-7
Bacaan Injil: Mrk. 3:20-21

Dalam bacaan Injil hari ini dikisahkan bahwa Yesus dan para rasul begitu sibuk melayani orang banyak yang datang berduyun-duyun. Mereka memohon kesembuhan, bimbingan, dan pengajaran dari Yesus. Kesibukan itu sedemikian besar, hingga Yesus dan para rasul tidak sempat beristirahat dan makan. Ketika keluarga Yesus mendengar kabar tersebut, mereka menyangka bahwa Yesus sudah tidak waras. Mereka hanya mendengar cerita tentang kesibukan Yesus, tetapi tidak menyaksikan bagaimana Ia mengabdikan diri sepenuhnya bagi orang-orang yang membutuhkan pertolongan-Nya.

Dalam budaya dan adat istiadat Yahudi, tata kehidupan seseorang diatur dengan sangat rinci, termasuk perhatian terhadap kesehatan jasmani. Dari sudut pandang ini, kesibukan Yesus dan para rasul yang sampai melupakan makan, dapat dipahami sebagai sesuatu yang tidak lazim. Namun, Yesus menunjukkan bahwa pelayanan dan kasih kepada sesama kadang menuntut pengorbanan diri yang besar, bahkan melampaui kenyamanan pribadi.

Setiap orang memiliki jadwal dan kesibukan masing-masing. Seorang ibu rumah tangga misalnya, sudah mulai bekerja sejak subuh: menyiapkan sarapan, bekal anak-anak sekolah, serta kebutuhan keluarga. Setelah itu, pekerjaan rumah pun menanti tanpa henti. Demikian pula mereka yang bekerja di kantor, dengan berbagai tuntutan pekerjaan seperti menyiapkan laporan, menghadiri rapat, hingga menyusun anggaran. Tidak jarang, karena terlalu sibuk, kita melupakan waktu untuk beristirahat atau bahkan melewatkan waktu makan.

Kesibukan sering menjadi alasan bagi kita untuk tidak hadir dalam Perayaan Ekaristi. Kita kerap menemukan berbagai pembenaran untuk diri sendiri agar tidak mengikuti Misa kudus, atau hadir hanya sebagai rutinitas. Akibatnya, kita lupa akan sapaan Tuhan yang hadir dalam Ekaristi. Padahal, Allah tidak pernah melupakan anak-anak-Nya. Dengan penuh kesabaran, Ia senantiasa menanti jawaban kita atas kasih dan undangan-Nya.

Karena itu, marilah kita berusaha tetap setia memenuhi panggilan Allah untuk mengikuti Perayaan Ekaristi di tengah kesibukan sehari-hari! Kita juga diajak untuk terlibat dalam kegiatan lingkungan dan wilayah, sebab di dalam diri sesama, teman, saudara, dan keluarga, Tuhan sungguh hadir dan menyapa kita.

Doa:
Allah Bapa Yang Maha Baik dan Maha Murah, terima kasih atas kesabaran-Mu dalam menanti tanggapan kami anak-anak-Mu. Semoga di dalam kesibukan kami, kami tidak lupa untuk menjawab sapaan-Mu untuk mengikuti Misa dan selalu menjaga tubuh, jiwa dan raga yang telah Kau berikan kepada kami dengan baik. Amin.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Peziarah Pengharapan

(Renungan) Warisan Berharga bagi Manusia