(Renungan) Seperti Apakah Tanah di Hatimu?

Seperti Apakah Tanah di Hatimu?
(Angelika Endang)

Yang ditaburkan di tanah yang baik artinya orang mendengar dan menyambut firman itu lalu berbuah, ada yang tiga puluh kali lipat, enam puluh kali lipat, dan seratus kali lipat.”
(Mrk. 4:20)

Kalender Liturgi Rabu, 28 January 2026
PW. S. Tomas Aquino, Imam dan Pujangga Gereja
Bacaan Pertama: 2Sam. 7:4-17
Mazmur Tanggapan: Mzm. 89:4-5.27-28.29-30
Bacaan Injil: Mrk. 4:1-20

Dalam Injil hari ini, Yesus mengajar dengan perumpamaan. Firman Tuhan seumpama benih yang ditaburkan seorang penabur dan hati manusia seumpama tanah tempat benih itu ditaburkan. Yesus menyebut empat kategori hati manusia, yaitu seperti tanah pinggir jalan, tanah berbatu-batu, tengah semak duri, dan tanah yang baik.

Yesus bermaksud agar para pendengarnya menguji hati masing-masing, termasuk hati kita orang percaya. Yesus ingin agar hati kita semua  seperti tanah yang baik dan subur, yaitu hati yang mempunyai 'telinga', mendengar firman-Nya dan berakar kuat; agar hati kita  menjadi 'hakim' atas perbuatan kita. Juga mampu menjadikan kita orang yang rendah hati dan berani menolak tawaran kemilau dunia.

Seperti cerita dari salah satu anak saya. Kurang lebih sepuluh hari belakangan ini, dia sulit tidur. Dia malu, sehingga banyak diam, merasa bersalah. Berawal dari sejumlah uang tunai, yaitu bonus yang diberikan oleh atasannya. Tanpa dihitung lagi, bonus itu dibawa pulang dan sempat disimpan beberapa hari di rumah. Dia tinggal bertiga serumah dengan istrinya (Nonik) dan bibi. Terpikir olehnya, uang bonus itu untuk melunasi sisa hutang KPR rumahnya dan masih ada sisa satu gepok.

Namun, ketika uang bonus itu dibawa ke bank untuk melunasi KPR rumah; ternyata jumlahnya tidak lebih satu gepok. Dia mulai curiga pada bibi, dia ungkapkan pada Nonik. Nonik menyarankan untuk menghitung ulang perincian yang dibuat suaminya. Ternyata dia lupa menghitung gajinya sendiri, yaitu senilai satu gepok uang yang disangka dicuri bibi. Dia malu karena berhati tamak; hanya karena segepok uang, hati menjadi kotor. Untungnya, dia belum menuduh bibi secara langsung. Wow! Sejenak batin ini terhenyak oleh ceritanya. Hatinya mampu menuduh diri sendiri, hatinya telah terasah, hatinya adalah tanah yang baik.

Marilah kita merenungkan, apakah tanah di hatiku adalah tanah yang baik?   

Doa:
Ya Bapa, Engkau sungguh Maha Baik. Engkau tidak kurang cara untuk mengajar hati kami. Kau buat hati kami 'bertelinga'. Kau mampukan hati kami untuk merespon benih yang Kau tanamkan dalam hati kami, sehingga berakar kuat dan nantinya dapat berbuah lebat seperti yang engkau inginkan. Karena hanya Engkau sajalah ya Tuhan, yang berdaulat penuh dalam kehidupan kami. Amin.  








Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Renungan) Peziarah Pengharapan

(Renungan) Warisan Berharga bagi Manusia