(Renungan) Miskin di Hadapan Tuhan
Miskin di Hadapan Tuhan
(Made Shinta)
Kalender Liturgi Minggu, 1 Februari 2026
Bacaan Pertama: Zef. 2:3; 3:12-13
Mazmur Tanggapan: Mzm. 146:1.7.8-9a.9b-10
Bacaan Kedua: 1Kor. 1:26-31
Bacaan Injil: Mat. 5:1-12a
Khotbah di Bukit merupakan landasan etika atas sikap dan watak hidup seorang murid Kristus. Ia menempatkan miskin di hadapan Allah pada urutan pertama untuk mendapatkan kebahagiaan sejati. Kata miskin dalam Kitab Suci bahasa Inggris ditulis poor in spirit, sebuah kondisi yang sama dengan keadaan orang yang tidak berpunya. Dengan demikian, bergantung sepenuhnya pada kasih karunia Allah. Selain itu juga menyadari kelemahan diri dan tidak mengandalkan kekuatan sendiri, sehingga membuka hati untuk nilai-nilai rohani dan janji Kerajaan Surga.
Hal ini senada dengan pernyataan Santo Paulus, “Saudara-saudara, ingatlah bagaimana keadaan kamu ketika kamu dipanggil: Menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak, tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang.” (1Kor. 1:26). Tuhan akan mengangkat dan membentuk orang yang dipandang miskin atau rendah oleh dunia menjadi kudus dan berharga.
Saya teringat beberapa tahun lalu saat liburan kuliah. Regina, putri pertama kami, melayani selama sebulan penuh di Gereja Katolik St. Andre Bessette, Portland, yang juga dikenal dengan nama The Red Door. Gereja tersebut melayani para tuna wisma dengan memberi makan, paket keperluan mandi, pakaian (kaos kaki, pakaian dalam dan luar), selain itu juga memberikan layanan perawatan kaki dan potong rambut. Mereka berfokus pada persaudaraan dan pengakuan akan martabat manusia.
Santo Andre Bessette, pelindung Gereja tersebut adalah seorang bruder awam Kanada dari Kongregasi Salib Suci. Ia lahir dari keluarga miskin, tidak lancar membaca, tubuhnya pun sakit-sakitan. Ia bekerja sebagai petugas kebersihan, dan kemudian sebagai penjaga pintu di Notre Dame College, Montreal, Kanada. Santo Andre terkenal sebagai 'Manusia Mukjizat dari Montreal' karena banyak kesembuhan ajaib yang dikaitkan dengan doanya melalui perantaraan Santo Yosef. Ia hanya tertawa mendengar julukan itu dan berkata, “Santo Yosef lah yang melakukan hal-hal ini, saya seperti kalian, hanya seorang pemohon.”
Marilah kita menanggapi secara positif ajaran Tuhan Yesus ini, dan biarlah Ia membentuk kita untuk memuliakan nama-Nya melalui perkataan dan perbuatan kasih.
Doa:
Tuhan Yesus, kasihanilah kami orang berdosa ini. Ajari kami untuk terus bersyukur dan bersandar kepada-Mu. Semua yang kami miliki berasal dari-Mu, dan hidup kami tidak berarti tanpa kehadiran dan penyertaan-Mu. Terima kasih Tuhan Yesus, terpujilah nama-Mu selama-lamanya. Amin.
(Made Shinta)
"Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah,
karena merekalah yang punya Kerajaan Surga.”
(Mat. 5:3)
Bacaan Pertama: Zef. 2:3; 3:12-13
Mazmur Tanggapan: Mzm. 146:1.7.8-9a.9b-10
Bacaan Kedua: 1Kor. 1:26-31
Bacaan Injil: Mat. 5:1-12a
Khotbah di Bukit merupakan landasan etika atas sikap dan watak hidup seorang murid Kristus. Ia menempatkan miskin di hadapan Allah pada urutan pertama untuk mendapatkan kebahagiaan sejati. Kata miskin dalam Kitab Suci bahasa Inggris ditulis poor in spirit, sebuah kondisi yang sama dengan keadaan orang yang tidak berpunya. Dengan demikian, bergantung sepenuhnya pada kasih karunia Allah. Selain itu juga menyadari kelemahan diri dan tidak mengandalkan kekuatan sendiri, sehingga membuka hati untuk nilai-nilai rohani dan janji Kerajaan Surga.
Hal ini senada dengan pernyataan Santo Paulus, “Saudara-saudara, ingatlah bagaimana keadaan kamu ketika kamu dipanggil: Menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak, tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang.” (1Kor. 1:26). Tuhan akan mengangkat dan membentuk orang yang dipandang miskin atau rendah oleh dunia menjadi kudus dan berharga.
Saya teringat beberapa tahun lalu saat liburan kuliah. Regina, putri pertama kami, melayani selama sebulan penuh di Gereja Katolik St. Andre Bessette, Portland, yang juga dikenal dengan nama The Red Door. Gereja tersebut melayani para tuna wisma dengan memberi makan, paket keperluan mandi, pakaian (kaos kaki, pakaian dalam dan luar), selain itu juga memberikan layanan perawatan kaki dan potong rambut. Mereka berfokus pada persaudaraan dan pengakuan akan martabat manusia.
Santo Andre Bessette, pelindung Gereja tersebut adalah seorang bruder awam Kanada dari Kongregasi Salib Suci. Ia lahir dari keluarga miskin, tidak lancar membaca, tubuhnya pun sakit-sakitan. Ia bekerja sebagai petugas kebersihan, dan kemudian sebagai penjaga pintu di Notre Dame College, Montreal, Kanada. Santo Andre terkenal sebagai 'Manusia Mukjizat dari Montreal' karena banyak kesembuhan ajaib yang dikaitkan dengan doanya melalui perantaraan Santo Yosef. Ia hanya tertawa mendengar julukan itu dan berkata, “Santo Yosef lah yang melakukan hal-hal ini, saya seperti kalian, hanya seorang pemohon.”
Marilah kita menanggapi secara positif ajaran Tuhan Yesus ini, dan biarlah Ia membentuk kita untuk memuliakan nama-Nya melalui perkataan dan perbuatan kasih.
Doa:
Tuhan Yesus, kasihanilah kami orang berdosa ini. Ajari kami untuk terus bersyukur dan bersandar kepada-Mu. Semua yang kami miliki berasal dari-Mu, dan hidup kami tidak berarti tanpa kehadiran dan penyertaan-Mu. Terima kasih Tuhan Yesus, terpujilah nama-Mu selama-lamanya. Amin.

Komentar
Posting Komentar