(Renungan) Yesus Kepala Gereja
Yesus Kepala Gereja
(M. Maria Novita)
Kalender Liturgi Minggu, 25 Januari 2026
Bacaan Pertama: Yes. 8:23b-9:3
Mazmur Tanggapan: Mzm. 27:1.4.13-14
Bacaan Kedua: 1Kor. 1:10-13.17
Bacaan Injil: Mat. 4:12-23
Memilih tetap setia dalam pelayanan, adalah salah satu perbuatan konkretku dalam mengucap syukur dan mempraktikkan iman. Meluangkan waktu mengerjakan tugas, berkomitmen hadir di jam-jam pelayanan, pertemuan, sudah menjadi rutinitas mudah dibandingkan menghadapi teman sepelayanan yang beraneka ragam karakternya. Teman-teman yang ramah, sopan, humoris, murah hati, tentunya lebih mudah dihadapi dibandingkan yang egois, emosional, indisipliner, termasuk suka mencela.
Paulus dalam bacaan kedua hari ini menghantarkanku untuk lebih memahami dan menerima setiap pribadi teman-teman yang harus kutemui, sekaligus membantuku memahami diriku sendiri. Ia menasihat demi nama Yesus Kristus, agar kita semua seia sekata dan jangan ada perpecahan di antara kita. Tetapi sebaliknya erat bersatu dan sehati sepikiran. Tidak ada penggolongan, pembedaan status, pembandingan, serta penghakiman.
Apakah Kristus terbagi-bagi? (1Kor. 1:13a). Paulus menekankan kesatuan dalam Kristus, walaupun ada perbedaan suku dan status. Setiap anggota memiliki karunia dan peran yang penting, tetapi menjaga agar jangan ada perselisihan, demi keutuhan tubuh Kristus jauh lebih penting. Ada tertulis: "Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya" (1Kor. 12:27). Berarti, Kristus adalah kepala dan kita semua adalah anggota tubuh-Nya. Kristuslah pemimpin utama, Sang Pemberi Hidup, sedangkan kita yang percaya dan mengikuti Dia, akan meneladani kehidupan-Nya.
Dalam sebuah rekoleksi yang bertemakan "Bertumbuh dalam iman, bersatu dalam pelayanan, dan bersaudara dalam cinta kasih", akhirnya kutemukan peneguhan iman setelah beberapa kejadian tidak mengenakkan dalam pelayanan. Dengan berlandaskan cinta kasih yang diajarkan-Nya, sesungguhnya kita semua adalah saudara. Sebagai saudara, masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Namun sepatutnya kita saling mengasihi, menerima, memperhatikan, dan saling melayani demi kemuliaan Allah.
Dengan demikian akan mengurangi kesalahpahaman, membantu memahami orang lain. Kita bisa semakin memahami diri sendiri, meningkatkan kepedulian dan empati, serta mencegah konflik berkepanjangan.
Sudahkah kita meneladani Santo Paulus dengan memberitakan Injil lewat hikmat perbuatan, bukan hikmat perkataan semata?
Doa:
Yesus yang baik, besar kasih-Mu yang telah memampukan aku membalas cinta-Mu dengan tetap setia melayani saudara-saudara seiman. Dengan berempati, aku pun menyadari hendaknya diriku juga lebih dulu selesai dengan diri sendiri dan keluarga, sebelum melayani lebih luas lagi. Terima kasih Tuhan Yesus, doakanlah kami St. Paulus. Amin.
(M. Maria Novita)
Apakah Kristus terbagi-bagi? Apakah Paulus disalibkan karena kamu? Atau apakah kamu dibaptis dalam nama Paulus?
(1Kor. 1:13)
Bacaan Pertama: Yes. 8:23b-9:3
Mazmur Tanggapan: Mzm. 27:1.4.13-14
Bacaan Kedua: 1Kor. 1:10-13.17
Bacaan Injil: Mat. 4:12-23
Memilih tetap setia dalam pelayanan, adalah salah satu perbuatan konkretku dalam mengucap syukur dan mempraktikkan iman. Meluangkan waktu mengerjakan tugas, berkomitmen hadir di jam-jam pelayanan, pertemuan, sudah menjadi rutinitas mudah dibandingkan menghadapi teman sepelayanan yang beraneka ragam karakternya. Teman-teman yang ramah, sopan, humoris, murah hati, tentunya lebih mudah dihadapi dibandingkan yang egois, emosional, indisipliner, termasuk suka mencela.
Paulus dalam bacaan kedua hari ini menghantarkanku untuk lebih memahami dan menerima setiap pribadi teman-teman yang harus kutemui, sekaligus membantuku memahami diriku sendiri. Ia menasihat demi nama Yesus Kristus, agar kita semua seia sekata dan jangan ada perpecahan di antara kita. Tetapi sebaliknya erat bersatu dan sehati sepikiran. Tidak ada penggolongan, pembedaan status, pembandingan, serta penghakiman.
Apakah Kristus terbagi-bagi? (1Kor. 1:13a). Paulus menekankan kesatuan dalam Kristus, walaupun ada perbedaan suku dan status. Setiap anggota memiliki karunia dan peran yang penting, tetapi menjaga agar jangan ada perselisihan, demi keutuhan tubuh Kristus jauh lebih penting. Ada tertulis: "Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya" (1Kor. 12:27). Berarti, Kristus adalah kepala dan kita semua adalah anggota tubuh-Nya. Kristuslah pemimpin utama, Sang Pemberi Hidup, sedangkan kita yang percaya dan mengikuti Dia, akan meneladani kehidupan-Nya.
Dalam sebuah rekoleksi yang bertemakan "Bertumbuh dalam iman, bersatu dalam pelayanan, dan bersaudara dalam cinta kasih", akhirnya kutemukan peneguhan iman setelah beberapa kejadian tidak mengenakkan dalam pelayanan. Dengan berlandaskan cinta kasih yang diajarkan-Nya, sesungguhnya kita semua adalah saudara. Sebagai saudara, masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Namun sepatutnya kita saling mengasihi, menerima, memperhatikan, dan saling melayani demi kemuliaan Allah.
Dengan demikian akan mengurangi kesalahpahaman, membantu memahami orang lain. Kita bisa semakin memahami diri sendiri, meningkatkan kepedulian dan empati, serta mencegah konflik berkepanjangan.
Sudahkah kita meneladani Santo Paulus dengan memberitakan Injil lewat hikmat perbuatan, bukan hikmat perkataan semata?
Doa:
Yesus yang baik, besar kasih-Mu yang telah memampukan aku membalas cinta-Mu dengan tetap setia melayani saudara-saudara seiman. Dengan berempati, aku pun menyadari hendaknya diriku juga lebih dulu selesai dengan diri sendiri dan keluarga, sebelum melayani lebih luas lagi. Terima kasih Tuhan Yesus, doakanlah kami St. Paulus. Amin.

Komentar
Posting Komentar